Pesta yang Gagal

Malam di Aeryon City selalu tentang gemerlap yang menipu. Di balik dinding kaca penthouse kediaman Aeru, Seraphina berdiri di depan cermin raksasa, menatap pantulan dirinya yang tampak seperti mahakarya pemberontakan. Dia mengenakan gaun slip-dress sutra berwarna hitam pekat yang nyaris transparan di bawah cahaya tertentu, dengan belahan setinggi paha yang memamerkan kaki jenjangnya.

"Kau tidak akan mengatakan sesuatu tentang ini, Dareen?" tantang Seraphina, memutar tubuhnya perlahan. Matanya melirik ke arah pantulan Dareen yang berdiri di sudut kamar, menjaga jarak profesional seperti biasa. "Gaun ini ... apakah menurutmu ini terlalu 'murahan' untuk standar Aeruland?"

Dareen menatapnya, matanya menyisir penampilan Seraphina dengan tatapan yang sulit dibaca. Punggung tangannya yang masih membiru akibat injakan sepatu kemarin terkepal erat di samping paha. "Tugas saya adalah memastikan Anda selamat, Nona. Bukan menjadi kritikus mode."

"Munafik," bisik Seraphina, bibirnya yang dipulas lipstik merah darah membentuk senyum tipis. Dia tahu Dareen terganggu, dia bisa melihat jakun pria itu bergerak naik turun.

Tepat saat Seraphina hendak mengambil tas tangannya, pintu kamar terbuka lebar. Seldin Aeru melangkah masuk dengan aura otoriter yang mampu membekukan udara di sekitarnya. Namun kali ini, dia tidak sendirian. Di lengannya, melingkar tangan seorang wanita cantik dengan gaun konservatif yang anggun—kekasih Seldin, seorang putri diplomat yang selalu diagung-agungkan sebagai standar "wanita terhormat".

Seldin berhenti, matanya menatap tajam pada gaun Seraphina yang minim. "Kau akan pergi ke pesta ulang tahun itu dengan pakaian seperti itu, Sera? Kau terlihat seperti sedang mencari perhatian di trotoar West-Uptown."

Wanita di samping Seldin menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Oh, Seldin, mungkin Seraphina hanya sedang ingin berekspresi. Meski ... mungkin memang agak terlalu terbuka untuk acara formal."

Darah Seraphina mendidih. Dia benci wanita itu—wanita yang selalu berpura-pura baik padahal hanya menginginkan saham di Aeru Group. "Tutup mulutmu, jalang diplomat," maki Seraphina tajam. "Jangan berani-berani mengomentari caraku berpakaian saat kau sendiri memakai gaun yang harganya setara dengan uang tutup mulut untuk perselingkuhan ayahmu."

"Seraphina!" bentak Seldin, suaranya menggelegar.

Wanita itu tersentak, matanya berkaca-kaca secara dramatis, bersembunyi di balik bahu Seldin. Seldin tidak lagi menatap adiknya; dia menoleh pada Dareen yang berdiri membeku.

"Dareen Christ," suara Seldin rendah dan mengancam. "Bawa dia ke pesta itu. Pastikan matamu tidak lepas darinya. Dan ingat ini: jika dia meminum lebih dari dua gelas, bawa dia pulang dengan paksa. Gunakan cara apa pun—ikat dia, panggul dia, aku tidak peduli. Jangan biarkan dia mempermalukan nama Aeru lagi."

Dareen membungkuk dalam. "Dimengerti, Tuan."

Seraphina menyambar tasnya, menabrak bahu Seldin dan kekasihnya saat dia keluar ruangan. "Ayo, Robot. Mari kita lihat seberapa kuat kau memegang perintah tuanmu."

Pesta di Sky-Lounge District itu penuh dengan asap elektrik dan dentuman musik techno yang memekakkan telinga. Seraphina adalah pusat perhatian sejak detik pertama dia melangkah masuk. Sebagai adik dari CEO paling berpengaruh di Aeruland, kehadirannya selalu dinantikan, namun malam ini dia tampil lebih liar dari biasanya.

Seraphina berdiri di tengah kerumunan pria-pria kaya yang haus perhatian. Dia tertawa keras, membiarkan tangan-tangan pria itu menyentuh pinggangnya atau membisikkan rayuan murah di telinganya. Baginya, ini bukan tentang nafsu; ini tentang mengisi lubang hampa di hatinya yang selalu kekurangan kasih sayang. Dia mencintai perhatian ini—rasa dibutuhkan, meski hanya untuk satu malam.

Di sudut ruangan, di bawah bayangan pilar beton, Dareen berdiri seperti malaikat maut. Matanya memindai setiap tangan yang menyentuh kulit Seraphina. Dia bergerak seperti predator, beberapa kali memotong langkah pria-pria yang mencoba menggiring Seraphina ke area yang lebih gelap.

