Aini gadis berusia 16 tahun. Dia gadis yang ceria. Aini menjalani masa remajanya dengan tawa. Bukan berarti duka tak pernah menyapanya. Aini hanya tak tahu cara menyuruh duka itu bisa mengganggu hari-harinya.
Aini remaja lalu jatuh cinta pada lelaki gurauannya. Cinta main-mainnya menjadi bukan main-main.Dia akhirnya memberi lelaki itu gelar "Dia Kekasih Senjaku."
Hingga suatu masa cinta terperangkap dalam hatinya dalam bentuk duka. Aini muda mulai merasa duka kerap menyapanya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aricha Businnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raimon Mendekati Aini
"Aini," panggil Raimon. Raimon menunggu di pintu gerbang depan sekolah. Aini dan cs sering lewat gerbang depan.
"Bentar ya," Aini pamit pada temannya. Aini dengan santai menuju ke mobil Raimon.
"Pulang sama kakak ya."
"Malas ah," jawab Aini cuek.
"Kenapa?"
"Tuh, the geng lagi menanti. Lagian lebih enak nongkrong bareng the geng," tunjuk Aini ke arah temannya.
"Bagaimana kalau kakak ajak nongkrong bareng makan di kafe?" Tawaran Raimon terdengar menarik oleh Aini.
"Serius? Kami semua kuat makan. Apa nanti kakak gak bangkrut?" tanya Aini tanpa ada niat menyepelekan.
"Tidak, tenang saja."
"Bentar ya, Ai tanya mereka."
"Ok, kakak tunggu ya."
Aini kembali ke tempat temannya menunggu. Tanpa dia tahu atau Raimon tahu, Rama sudah ada di dalam mobilnya. Rama memperhatikan Aini kembali pada temannya. Satu senyum membentuk di bibirnya.
"Kak Raimon mau traktir kita di kafe, mau?" tanya Aini dengan ceria.
"Kita semua?" Lani tak bisa menutupi rasa herannya.
"Iya, kita semua. Mau? Kalau iya cepat kasihan dia nunggu lama."
"Boleh juga tuh, kebetulan kita belum makan siang tadi di kantin," jawab Mayar yang memang tidak terlalu banyak basa-basi. Ovezhi hanya bisa nurut begitu juga dengan Yuna.
Mereka berlima kembali ke mobil Raimon. Membuat senyum Rama hilang. Rahangnya mengeras.
Aini masuk dan duduk di samping Raimon. Menambah dada Rama terbakar api cemburu. Dia yang memberikan peluang, kini dia pula yang uring-uringan.
Mobil mulai melaju. Raimon menyetir dengan tenang. Tanpa dia sengaja, ketika melirik ke kaca spion, dia melihat mobil Rama di belakangnya. Raimon tersenyum tipis.
"Kak, sudah kenal dengan mereka-mereka?"Aini memutar telunjuknya menunjuk teman-teman di belakangnya.
Raimon tidak ada yang kenal satupun. Raimon juga tidak begitu banyak berinteraksi dengan adik kelasnya ketika ospek berakhir. "Maaf, kakak belum kenal."
"Ohh ya sudah, nanti saja kenalan saat di kafe." Aini kemudian kembali diam. Dia sejenak melihat ke belakang ke arah teman-temannya. Aini mengedipkan mata. Meminta teman-temannya sabar. Aini melihat temannya pada cemberut. Mereka pasti merasa kesal, karena hanya mereka yang mengenal Raimon, sementara Raimon hanya mengenal Aini.
Raimon sempat berdebar. Dia menyangka Aini akan menyadari ada mobil Rama di belakang mereka. Rama masih mengikuti. Rama memang tidak peduli Raimon tahu apa tidak. Namun Insan Aini tetap gadis acuh tak acuh. Pandangan dia fokus dengan temannya.
"Kak, mobil Kakak seperti di kuburan," celetuk Aini.
"Maksudnya?"
"Sepi," Aini menjawab singkat.
"Ohhh, kalian saja yang ribut kalau begitu." Raimon mempersilakan mulut-mulut yang telah kebas karena berdiam diri.
"Boleh Kak?" tanya Mayar yang memang lebih berani.
"Boleh, biasa kalian juga sepanjang jalan kakak lihat meribut." Raimon padahal tahu dari Rama.
"Hahaha, Kakak memantau kami ya?" jawab Lani kemudian.
"Iya jangan bilang Kakak lagi memantau Aini," Mayar kembali nimbrung.
Raimon menyesal memberi izin geng anak naga ini. Raimon cepat menguasai keadaan. Dia berkata, "Iya, soalnya Aini biang rusuh."
Walau nadanya penuh canda, Aini tidak terima. "Apa Kakak bilang?"
"Aini biang rusuh." Raimon dengan santai mengulangi.
"Baik-baik Kakak ya. Kalau biang rusuh, kenapa juga Kakak ajak aku dan kawanku."
