Indonesia
NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMUNISI CINTA DAN DRAMA KAMPUS

Ziva Adriana tidak pernah mengenal kata menyerah.

Baginya, penolakan tajam Gibran di bawah guyuran hujan deras tempo hari bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bunyi peluit panjang tanda dimulainya babak kedua.

Jika taktik "cewek manis" tidak mempan dan taktik "provokatif" hanya membuatnya dianggap sebagai bocah yang sedang tantrum, maka Ziva harus beralih ke strategi yang jauh lebih gila: 'Taktik Infiltrasi Emosional.'

"Ziv, lo beneran mau ngelakuin ini?

Ini udah bukan level 'cegil' lagi, Ziv.

Ini udah masuk kategori kriminal psikologis!" Keyla memijat pelipisnya yang mendadak pening saat menyaksikan apa yang dibawa Ziva di dalam tas ransel besarnya.

Di atas meja kaca kafe, Ziva sedang sibuk merapikan sebuah keranjang rotan estetis.

Di dalamnya tersusun rapi botol-botol jamu tradisional penambah stamina, handuk kecil yang sudah disemprot aroma aromaterapi relaksasi, serta beberapa buku jurnal strategi militer tua bercover kulit yang ia beli dengan harga fantastis dari seorang kolektor antik.

"Gibran itu kaku dan dingin karena dia kerasa nggak ada orang lain yang bisa ngurus dia selain dirinya sendiri, Key," ujar Ziva dengan nada penuh keyakinan sambil memoleskan lip tint berwarna koran lembut di bibirnya.

"Gue mau tunjukin ke dia kalau gue bisa jadi tempat 'pulang' yang dia butuhin.

Ya... meskipun cara masuk gue agak sedikit bar-bar."

"Tapi kenapa harus pakai seragam perawat cadangan militer yang lo sewa dari studio kostum ini?" Keyla menunjuk sestel pakaian perawat bergaya vintage yang tersampir rapi di sandaran kursi.

"Biar aura pengabdian dan ketulusannya dapet, Key!

Gue mau tembus ke markas lagi, tapi kali ini sebagai relawan kesehatan medis.

Gue tahu dari cerita Papa semalam kalau hari ini ada agenda pemeriksaan kesehatan berkala untuk para perwira di unitnya Om Gibran," Ziva menyeringai licik, menampilkan binar mata penuh kemenangan.

Keyla hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Sahabatnya ini benar-benar telah kehilangan kompas kewarasan demi menaklukkan sang Letnan Jenderal.

Namun, sebelum misi infiltrasi nekat itu dimulai, Ziva harus menyelesaikan satu rintangan menggebu-gebu yang merusak suasana hatinya di kampus: Kevin.

Anak Dekan Fakultas Hukum yang merasa seluruh galaksi berputar di sekeliling jemarinya itu rupanya tidak dibekali kemampuan untuk memahami arti kata "tidak".

Siang itu, kantin utama Fakultas Hukum mendadak riuh rendah.

Kevin berdiri di atas salah satu meja makan kayu dengan sebuah mikrofon di tangan, diiringi oleh empat anggota band akustik kampus yang memainkan lagu romantis paling ceng tahun ini.

Di sekeliling meja, puluhan mahasiswa bersorak-sorai sambil mengacungkan mawar merah.

"ZIVA ADRIANA!" teriak Kevin menggelegar lewat pengeras suara tepat saat Ziva dan Keyla berjalan melintasi selasar kantin.

Ziva menghentikan langkahnya.

Ia membalikkan badan, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah bosan yang amat kental.

"Ziva, gue tahu gue bukan perwira tinggi!

Gue cuma mahasiswa biasa!" teriak Kevin dramatis.

"Tapi rasa cinta gue ke lo lebih besar dari pangkat dan jabatan apa pun di dunia ini!

Will you be my girlfriend?"

Kevin melompat turun dari meja dengan gaya sok keren, lalu berlutut tepat satu meter di hadapan Ziva.

Dengan senyum percaya diri, ia menyodorkan sebuah kotak beludru hitam yang di dalamnya berisi kunci mobil sport keluaran terbaru.

Suasana kantin mendadak hening.

Ratusan pasang mata menahan napas, menunggu respons dari sang primadona kampus.

Ziva menunduk pelan, menatap Kevin dari balik kacamata hitamnya yang bertengger anggun.

Tanpa mengumbar senyum, ia melangkah maju dan mengambil mikrofon dari genggaman tangan Kevin dengan sangat santai.

"Vin," suara Ziva menggema jernih, memantul di seluruh sudut kantin.

"Lo bilang cinta lo lebih besar dari pangkat?"

Kevin mengangguk mantap, menyunggingkan senyum tebar pesona.

"Oke, sekarang gue tanya sama lo," Ziva melanjutkan dengan nada bicara yang amat dingin.

"Kalau negara kita diserang musuh besok pagi, lo bisa apa?