"Kau terlihat tegang, Dareen!" seru Seraphina dari kejauhan, mengangkat gelas keduanya yang berisi martini. Dia menenggaknya dalam sekali teguk, lalu menatap Dareen dengan pandangan menantang.

Dareen melangkah mendekat, memecah kerumunan pria yang mengelilingi Seraphina. Kehadirannya yang mengintimidasi membuat pria-pria itu mundur secara naluriah. "Sudah dua gelas, Nona. Kita pulang sekarang."

Seraphina tertawa, suaranya terdengar parau. "Pulang? Pesta baru saja dimulai, Sayang."

Dia berbalik ke arah bartender dan menjentikkan jarinya. "Satu lagi. Double shot."

Bartender itu melirik Dareen yang berdiri di belakang Seraphina dengan tatapan membunuh, namun Seraphina membanting kartu kredit hitamnya ke meja. Gelas ketiga pun disajikan. Cairan bening itu berkilau di bawah lampu disko yang berputar.

Seraphina mengambil gelas itu, perlahan memutar tubuhnya hingga dia berhadapan langsung dengan Dareen. Jarak mereka hanya beberapa senti. Seraphina bisa mencium aroma sabun cendana Dareen di tengah bau alkohol yang menyengat. Dia mengangkat gelasnya tepat di depan wajah Dareen, matanya yang mulai sayu menatap dalam ke mata gelap sang pengawal.

"Gelas ketiga, Dareen," bisik Seraphina, bibirnya hampir menyentuh dagu Dareen. "Kau dengar perintah Seldin, kan? Paksa aku. Tunjukkan pada semua orang bagaimana kau memperlakukanku seperti tawanan."

Seraphina mulai mendekatkan gelas itu ke bibirnya, siap menelan isinya sebagai bentuk pengkhianatan terakhir pada aturan kakaknya—dan ujian terakhir untuk kesabaran Dareen.

Tepat sebelum cairan itu menyentuh lidah Seraphina, sebuah tangan yang kokoh dan besar menyambar pergelangan tangannya. Gerakannya begitu cepat hingga tidak ada yang sempat melihatnya.

Dareen merebut gelas itu dari tangan Seraphina dengan kekuatan yang tak terbantahkan. Dia tidak meletakkan gelas itu kembali; dia justru membuang isinya ke lantai, membuat suara pecah saat gelas itu terlepas dari genggamannya.

Suasana di sekitar mereka mendadak hening. Musik seolah menjauh. Para pria yang tadi menggoda Seraphina kini hanya bisa menonton dengan ngeri.

Dareen menarik tubuh Seraphina hingga menempel erat pada dadanya. Dia menundukkan kepala, mendekatkan bibirnya ke telinga Seraphina. Napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit Seraphina yang dingin.

"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona Seraphina," bisik Dareen. Suaranya tidak lagi datar. Ada nada posesif yang sangat gelap dan dalam, sebuah emosi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar tugas dari Seldin.

Seraphina terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena alkohol, tapi karena nada bicara Dareen. Dia bisa merasakan tangan Dareen di pinggangnya mencengkeram sedikit terlalu kuat—bukan pegangan seorang pengawal, melainkan pegangan seorang pria yang hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

"Kau ... kau menyakitiku," bisik Seraphina, mencoba mencari kembali suaranya yang hilang.

"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang akan saya lakukan jika Anda tetap keras kepala," balas Dareen pelan. Dia melepaskan pinggang Seraphina, lalu meraih pergelangan tangan gadis itu, menariknya keluar dari kerumunan tanpa menoleh lagi.

Seraphina tidak melawan. Dia membiarkan dirinya ditarik melewati lorong-lorong kelab yang bising. Di dalam hatinya, ada rasa takut yang aneh, namun bercampur dengan kepuasan yang ganjil. Dia telah memicu sesuatu di dalam diri Dareen—sesuatu yang lebih besar dari perintah Seldin, sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik jas hitam dan wajah porselen itu.

Begitu mereka sampai di parkiran yang sunyi, Dareen membanting pintu mobil setelah memastikan Seraphina masuk ke dalam. Dareen berdiri di luar sejenak, menatap langit malam Aeryon City sambil mengatur napasnya yang berantakan. Dia tahu, malam ini, dia tidak hanya melanggar batas profesionalnya; dia baru saja menyerahkan dirinya pada kehancuran yang bernama Seraphina Aeru.

Di dalam mobil, Seraphina menyentuh bibirnya, masih bisa merasakan getaran suara Dareen yang berbisik tadi. Dia tersenyum kecil di tengah kegelapan. Pesta itu memang gagal, tapi baginya, ini adalah awal dari kemenangan yang sesungguhnya.