"Karena Kakak ingin ada teman nongkrong. Kakak bosan."
"Kalau bosan, kenapa tidak ajak kak Rama. Bukankah Kakak sangat dekat dengan dia."
"Tambah bosan. Dia seriusan. Kakak perlu kalian yang biang rusuh." Raimon dengan bijak memakai kata 'kalian' agar teman-teman Aini tidak canggung.
"Aini sama Lani tuh Kak yang biang rusuh," kata Mayar menuding hanya gurauan semata.
"Ngaca sini, emang kamu tidak." Aini menunjuk kaca spion tengah mobil Raimon.
"Entah tuh, padahal dia biang rusuhnya," jawab Lani kembali.
"Mana suara nyaring. Badan kecil suara melengking ke langit tujuh." Aini masih mengusik Mayar.
"Sama saja kalian bertiga. Suara pada nyaring. Dua teman kalian lagi sudah turun ya," canda Raimon sambil tersenyum melihat ke kaca spion.
"Ohhh kalau yang berdua ini mending diam Kak." Mayar kembali buka suara.
"Kenapa?"
"Sekali bicara macam pisau siap di asah Kak." Jawab Mayar. Bukan hanya tawanya yang terdengar, tetapi jerit kesakitannya juga terdengar. Mayar sudah pasti di cubit Ovezhi. Ovezhi memang pendiam. Akan tetapi tidak berlaku dengan tangannya. Ovezhi jika gemas juga suka mencubit bahkan memukul temannya.
"Rasain, pasti kau kena cubitan maut Ovezhi." Aini mendukung tindakkan Ovezhi.
Raimon menyadari apa yang di bilang Rama. Baginya Aini jadi jauh menarik berada di tengah teman-temannya. Jika Aini lagi sendiri, Raimon hanya melihat Aini yang acuh dan terkesan pendiam.
"Mungkin ini ya Ram, yang membuat kau tidak memaksakan kehendakmu. Kau cukup paham dengan Aini. Tetapi kepahaman dan ketulusan tidak bisa mendapatkan gadis ceria ini." Raimon membatin. Dia mulai membelokan mobilnya ke parkiran kafe. Raimon melirik sekilas. Terlihat Rama terus melajukan mobilnya. Rama tidak mengikuti ke kafe.
Saat mau keluar dari mobil, Raimon mengenalkan diri pada teman Aini. Kini Raimon telah duduk di samping Aini, "Kalian mau pesan apapun, silahkan. Jangan sungkan. Anggap hari jadian kakak dengan Aini," ungkap Raimon canda-canda serius.
"Mimpi apa aku semalam di taksir pria keren." Aini tanpa ada salah tingkah malah memuji Raimon.
"Uhh dasar gadis sableng. Separoh ditembak saja gak mempan." Raimon berkata-kata dalam hati.
"Kakak mau saingan sama kak Rama?" tanya Mayar dengan berani.
"Memangnya kak Rama suka sama Aini?" tanya Raimon pura-pura bodoh.
"Iya, tapi ini ratu gombal acuh saja." Lani buka suara.
"Ratu gombal?" tanya Raimon mengernyitkan alisnya.
"Diam gak!" tegas Aini memberikan tatapan tajam pada Lani dan Mayar.
"Emang Aini gombali siapa?" Sambil menunggu pesanan, Raimon mendesak Lani.
"Itu, siswa berseragam dinas." Mereka tak peduli pada tatapan membunuh Aini. Mereka berempat tergelak.
"Ohhh, Aini lagi suka seseorang ya?" selidik Raimon. Tak ada rasa cemburu tak ada rasa sakit hati. Rasa penasaran yang lebih besar.
"Kalau mau suka, mending aku suka Kakak saja. Bisa jumpa tiap hari." kata Aini tanpa banyak berpikir.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita jadian saja. Selagi ada saksi cantik manis ini." Raimon menunjuk teman-teman Aini.
"Iya Ai, jadian sama kak Raimon saja. Dari pada ntar di ganggu siswa kedinasan itu," Ovezhi pandai pula mengompori.
Raimon tersenyum, ternyata berada di tengah adik-adik kelas yang tomboi-tomboi ini mengasyikan juga.
"Gimana Ai?"
"Kakak kira jadian itu bisa main-main."
"Buat Ai apa yang tidak."
"Trus nanti kalau sudah jadian mau ngapain?"
"Jalan bareng, kantin bareng pulang bareng, tidur saja yang gak bisa bareng," jawab Raimon ikutan asal.
"Trus teman-teman Aini bagaimana? Gak ah bisa sepi mereka nanti tanpa Ai. Ya kan?" tanya Ai pada teman-temannya.
"Sekali-sekali jangan pulang sama kak Raimon kan bisa," Mayar ngasih saran tengilnya.
"Sudahlah jangan aneh-aneh. Mending makan," ucap Aini.
💕💕💕
bagus ceritanya, suka sekali thor. Makasih