Bisa joget TikTok di garis depan?

Atau mau nyogok peluru nyasar pakai kunci mobil sport bapak lo ini?"

Gelak tawa tertahan langsung pecah dari barisan mahasiswa di belakang.

Wajah Kevin yang tadinya merah merona karena percaya diri mendadak berubah pucat pasi, lalu memerah padam menahan malu.

"Gue nggak butuh cowok yang pamer harta orang tuanya buat menarik perhatian gue," tegas Ziva, suaranya menusuk tanpa ampun.

"Gue butuh pria sejati.

Pria yang kalau dia berdiri di depan gue, gue merasa aman karena dia adalah benteng pelindung bangsa.

Tipe gue itu dewasa, matang, berwibawa, dan punya karisma yang nggak akan pernah bisa dibeli pakai uang bapak lo.

Jadi, simpan mawar murahan ini buat cewek lain, dan bawa mobil ini pulang sebelum gue panggil mobil derek kampus."

Ziva melemparkan kembali mikrofon itu tepat ke dada Kevin, lalu berbalik pergi meninggalkan kerumunan yang bersorak riuh tanpa menoleh sedikit pun.

"Sadis, Ziv.

Bener-bener pembunuhan karakter secara live," bisik Keyla di sampingnya, berusaha menyeimbangi langkah lebar Ziva.

"Gue nggak punya waktu buat main rumah-rumahan sama bocah ingusan, Key.

Gue punya Jenderal bintang tiga yang harus gue bikin berlutut," jawab Ziva dingin tanpa keraguan.

Dua jam kemudian, atmosfer di sekitar Ziva telah berubah seratus delapan puluh derajat.

Ia sudah berada di dalam kompleks Markas Besar, tepatnya di area koridor luar aula pemeriksaan kesehatan berkala.

Dengan seragam perawat cadangan yang telah ia modifikasi sedemikian rupa tetap terlihat sopan namun membingkai indah lekuk tubuhnya ia berhasil menembus penjagaan ketat berkat kartu identitas relawan medis palsu hasil racikan peretasan Keyla.

Ziva berdiri anggun di sudut ruangan, berpura-pura sibuk mencatat hasil pengukuran tensi darah para prajurit muda.

Padahal, sepasang mata tajamnya tak berhenti menyapu setiap sudut ruangan, berburu sosok sang Letnan Jenderal.

Dan pria yang ditunggunya akhirnya muncul.

Gibran Mahendra berjalan membelah koridor dengan langkah tegap, didampingi oleh dua ajudan berpangkat Mayor.

Ia hadir untuk memantau langsung pelaksanaan cek kesehatan berkala bawahannya.

Pria itu tampak amat berwibawa dalam balutan kemeja dinas lapangan lengan pendek yang memperlihatkan lekuk otot lengannya yang kekar, kencang, dan terbakar matahari.

Ziva mengatur napasnya yang mendadak tidak beraturan.

Ini saatnya.

Saat Gibran berjalan melintas tepat di depan meja pemeriksaan tempatnya berdiri, Ziva secara sengaja menyenggol baki besi berisi peralatan medis hingga terjatuh ke lantai granit.

Pranggg!

Suara nyaring itu membuat langkah Gibran terhenti seketika.

Manik mata hitamnya yang tajam menatap nampan dan stetoskop yang berserakan, lalu perlahan terangkat menatap "perawat" muda yang berdiri menunduk di hadapannya.

Ziva menundukkan kepalanya, berpura-pura panik.

"Maafkan saya, Jenderal!

Saya... saya kurang fokus."

Gibran menyipitkan matanya.

Nada suara itu terasa teramat familier di telinganya.

Dan saat Ziva perlahan mendongakkan wajahnya menatap langsung ke dalam manik matanya dengan senyuman tipis yang sangat dikenal Gibran hampir saja kehilangan kontrol atas ekpresi wajah kaku yang selalu ia pertahankan.

"Ziva?" Gibran mendesis rendah.

Suaranya bergema bagai bisikan berbahaya yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Apa yang kamu lakukan dengan seragam konyol ini di markas saya?"

Ziva sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

Ia justru melangkah satu tahap lebih maju.

Dengan gerakan secepat kilat, ia mengambil stetoskop dari atas meja dan menempelkannya tepat di dada sebelah kiri Gibran, sebelum perwira tinggi itu sempat menghindar atau menepisnya.

"Saya cuma mau memeriksa kesehatan Om Jenderal," bisik Ziva berani, membiarkan jemari lentiknya yang hangat sengaja menyentuh permukaan dada bidang Gibran yang keras bagai papan batu.

"Katanya Jenderal Mahendra punya penyakit 'hati beku' kronis.

Saya mau cek... apa detak jantung Om masih bisa berdetak normal kalau berdiri sedekat ini sama calon masa depan?"

Mata Gibran berkilat tajam.