Episodes
1 Siluet di Ambang Pintu
2 Sarapan yang Dingin
3 Bayangan yang Menyesakkan
4 Rahasia di Balik Dashboard
5 Pesta yang Gagal
6 Penyamaran Sempurna
7 Sabotase yang Gagal
8 Serangan Para Pewaris
9 Cemburu yang Dingin
10 Tugas Kotor Seldin
11 Sempitnya Ruang Perpustakaan
12 Penjaga yang Terluka
13 Di Bawah Meja Kuliah
14 Hujan di Skytown
15 Pengakuan di Balik Kabut
16 Dilema Moral Dareen
17 Pesta Tengah Semester
18 Akhir Semester yang Berbahaya
19 Status yang Terpisah
20 Jebakan Baru Seldin
21 Darah di Tengah Pelarian
22 Penaklukan di Kamar Nomor 14
23 Pagi Setelah Badai di Kamar Nomor 14
24 Bayangan di Kelas
25 Foto di Dashboard
26 Kambing Hitam
27 Topeng yang Retak
28 Haus Kasih Sayang di Sudut Tersembunyi
29 Strategi Cemburu
30 Area yang Belum Steril
31 Kompetensi dan Intimidasi Diam
32 Perjamuan Sang Pemangsa
33 Sandiwara di Balik Meja
34 Gonggongan Sang Penjaga
35 Di Balik Pintu Empat Kosong Dua
36 Luka yang Tersembunyi di Balik Sutra
37 Bara dan Rahasia di Paviliun
38 Kampus dan Kecemburuan
39 Perjamuan Beracun
40 Tempat Berteduh Saat Hujan
41 Pesan Pertama dan Pelarian Sunyi
42 Prahara di Balik Keteduhan
43 Labirin Pilihan
44 Cahaya dan Bayang di Malam Terlarang
45 Rahasia di Balik Kacamata
46 Dansa yang Tak Terlihat
47 Pintu yang Terkunci
48 Syarat di Balik Cawan Anggur
49 Surat Pengunduran Diri
50 Cemburu di Balik Meja Kantin
51 Belati Kata-Kata
52 Kebencian yang Membara
53 Sisa Hujan di Taman Harapan
54 Membasuh Luka, Memulai Langkah
55 Sandiwara di Balik Pelukan
56 Labirin di Balik Selimut
57 Puncak Penyerahan Diri
58 Pagi Setelah Penyerahan
59 Deklarasi di Bawah Matahari
60 Tumpahan Racun Kecemburuan
61 Ikatan yang Dipercepat
62 Janji di Balik Uap dan Rencana Rahasia
63 Benteng Kesetiaan dan Racun Masa Lalu
64 Dinding Es Sebelum Janji Suci
65 Kejujuran di Ambang Kehancuran
66 Racun di Ambang Janji
67 Ikatan di Atas Puing Masa Lalu
68 Dinding Kamar yang Berduri
69 Penjara di Balik Sutra Merah
70 Cahaya di Balik Jendela
71 Ujian di Meja Perjamuan
72 Garis Depan yang Baru
73 Labirin Rasa dan Kehangatan Sofa
74 Benang Kusut di Meja Kekuasaan Satu minggu
75 Gema Langkah di Koridor Terlarang
76 Perjalanan Singkat dalam Aroma Kafein
77 Fondasi Masa Depan
78 Garis Akhir dan Belenggu Obsesi
79 Tenunan Janji dalam Kemewahan
80 Puncak di Atas Altar Kristal
81 Cakrawala di Balik Jendela Kayu
82 Sauh di Muara Kedamaian
83 Simfoni dalam Kotak Beludru
84 Benih di Musim Semi
85 Pelabuhan Kecil di Ujung Penantian
86 Gema Tawa di Meja Perjamuan
87 Bayang-Bayang di Balik Cahaya Senja
88 Badai Sebelum Cahaya Pertama
89 Mahkota Berduri di Pucuk Fajar
90 Reruntuhan Langit di Atas Kepala
91 Arang di Atas Salju
92 Takhta di Atas Pegunungan Es
93 Pelita di Tengah Musim Dingin
94 Akar yang Menguat, Bunga yang Rekah
95 Memahat Langit di Atas Karang
96 Prasasti Cinta di Setiap Langkah
97 Gema di Balik Keramaian
98 Gema yang Tertinggal
99 Perjamuan Di Atas Luka Lama
100 Cermin di Balik Keramaian
101 Labirin Sunyi
102 Sambungan yang Tak Disengaja
103 Getaran yang Tak Bernama
104 Gelombang Perasaan
105 Rahasia yang Terpendam
106 Gema di Dinding Motel
107 Menghadapi Seldin
108 Restu yang Didapatkan
109 Jembatan Kecil di Istana Kaku
110 Awal yang Baru
111 Epilog: Lingkaran Takdir di Motel Tua
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Siluet di Ambang Pintu
