Indonesia
NovelToon NovelToon
Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Istriku Mantan Pembunuh Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Di rumah dia hanyalah ibu rumah tangga biasa, wanita lembut yang sayang anak dan cekatan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Namun, bagaimana bila ternyata dia menyimpan rahasia yang tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

#2

Pukul 02.00 dini hari. 

Mobil yang dikemudikan Zion tiba di rumah, ia membawa oleh-oleh seadanya untuk para security yang berjaga di sekeliling rumah mewah tersebut. 

Ketika di luar, ia berjalan santai selayaknya bos yang dihormati bawahan, namun, begitu langkah pertamanya memasuki rumah, sebisa mungkin ia tak membuat gerakan yang menimbulkan suara. Bahkan pada saat ini menghembuskan nafas saja Zion tak bisa leluasa. 

Komandan pasukan khusus adalah jabatannya di luar rumah, namun, di dalam rumah, komandan yang sesungguhnya tetap Lizie, sang istri. Lizie bukan istri yang suka neko-neko, bukan juga  istri yang galak, ia hanya seorang ibu rumah tangga tulen. Namun, Zion tetap tak berani sembarangan pada istrinya, apalagi ia baru saja melanggar janjinya pagi tadi untuk pulang tepat waktu. 

Hanya terlalu bucin, begitulah bahasa viralnya. 

Zion sudah melepas sepatunya sebelum masuk ke rumah, dan menutup pintu sepelan mungkin, haqqul yaqin tak ada suara. Langkah kakinya tetap mengendap sambil berjinjit, di tengah gelapnya ruangan di dalam rumah. Berharap semoga tak ada mainan Zea yang masih tercecer, bayangkan bila tak sengaja terinjak, bisa heboh seantero rumah. 

Klek! 

Tiba-tiba lampu malam menyala, padahal hampir saja tangan Zion menggapai pintu kamar. Pria itu memejamkan kedua matanya sejenak, paling tidak menyusun kalimat sebelum memberikan penjelasan. 

“Sayang, kok, belum tidur?” sapa Zion pada akhirnya, senyumnya semanis gula kapas rambut nenek menghiasi wajah tampannya, berbeda jauh dengan wajahnya beberapa jam yang lalu, saat dengan garang menghajar para mafia yang memperdagangkan senjata ilegal. 

“Menurutmu?” jawab Lizie datar. 

Wanita itu bangkit dari kursi yang sejak satu jam lalu menjadi tempat duduknya. Masih dengan tangan terlipat bersilang di depan dadanya. 

“Maaf— tadi itu mendadak sekali—” ujar Zion, sambil tetap membuntuti istrinya menuju dapur. 

Lizie berbalik cepat saat merasakan tubuh suaminya menempel di punggungnya, sebentar lagi, Zion pasti mengeluarkan rayuan maut yang biasanya ia pakai untuk membujuk dirinya. “Jangan mengikutiku!” 

Wajah Zion berubah cemberut, kedipan puppy eyes-nya sungguh memelas, seperti pria tanpa daya bila di depan sang istri. “Kenapa?” 

“Mandi sana, baru makan!” perintah Lizie tenang, namun, cukup tegas di telinga Zion. 

“Tapi cium dulu,” pinta Zion, kembali memasang wajah memelas, kedua tangannya meremas pinggul Lizie dengan gerakan sensual, hingga perut dan dada mereka menempel tanpa jarak sedikitpun. Yang mana biasanya gerakan lembut itu membuat Lizie pelan-pelan menyerah pada rayuan Zion. 

Tepat sebelum Zion menyambar bibir istrinya, wanita itu menempelkan kedua telapak tangannya di dada Zion. “Ada bau asap senjata, dan bau keringat perkelahian, kamu tahu aku tak suka, kan?” 

Zion mendesah pasrah, dan berlalu pergi meninggalkan istrinya yang sedang menyiapkan hidangan makan malam untuknya. 

•••

Usai mandi dan makan malam, akhirnya Zion bisa berbaring di ranjangnya yang nyaman. Tadi ia pergi ke kamar Zea bermaksud memberikan ciuman selamat malam, tapi Lizie bilang, Zea dibawa ke paviliun kedua orang tuanya untuk menginap di sana. Syukurlah, jadi sekarang tak ada gangguan untuk mereka yang ingin segera merealisasikan program anak kedua. 

Zion melirik miris ke sisi kanannya, Lizie berbaring dengan posisi memunggunginya, sepertinya wanita itu masih ngambek perkara Zion yang terlambat pulang untuk makan malam bersama, di acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. 