Tanpa ucapan sepatah kata pun, tangan kekarnya langsung mencengkeram pergelangan tangan Ziva dengan erat, menarik gadis itu menjauh dari kerumunan prajurit yang mulai menoleh penasaran.

Gibran menyeret Ziva masuk ke dalam sebuah ruang konsultasi medis yang kosong dan langsung mengunci pintunya dari dalam.

"Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, ya?!" Gibran memojokkan Ziva ke dinding dingin.

Kedua tangannya mengunci pergerakan gadis itu di kiri dan kanan, matanya menyala dipenuhi gabungan antara amarah perwira dan frustrasi yang luar biasa.

"Ini markas militer resmi negara, Ziva!

Bukan panggung teater tempat kamu bermain peran murahan!"

Ziva tertawa kecil, meloloskan suara renyah yang membuat napas Gibran semakin memburu.

Meskipun dadanya sendiri berdebar kencang karena jarak tubuh mereka yang amat intim hingga ia bisa merasakan hembusan napas hangat Gibran di dahinya Ziva menatap pria itu tanpa rasa gentar.

"Habisnya Om susah banget ditemuin secara personal," sahut Ziva manja, menengadah menatap garis rahang Gibran yang mengetat.

"Harus nyamar jadi suster dulu baru bisa dapat waktu berdua yang intens kayak gini."

"Pulang sekarang juga, atau saya sendiri yang akan menyeretmu ke hadapan ayahmu dan membongkar seluruh tingkah kelakuanmu ini," ancam Gibran dengan suara dalam yang bergetar.

Namun anehnya, cengkeraman tangannya di dinding samping kepala Ziva tak kunjung terlepas.

Ziva menatap dalam-dalam mata hitam Gibran, membuang seluruh kesan bercanda dari raut wajahnya.

"Kenapa Om takut banget sama aku?

Kenapa Om kelihatan panik banget tiap kali aku ada di dekat Om?

Apa karena detak jantung Om sekarang lagi balapan?

Om takut kalau benteng es Om runtuh dan Om jatuh cinta sama putri dari sahabat Om sendiri?"

Gibran membeku.

Ruangan medis yang sunyi itu mendadak terasa begitu sempit dan menyergap.

Aroma parfum manis beraroma vanila milik Ziva merayap naik, merusak dominasi bau antiseptik dan menembus indra penciuman sang Jenderal.

Selama beberapa detik yang amat krusial, pertahanan kokoh yang dibangun Gibran selama puluhan tahun tampak goyah.

Pandangannya secara tidak sengaja turun, terkunci pada bibir merah Ziva yang tersenyum menantang di hadapannya.

Jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

Suara ketukan pintu yang keras dari luar merusak sihir di antara mereka.

"Jenderal Mahendra?

Anda di dalam?

Mohon maaf mengganggu, ada panggilan telepon darurat dari Kepala Staf Markas Besar," suara ajudannya terdengar bergema dari balik pintu kayu.

Gibran langsung menarik tubuhnya mundur dua langkah secara refleks, seolah baru saja tersengat aliran listrik tinggi.

Pria itu dengan cepat merapikan kerah kemeja dinasnya yang sebenarnya tidak berantakan sedikit pun, berusaha keras menguasai kembali hembusan napasnya yang sempat tidak beraturan.

"Keluar lewat pintu belakang poliklinik," ujar Gibran dengan suara yang telah kembali sedingin es, berpaling membelakangi Ziva.

"Dan Ziva... jangan pernah berpikir untuk kembali lagi ke tempat ini dengan cara konyol seperti ini."

Tanpa menunggu jawaban, Gibran membuka kunci pintu dan melangkah keluar dengan postur tegap sempurnanya.

Ziva tetap berdiri menyandar di dinding dingin ruangan.

Ia tidak merasa sedih ataupun kecewa.

Jemari tangannya perlahan terangkat, menyentuh dadanya sendiri yang masih berdegup kencang.

Ia tersenyum sangat lebar sebuah senyuman penuh kemenangan.

Ziva tahu pasti apa yang baru saja terjadi.

Tadi, selama beberapa detik di ruangan remang ini, Letnan Jenderal Gibran Mahendra hampir saja kalah dan menyerah pada pesonanya.

Sang Jenderal mulai merasakan dan terganggu oleh keberadaannya.

"Sedikit lagi, Om..." gumam Ziva penuh rasa percaya diri.

"Sedikit lagi pertahanan baja itu bakal hancur."

1
+82
jangan 1 hari 1.. 1 hari 3 mungkin 🌚
+82
lagi🌚
+82
abis kamu ziva.. 🌚 menanti +21
+82
🌚🌚🌚 lagi
+82
lagi🌚
+82
bukaaa🦖 ga sabar mereka balikan
+82
bwahahaha🌚
aku
murahan ziva!! 🙏
Annisa
ceritanya bagus dan menegangkan
Annisa
mantap demi cinta , Gibran dikejar sampai medan konflik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!