2
Sarapan yang Dingin
3
Bayangan yang Menyesakkan
4
Rahasia di Balik Dashboard
5
Pesta yang Gagal
6
Penyamaran Sempurna
7
Sabotase yang Gagal
8
Serangan Para Pewaris
9
Cemburu yang Dingin
10
Tugas Kotor Seldin
11
Sempitnya Ruang Perpustakaan
12
Penjaga yang Terluka
13
Di Bawah Meja Kuliah
14
Hujan di Skytown
15
Pengakuan di Balik Kabut
16
Dilema Moral Dareen
17
Pesta Tengah Semester
18
Akhir Semester yang Berbahaya
19
Status yang Terpisah
20
Jebakan Baru Seldin
21
Darah di Tengah Pelarian
22
Penaklukan di Kamar Nomor 14
23
Pagi Setelah Badai di Kamar Nomor 14
24
Bayangan di Kelas
25
Foto di Dashboard
26
Kambing Hitam
27
Topeng yang Retak
28
Haus Kasih Sayang di Sudut Tersembunyi
29
Strategi Cemburu
30
Area yang Belum Steril
31
Kompetensi dan Intimidasi Diam
32
Perjamuan Sang Pemangsa
33
Sandiwara di Balik Meja
34
Gonggongan Sang Penjaga
35
Di Balik Pintu Empat Kosong Dua
36
Luka yang Tersembunyi di Balik Sutra
37
Bara dan Rahasia di Paviliun
38
Kampus dan Kecemburuan
39
Perjamuan Beracun
40
Tempat Berteduh Saat Hujan
41
Pesan Pertama dan Pelarian Sunyi
42
Prahara di Balik Keteduhan
43
Labirin Pilihan
44
Cahaya dan Bayang di Malam Terlarang
45
Rahasia di Balik Kacamata
46
Dansa yang Tak Terlihat
47
Pintu yang Terkunci
48
Syarat di Balik Cawan Anggur
49
Surat Pengunduran Diri
50
Cemburu di Balik Meja Kantin
51
Belati Kata-Kata
52
Kebencian yang Membara
53
Sisa Hujan di Taman Harapan
54
Membasuh Luka, Memulai Langkah
55
Sandiwara di Balik Pelukan
56
Labirin di Balik Selimut
57
Puncak Penyerahan Diri
58
Pagi Setelah Penyerahan
59
Deklarasi di Bawah Matahari
60
Tumpahan Racun Kecemburuan
61
Ikatan yang Dipercepat
62
Janji di Balik Uap dan Rencana Rahasia
63
Benteng Kesetiaan dan Racun Masa Lalu
64
Dinding Es Sebelum Janji Suci
65
Kejujuran di Ambang Kehancuran
66
Racun di Ambang Janji
67
Ikatan di Atas Puing Masa Lalu
68
Dinding Kamar yang Berduri
69
Penjara di Balik Sutra Merah
70
Cahaya di Balik Jendela
71
Ujian di Meja Perjamuan
72
Garis Depan yang Baru
73
Labirin Rasa dan Kehangatan Sofa
74
Benang Kusut di Meja Kekuasaan Satu minggu
75
Gema Langkah di Koridor Terlarang
76
Perjalanan Singkat dalam Aroma Kafein
77
Fondasi Masa Depan
78
Garis Akhir dan Belenggu Obsesi
79
Tenunan Janji dalam Kemewahan
80
Puncak di Atas Altar Kristal
81
Cakrawala di Balik Jendela Kayu
82
Sauh di Muara Kedamaian
83
Simfoni dalam Kotak Beludru
84
Benih di Musim Semi
85
Pelabuhan Kecil di Ujung Penantian
86
Gema Tawa di Meja Perjamuan
87
Bayang-Bayang di Balik Cahaya Senja
88
Badai Sebelum Cahaya Pertama
89
Mahkota Berduri di Pucuk Fajar
90
Reruntuhan Langit di Atas Kepala
91
Arang di Atas Salju
92
Takhta di Atas Pegunungan Es
93
Pelita di Tengah Musim Dingin
94
Akar yang Menguat, Bunga yang Rekah
95
Memahat Langit di Atas Karang
96
Prasasti Cinta di Setiap Langkah
97
Gema di Balik Keramaian
98
Gema yang Tertinggal
99
Perjamuan Di Atas Luka Lama
100
Cermin di Balik Keramaian
101
Labirin Sunyi
102
Sambungan yang Tak Disengaja
103
Getaran yang Tak Bernama
104
Gelombang Perasaan
105
Rahasia yang Terpendam
106
Gema di Dinding Motel
107
Menghadapi Seldin
108
Restu yang Didapatkan
109
Jembatan Kecil di Istana Kaku
110
Awal yang Baru
111
Epilog: Lingkaran Takdir di Motel Tua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!