Sebenarnya Zion yakin, itu bukan masalah besar bagi kedua orang tuanya, karena saat muda dulu Daddy Danesh pun demikian, seringkali tak ada dirumah saat ada momen penting di keluarga mereka. Tapi bagi Lizie, sepertinya ini adalah masalah besar yang menghancurkan mood-nya, hingga dampaknya Zion sendiri yang merasakannya. 

Tak ada senyum manis, tak ada sapaan hangat, serta pelukan disaat tidur. Untung saja makan malam masih disiapkan. 

Zion berguling, merapat semakin dekat lalu merangkulkan lengannya di pinggang Lizie. “Apaan, sih, gerah tauk,” tolak Lizie, sekalian menyingkirkan lengan Zion. 

“Kan, aku sudah minta maaf—”

“Maafmu nggak berlaku,” jawab Lizie cepat, tanpa menunggu Zion menyelesaikan ucapannya. 

“Tadi itu sungguh mendadak, kamu pasti tak percaya, aku mendapat telepon di detik-detik terakhir jelang pukul sembilan— Padahal transaksi dijalankan pukul sepuluh malam, jadi aku dan pasukanku bersiap lalu meluncur ke lokasi transaksi senjata— Untung saja kami tepat waktu, dan bam! Bam! Buk! Buk! Kami berhasil melumpuhkan mereka.” 

Zion sangat bersemangat menjelaskan apa yang baru saja ia alami, hingga ia menambahkan efek suara, serta beberapa kali gerakan menendang dan meninju ruang kosong di udara. 

Lalu tanggapan Lizie? 

Wajahnya tetap datar, biasa saja, sebab ini bukan kali pertama. Dulu pun begitu, bahkan Zion lupa hari ulang tahun putri mereka, hingga Zea ngambek dan rewel sepanjang malam. 

“Begitu, Sayang.” 

Kepala Lizie bergerak menoleh ke belakang, namun, tidak demikian dengan tubuhnya. “Sudah malam, aku lelah, dan bosan mendengar ocehanmu, istirahatlah.” 

Krek! 

Pyar! 

Hati Zion serasa pecah berkeping-keping, “Sayang— apa kau tak mempercayai suamimu lagi?” tanya Zion dengan suara lirihnya. 

Lizie malas menanggapi, ia menutup kepalanya dengan selimut, namun, dengan sigap Zion menahan benda tersebut. Gemas rasanya melihat sang istri berwajah ketus tanpa senyum sedikitpun. 

“Ah! Zion, lepas! Aku sedang ngambek!” pekik Lizie di tengah aksi gencar sang suami yang tiba-tiba melucuti piyama yang melekat di tubuhnya. 

“Lanjutkan saja ngambeknya, sebagai gantinya kamu juga tak boleh melarangku melakukan hal yang paling aku sukai saat bersamamu,” kata Zion dengan suara parau berkabut gairah. 

Ini adalah satu-satunya cara agar ia bisa meluluhkan istrinya, dengan kegiatan bertukar peluh, melebur dalam satu desah penuh kenikmatan. 

Semakin lama, suara penolakan Lizie semakin tenggelam ditengah hasratnya yang mulai terpancing akibat ulah brutal suaminya yang meraup bibirnya tanpa ampun. Tak hanya bibir, bahkan kedua tangan pria itu kini leluasa bebas bergerilya mengusap, meremas, memijat dengan gerakan sensual hingga sang istri mendesah nikmat. 

Aura-aura mesra mulai melingkupi mereka, tak akan ada pertengkaran yang berlangsung lama bila ditutup dengan adegan romantis semacam ini. Penat, stres, ngambek, auto hilang berganti dengan rasa nikmat luar biasa. 

“Hmmh— pe-lan-pelan—” rintih Lizie. 

Zion menyeringai, “Sejak kapan aku bermain pelan? Tidak akan pernah!” jawab Zion, ia tetap bergerak cepat, penuh kendali, mengabaikan protes dari sang istri. 

“Kamu menikmatinya, kan? Aku tahu, karena aku sangat mengenal tubuhmu, shhh— aahh—” sambung Zion, yang ikut mendesah di sela pergulatan mereka. 

Beberapa menit berlalu, saat keduanya hampir mencapai puncak nirwana, suara tangis anak mereka tiba-tiba terdengar. 

“Mama! Huaa! Mau tidul ama Mama!”

Brak! 

Brak! 

Brak! 

“Zea!”

Suara gedoran di pintu membuat Lizie panik, hingga dengan kekuatan penuh wanita itu mendorong tubuh suaminya hingga tubuh mereka terpisah secara mengenaskan. 

“Sayang—” erang Zion frustasi, karena belum sempat menyelesaikan aktivitas mereka. 

“Zea bangun, aku yakin di depan kamar ada Mommy dan Daddy juga,” jawab Lizie, wanita itu buru-buru mengenakan kembali piyama terusannya. 

