Indonesia
NovelToon NovelToon
IBU TIRI LUAR BIASA

IBU TIRI LUAR BIASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Tiri / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda / Cinta Murni
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: YoshuaSatrio

Karena tak tahan dengan desakan keluarga dan masalah yang bertubi menghimpit keluarganya, Sutami(28tahun) menerima pinangan Juragan Waluyo(45tahun), seorang duda kaya yang memiliki seorang putra dan dua putri yang berbeda watak.

Menjadi ibu tiri bukan impian Sutami, tapi demi menyelamatkan kehormatan keluarga dari stigma 'perawan tua pembawa sial', maka pernikahan pun dilangsungkan.

Mampukah Sutami menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu tiri?
Bagaimana cara Sutami menghapus stigma masyarakat tentang 'ibu tiri jahat?’

Mari berimajinasi bersama. Semua tokoh dan kejadian dalam cerita hanya sebuah karangan. Jika ada kebetulan yang dibetulkan, silahkan disalahkan kebetulannya yang disama-samakan.
Semoga semua berbahagia. —yosh—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STIGMA VS KEHILANGAN

Suara piring yang dibanting memecah keheningan ruang tamu.

“Gagal! Ditolak!”

Kuswara menghantamkan jas lamarannya ke sofa. Lelaki berusia dua puluh empat tahun itu berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah. Wajahnya merah padam. Di depannya, Mak Mia langsung terisak menutup wajah dengan kedua tangannya.

Bapak hanya diam. Rokok kretek di tangannya patah menjadi dua karena tangan renta itu terpaksa menahan gemetar.

“Bagaimana bisa, Nak?” tanya Mak Mia dengan suara bergetar. “Bukankah mereka sudah menerima?”

Kuswara tidak menjawab ibunya. Tatapannya justru menyambar ke sisi lain ruangan.

Ke arah dapur.

Di sana berdiri Sutami. Usianya dua puluh delapan tahun. Rambutnya diikat sederhana, mengenakan daster dan celemek. Di tangannya masih ada nampan berisi teh yang tidak jadi dihidangkan. Ia adalah kakak sulung Kuswara, seorang guru Taman Kanak-kanak.

“Ini gara-gara kamu, Mbak!” tuding Kuswara. Suaranya meninggi, penuh emosi. “Gara-gara ada perawan tua di rumah ini!”

Nampan di tangan Sutami bergetar. Setetes air teh tumpah, mengenai punggung tangannya, tapi ia tak menghiraukannya. mulutnya pun masih terkunci, seolah jengah dengan ucapan-ucapan pedas dari satu-satunya adik yang pernah dia biayai kuliahnya.

“Keluarga calonku bilang begitu!” lanjut Kuswara, dengan napas yang masih memburu. “Mereka bilang seperti ini, ‘Kami dengar Kakak Mas Sutami sudah dua puluh delapan tahun tapi belum menikah. Kami takut membawa sial ke keluarga kami’.” Bibir tipis pegawai kelurahan itu bergerak-gerak sinis menirukan ucapan ibu dari kekasihnya.

Kata sial itu menggantung di udara, menusuk tajam dan dingin ke dada Sutami.

“Kamu sudah dua puluh delapan, Mbak!” Kuswara melangkah maju. “Teman-temanmu sudah punya istri, sudah punya anak. Kamu? Pagi ngajar anak TK, sore pulang, terus diem di rumah! Gak laku! Dan sekarang gara-gara kamu, aku yang kena imbasnya!”

Sutami menunduk dalam-dalam.

Benar. Setiap pagi ia berdiri di depan kelas TK Anggrek, menyapa sepuluh anak didiknya dengan suara paling cerah, sabar, lembut dan dicintai anak-anak polos itu.

Namun setiap sore, ketika ia pulang ke rumah ini, semua kesabaran itu seolah hilang. Gajinya sebagai guru honorer tidak besar. Namun setiap bulan, sebagian besar ia serahkan. Untuk cicilan motor Bapak, dan untuk uang kuliah Kuswara yang sering nunggak.

Ia anak sulung. Ia perempuan. Dan di usia dua puluh delapan, ia belum menikah. Di lingkungan ini, itu adalah aib yang cukup untuk membuat satu keluarga merasa rendah diri.

“Kamu egois, Mbak,” kata Kuswara dengan nada merendah, namun menusuk. “Kamu betah jadi beban di sini, ya? Sampai-sampai adikmu sendiri susah cari jodoh!”

“Aku tidak pernah melarangmu menikah, Kus,” jawab Sutami pelan,menyembunyikan getir dari semua tuduhan.

“Tapi kehadiranmu yang melarang!” balas Kuswara.

Sutami tidak sanggup membalas lagi. Ia hanya menggenggam ujung celemeknya erat-erat,mencoba mencari kekuatan dari sana.

Malam itu, rumah terasa lebih sempit dari biasanya.

.

.

.

