Liana merupakan gadis manusia setengah ular, dia hidup di tengah.hutan belantara yang jarang di kunjungi manusia. Hutan itu terkenal sebagai hutan yang terlarang.tidak ada seorangpun penduduk yang berani untuk masuk ke dalamnya, itu karena cerita jaman nenek moyang mereka prihal hutan tersebut.
Liana yang awalnya hanya iseng ingin pergi mencari makan di tepi sungai yang berada di dekat sebuah perkampungan . tidak sengaja melihat manusia tampan yang sedang membersihkan peralatan kebun.
mulai saat itu, Liana selalu membuntuti kemanapun lelaki itu pergi.
Baru saja cinta itu tumbuh di hatinya, Liana harus patah hati saat mengetahui lelaki yang dicintai nya pada pandangan pertama ternyata sudah lebih dulu mencinta wanita lain.
Liana sedih, kecewa dan merasa rendah diri. Dia sadar, dirinya tidak lebih baik dari wanita itu. Apalah liana ini yang makhluk tak jelas. Manusia bukan, ular sejati juga bukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naely taufiqoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkurung di gudang balaidesa
"Benar juga yang dikatakan Dimas, kampung kita akan semakin dalam bahaya jika kita membunuhnya sekarang". kata Mugi teman Doni.
"Sebaiknya kita kurung saja manusia ular ini" usul Pak Darso.
"Setuju" ucap Mugi dan yang lain.
"Kita bawa ke gudang belakang balaidesa yang sudah tidak terpakai, biar nanti yang jaga tugas Ronda berikutnya hanya di bagi saja yang biasa 4 orang jadi dua orang, sisanya jaga di balaidesa" kata Pak lurah .
"Setuju pak" kata mereka kompak.
Akhirnya siang itu, Aku di bawa para warga ke balaidesa untuk mengasingkanku disana.
Aku diam tanpa melawan saat semua tubuhku terikat dengan tali berukuran besar. bahkan ekorku pun terikat lebih kuat dari tubuhku, mungkin mereka tahu kekuatanku tertumpu pada ekorku ini.
Siang ini matahari tidak begitu terik tertutup awan yang sedikit gelap. aku menatap satu-persatu warga yang berdiri di depan rumah mereka memperhatikanku dari sana, mata mereka menatapku tanpa berkedip. bahkan anak-anak berlarian mengikuti segerombolan orang yang membawaku.
Suara bisik-bisik mereka yang membicarakanku bisa ku dengar dengan jelas.walau jarak kami jauh, namun.pendengaranku ini sangat baik dan tajam, sangat mudah menangkap suara sekecil apapun.
"lihat itu, katanya dia di temukan di rumah Dimas".
"Wahh,ada hubungan apa ya dimas dengan manusia setengah ular?"
"Jangan-jangan si dimas menyembahnya untuk meminta kekayaan, kaya di tivi-tivi itu loh"
"Ga mungkin lah dimas begitu bu, dia itu lelaki baik, suka menolong, sopan lagi"
"Namanya juga kepepet bu,mana tau kan dimas lagi oleng".
" hust, jangan gitu. mungkin manusia setengah ular itu memang suka sama si kasep dimas"
itu lah bisik-bisik yang Aku dengar, ya walaupun masih banyak lagi yang mereka katakan.aku memilih memejamkan mataku saja, kedua tangan aku tutup dengan kain yang menutupi rambut dan wajahku.
Di belakang orang-orang yang membawa Lian, Dimas berjalan mengikuti warga begitu juga Ririn .tangannya masih menggandeng tangan Dimas.
saat melewati pos keamanan langkah mereka terhenti .suara tegas seorang lelaki menyapa mereka dan bertanya tentang apa yang mereka bawa.
"Kalian mau pada kemana, Darso ,Doni ,ehh.ada pak lurah juga? trus yang lain itu bawa apa?" tanya pak Ajiz yang pagi itu membawakan kopi dan gorengan hasil karya istrinya untuk di bagikan kepada warganya yang sedang berkumpul ,tak lupa Ben dan Leo juga berada disana.
" Ini, kami menemukan Manusia setengah ular di rumah nya dimas" jawab Pak Darso .
mungkin karena mereka yang bergerombol membuat pak ajiz dan yang lain tidak bisa melihat Lian dengan jelas .apa lagi jarak mereka juga sedikit jauh dari jalan.