Gerakannya sungguh lincah dan gesit saat mengumpulkan pakaian tidur Zion yang berserakan di lantai. “Pakai bajumu!” bisik Lizie tegas dan mata yang melotot, seolah-olah mereka pasangan selingkuh yang sedang takut ketahuan. 

Zion membiarkan istrinya membuka pintu, sementara dirinya pergi ke kamar mandi, gairahnya yang masih menyala, dipaksa padam semena-mena. Kini ia harus berusaha mendinginkan kembali hasratnya yang terputus padahal tadi hampir tiba di tempat tujuan. 🤣🤣

“Sial!” gerutu Zion sambil menatap miris benda tumpul kesayangannya. 

Dari kamar mandi, Zion mendengar sang istri sedang bicara sejenak dengan mommy dan daddy-nya, lalu berusaha menenangkan Zea yang rewel. 

Di bawah guyuran air dingin, Zion kembali mengingat peristiwa beberapa saat yang lalu. Dimana Lizie dengan kedua tangan lembutnya, mendorong tubuh kekar Zion hingga tubuh mereka terpisah, setelah bergulat beberapa saat. 

Setelah itu, Lizie bisa melompat dengan cepat dari pembaringan, kemudian meraih  piyamanya dengan ujung jempol kakinya, sementara kedua tangannya menggulung  rambutnya dengan cekatan. 

Setelah itu, barulah Lizie mengumpulkan pakaian tidur Zion. Gerakannya yang cepat, seperti bukan karena faktor kebetulan, tapi sesuatu yang sangat kuat dan terlatih. 

Bukan hanya sekali dua kali, tapi sering kali Zion melihat sang istri terlalu lincah dan gesit, kadang sangat jeli mengenali situasi berbahaya. Suara mencurigakan dari luar gerbang, yang bagi sebagian orang -mungkin saja kucing, mungkin saja daun tertiup angin- namun, bagi Lizie sama seperti alarm tanda bahaya. 

Tapi, ah, mungkin itu hanya pemikiran Zion saja. Karena sang istri hanyalah ibu rumah tangga biasa, yang sehari-hari hanya disibukkan dengan urusan rumah serta anak mereka. Jadi ia terlalu mudah curiga, sementara Mommy Dhera yang mantan agen rahasia saja, tak pernah menaruh curiga. 

1
Bunda Idza
ya Allah.... deg degan ini....tanda masih hidup ya kan....kenapa bisa kecolongan??? mommy Dhera. Daddy Danesh....😭😭😭 piye Iki.....
moon: sek, belum tahu aja mereka.

edisi salah pilih lawan. 🤭
total 1 replies
Dozky 2 Crazy
hmmmm ternyata siAlan pelakunya
Dozky 2 Crazy: wkwkwk galau kenapa author
total 4 replies
Dozky 2 Crazy
aduh siapeeee nih
Shee_👚
hadeh zea bakalan jadi sandera buat lizie keluar. kalian dah membangunkan singa tidur😏
Shee_👚: gak sabar nungguin para2 macan keluar kandang semua😂
total 2 replies
Dozky 2 Crazy
makanya jgn macem macem yeee😁😁
Dozky 2 Crazy
sama yaa Zea mama sama papa lagi maen tembak tembakan dulu
Shee_👚
betul zion, kamu bawa lizie kembali jangan sampai ramanov menemukannya
Shee_👚
kami sendiri aja ngeri liatnya apa lagi musuh² nya yang dah ketar ketir. kamu beruntung dah nikah sama lizie, tapi jangan sampai kamu berbuat hal² aneh kalau gak mau kena dorr😂
vania larasati
lanjut
Shee_👚
jelas lah, pengawal bukan sembarang pengawal🤣
Dozky 2 Crazy
aseeli kepo 😁😁
octa❤️
🫶🫶🫶🫶
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
Thor..ini si mantan cadelita Mak ilang GK bisa ciat ciat beladiri kah??🤭🤭
moon: sek lahaciya 🤭👻
total 1 replies
falea sezi
mertuanya gimana nunggu bocil satu aja g bs 😒 nambahin beban. aja ne katanya bekas mafia 🤣🤣 alah pret
moon: nah, begitulah... mereka boleh para paruh baya, tapi pada jamannya mereka adalah...

ingat kalimat Eyang Juna. keluarga geraldy adalah keluarga dengan spek separuh mafia. 👻👻👻👻
total 3 replies
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
kok blm nambah up mb moon?
hasana
👍👍👍👍
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
keren 👏🏻👏🏻👏🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Wah kamar Lizzie 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 🤤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Ngikut dong 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!