Di rumah lain, di sudut kota yang berbeda. Ada kehilangan besar, ada duka mendalam di hati seorang gadis kecil.

Sebulan yang lalu, Dara kehilangan sosok yang sangat dicintainya. "Ibu...." isaknya pilu menatap kosong keluar jendela yang tirainya hanya ia singkap sebagian kecilnya.

Dara, 8 tahun, duduk memeluk lutut di pojok kamar. Rasa kehilangan itu terlalu dalam menyakitinya.

"Bagaimana, Mbak? Dara mau makan?" tanya Waluyo di hari ke sepuluh setelah Nyonya rumah itu dipanggil Hyang Maha Kuasa.

"Cuma sedikit, Pak." Mbak Rini, pembantu yang sudah sepuluh tahun bekerja di rumah itu menjawabnya sambil menunduk takut. "Semakin hari semakin berkurang saja, nafsu makannya."

"Terimakasih, nanti akan aku panggilkan dokter." Waluyo menyelesaikan sarapannya lalu bergegas pergi bekerja setelah melongok putri bungsunya dari celah pintu yang sedikit terbuka.

Tapi, setiap kali melihat dokter datang dari jendela favoritnya, Dara akan cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.

Hingga seminggu terakhir, Dara tak mau keluar kamar. Piring-piring yang diantar pembantu selalu berakhir di lantai. Nasi, sayur, air putih, bahkan camilan kesukaannya dulu, hanya akan berakhir berserakan di lantai.

"Aku tidak mau makan!" teriaknya setiap kali pintu diketuk, bahkan belum sempat sang pengasuh masuk. "Aku cuma mau Ibu!"

Mbak Rini, hanya bisa menghela napas sambil membersihkan makanan yang jatuh. "Nak, makanlah sedikit saja, biar bude suapi, ya?" bujuknya lembut.

Dara memalingkan wajah, cepat. Matanya bengkak karena hampir setiap hari menangis.

Arka, kakak sulung yang berusia 26 tahun, mencoba cara berbeda. Ia duduk di lantai, membawa laptop, sambil pura-pura bekerja. "Dar, keluar yuk. Kita main PlayStation kayak dulu."

Tapi tetap tidak ada jawaban. Hanya suara isakan yang justru semakin menyesakkan.

"Kakak gendong ya?" tak habis akal Raka mencoba berbagai cara. Tapi lagi-lagi justru Dara semakin tak terkendali. Gadis kecil itu akan melempar apa saja yang ada di kamarnya.

Kinara, 18 tahun, anak kedua, datang dengan boneka kelinci kesayangan Dara. "Ini Lala kangen sama kamu. Ibu dulu yang pilihkan boneka ini, kau ingat?"

Dara merebut boneka itu dengan kasar, lalu melemparkannya ke dinding. "Bohong! Ibu sudah pergi! Ibu nggak sayang Dara lagi!"

Sore itu seperti biasa, Mbak Rini mengetuk pintu membawa nampan. Nasi hangat, telur dadar, dan sup ayam. Hidangan kesukaan Dara.

Mbak Rini membuka pelan pintu kamar Dara. "Dara!" teriaknya tanpa sadar meletakkan nampan dengan kasar, tepat di sebelah tubuh gadis kecil yang terkulai di lantai.

"Tuan! Tolong!" teriaknya lagi dengan lebih keras.

Raka berlari lebih dulu, disusul Kinara yang masih membawa sisir di tangan kanannya, dan paling terakhir muncul adalah Waluyo, ayah mereka.

"Kenapa, Bude?" tanya panik Raka.

Mbak Rini menggeleng cepat, sembari membaringkan tubuh ringan Dara di kasur. "Nggak tahu, Mas. Tadi masih duduk di sana, pas saya masuk sudah tiduran di lantai." Dengan nada khawatir dan mata berkaca-kaca, ia memjawab.

"Aku keluarkan mobil, kita bawa ke rumah sakit saja!" potong Waluyo dari ambang pintu. "Gendong Dara,, Rak!" perintahnya sambil berbalik cepat menuju garasi.

...****************...

Bersambung....

Author Tertawa lebar, tapi dengan ekspresi sedikit canggung, lalu berkata: "Ah, entahlah bakal jadi apa... Kalau suka nikmati saja ya."

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sabar Tami,jgn sampai kau jadi stres 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ga bisalah,
rasain tuh 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pengen ku lempar pk sendal tuh mulutnya 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
berpindah duduk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak aja, kamu hrs berusaha dari bawah
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kan salahmu sendiri, kenapa korupsi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan bikin gara" 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mau apalagi kamu 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara biasa makan cake 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
sembarangan 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ga sakit tuh tenggorokan Bu 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semua itu bukan salahmu Tami 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa ini jalan terbaik 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
bicarakan dengan kepala dingin 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dara dong 🤣
yosh—: 😮‍💨apesnya jadi author nggk ada yg dukung😁
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Waduh jgn berantem diluar, malu sama tetangga 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!