"masa, mana saya pengin lihat" kata pak ajiz yang kurang percaya.
akhirnya anak- anak dan beberapa orang yang mengikuti mereka sedikit memberi celah untuk pak ajiz melihat apa yang mereka bawa.
mata pak ajiz membulat sempurna melihat Lian yang masih memejamkan kedua matanya . entah dia tidur apa sedang berpura-pura tidur.
dari arah belakang pak ajiz yang lain juga menyusul dan melihat Lian takjub.begitu juga Ben dan Leo.
DEG
Mata Leo membulat menatap Lian yang cantik dan _ekor??
"Sepertinya kami tidak bisa berlama-lama disini, kami harus segera membawanya ke balaidesa, kalau kalian ingin ikut silahkan, tugas kami masih banyak" ucapan pak lurah yang tiba-tiba, membuat mereka segera melakukan kembali tugas mereka masing-masing.
Lian kembali di bawa oleh warga ke arah dimana balaidesa berada.
di belakang sana pak ajiz , ben,leo dan yang lainnya masih menatap kepergian rombongan pak lurah.
Pak ajiz yang ketua RT disana memang belum tahu perihal tertangkapnya manusia ular itu, karena niat Doni yang awalnya ingin memberi tahukan justru batal dan memilih untuk memberitahu ke pak lurah langsung.
"Kenapa aku merasa tidak asing dengan sosoknya?" ucap Leo lirih namun ben yang berada di sampingnya malah menoleh ke sahabatnya itu.
"Maksud loe?".
" Entahlah, aku merasa tidak asing saja" kata Leo yang berbalik badan untuk kembali ke pos.
Ben yang masih bingung mengejar Leo untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
***
Aku menatap sekeliling, ruangan yang tidak begitu luas, gelap dan pengap.
Beberapa menit lalu, warga menurunkanku di ruangan ini mereka pergi dan mengunciku disini.
Aku sempat menatap sayu Dimas yang berdiri diam di ambang pintu saat aku di turunkan di lantai yang dingin.
Mata itu menatapku tanpa aku tahu apa arti tatapan dimas, di sela pintu yang perlahan akan tertutup aku melihat jelas, Ririn yang menarik lengan dimas untuk pergi dari sana. entah apa yang kemudian terjadi aku tidak dapat mengetahuinya lagi karena pintu sudah tertutup rapat dan di kunci dari luar.
"Huuuh, Baiklah, kali ini lebih baik aku mulai bersiap diri. jika benar, ada makhluk sepertiku yang sedang mengganggu para warga disini pasti dia sangat kuat, aku lebih baik menghemat tenaga dan energiku".
Aku mulai memejamkan kembali mataku, untuk fokus pada tenaga dalamku, memusatkan fikiran dan hatiku agar berpusat pada titik kekuatanku.
Sebelum aku memulai ke tahap inti, aku memilih untuk memanggil satu temanku agar bisa menemani dan menjagaku.
"Teman, datanglah" ucapku masih dengan mataku yang tertutup.
selang beberapa menit asap putih datang dari celah bawah pintu dan sosoknya terlihat . seekor ular yang panjang dan berukuran kecil, di kepalanya mirip sebuah cincin berwarna kuning.
ular kecil itu tak lain adalah teman baru lian yang selama ini menempati rumah dimas dan bersembunyi di balik gentong dapur.
"Kau memanggilku? ada apa?" tanyanya.
" Jaga aku, aku ingin berlatih" jawabku yang langsung fokus.
"Baik Lian" jawab nya yang langsung membuka mulutnya lebar, asap putih langsung keluar dari mulut ular kecil itu hingga asap-asap putih itu menyebar ke seluruh ruangan .
ruangan yang gelap itu kini berubah menjadi ruangan yang di lapisi warna putih seperti sebuah awan putih. tubuh Lian yang seperti duduk diatas ekornya yang melingkar perlahan melayang dan mendarat tepat di lapisan putih yang temannya buat.
Di tengah kening Lian ada batu kecil berwarna kuning keemasan bersinar.
smngt🥰🥰
Jagan lama off Thor
ceritaxa seru