Mencintai Adik CEO

Mencintai Adik CEO

Siluet di Ambang Pintu

Lampu gantung kristal di aula utama kediaman Aeru tidak menyala, menyisakan kegelapan yang pekat dan dingin. Hanya cahaya bulan yang menyelinap malu-malu melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan memanjang yang tampak seperti jemari hantu di atas lantai marmer Italia.

Pukul tiga pagi. Sunyi itu mendadak pecah oleh suara kunci yang beradu dengan lubangnya. Pintu ek berukir rumit itu terbuka dengan sentakan kasar, menghantam dinding pembatas dengan bunyi dentum yang menggema ke seluruh penjuru rumah.

Seraphina Aeru melangkah masuk dengan kaki yang tidak lagi sinkron. Sepatu stiletto merah menyala di tangan kanannya terjuntai lemas, sementara tangan kirinya meraba dinding demi mencari keseimbangan. Aroma campuran antara parfum mahal, asap rokok kelab malam, dan alkohol murahan menguar dari tubuhnya. Rambut pirang platina yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, menempel di lehernya yang berkeringat.

"Rumah sialan," gumamnya dengan suara serak. "Terlalu luas ... terlalu sepi."

Dia melempar sepatunya ke sembarang arah. Salah satu sepatu mendarat di atas karpet Persia, sementara yang lain menghilang di balik bayangan furnitur antik. Seraphina tertawa kecil, tawa yang terdengar kosong dan sedikit pahit. Dia mulai melangkah menuju tangga melingkar, membayangkan kasur empuknya yang sudah memanggil-mutil.

Namun, langkahnya terhenti secara mendadak. Jantungnya berdegup kencang, memompa sisa-sisa alkohol ke otaknya hingga dia merasa mual.

Di ujung koridor menuju tangga, berdiri sebuah siluet. Sosok itu diam, mematung seperti patung marmer yang menjadi bagian dari dekorasi rumah. Bahunya lebar, posturnya tegak sempurna, dan dia mengenakan setelan jas hitam yang seolah menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya.

"Astaga!" Seraphina memekik, hampir terjatuh ke belakang. Dia menyipitkan mata, mencoba fokus pada sosok yang menghalangi jalannya. "Siapa di sana? Keluar atau aku panggil polisi!"

Sosok itu bergerak. Bukan lari, melainkan melangkah perlahan menuju area yang sedikit terkena cahaya bulan. Wajahnya yang kaku dan tegas perlahan terlihat. Rahang yang kokoh, hidung lurus, dan mata yang menatap tajam namun tanpa emosi.

"Ini saya, Nona Seraphina," suara itu terdengar berat dan datar, seperti dentuman lonceng gereja di tengah malam.

Seraphina mendengus, rasa takutnya seketika berganti menjadi kejengkelan yang meluap-luap. "Dareen Christ," desisnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Menunggu mangsa atau sedang berlatih jadi hantu?"

Dareen tidak menjawab hinaan itu. Dia hanya berdiri di sana, kedua tangannya tertaut di belakang punggung. "Anda terlambat tiga jam dari waktu yang ditentukan Tuan Seldin."

"Bodo amat dengan Seldin," Seraphina mengibaskan tangannya di udara dengan gerakan teatrikal. Dia mencoba melangkah melewati pria itu, namun sebelum bahunya sempat bersenggolan dengan lengan Dareen, pria itu bergeser. Hanya satu langkah kecil, namun sangat taktis. Dia kembali berdiri tepat di depan Seraphina, menutup akses menuju tangga.

Seraphina mendongak, matanya yang kemerahan menatap geram pada pria yang lebih tinggi darinya itu. "Minggir, Dareen. Aku mau tidur."

"Tidak sebelum Anda meminum ini," Dareen mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam tipis. Di telapak tangannya terdapat sebuah tablet putih kecil, dan di tangan lainnya, dia memegang segelas air putih yang tampak sangat dingin.

Seraphina menatap obat itu seolah-olah itu adalah racun. "Apa itu? Ekstasi? Atau obat tidur supaya kau tidak perlu menjagaku?"

"Obat pemulih mabuk dan air putih," jawab Dareen tanpa nada. "Seldin tidak ingin melihat adiknya muntah di atas meja makan pagi ini."

"Aku tidak butuh bantuanmu, aku tidak butuh obatmu, dan aku paling tidak butuh namamu disebut-sebut di depanku!" Seraphina berteriak, suaranya melengking di aula yang sepi. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang statusnya tidak lebih dari sekadar pelayan bersenjata di rumah ini.

"Minum, Nona," Dareen mengulangi dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Gelas itu kini tepat berada di depan bibir Seraphina.

Kilatan amarah yang liar muncul di mata Seraphina. Dia meraih gelas itu dengan kasar. Dareen melepaskannya, mengira gadis itu akhirnya menyerah. Namun, sedetik kemudian, Seraphina membalikkan tangannya.

Air dingin itu tumpah sepenuhnya, membasahi ujung celana kain mahal Dareen dan membanjiri sepatu kulit Oxford yang disemir mengkilap milik pria itu. Sisa airnya memercik ke lantai marmer yang bersih.

Seraphina melempar gelas kosong itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Dia kemudian menatap Dareen dengan senyum kemenangan yang bengis. "Aku tidak butuh pengasuh, Dareen. Dan aku tidak butuh anjing penjaga yang tidak tahu tempat. Sekarang, minggir dari hadapanku sebelum aku menyuruh Seldin membuangmu ke jalanan."

Keheningan kembali menyergap. Seraphina menunggu reaksi. Dia berharap Dareen akan marah, berteriak, atau setidaknya menunjukkan raut kesal karena sepatunya yang berharga jutaan rupiah itu kini basah kuyup oleh sisa air dan serpihan gelas.

Namun, Dareen Christ tetaplah Dareen Christ.

Dia tidak bergeming. Dia tidak menunduk untuk melihat sepatunya. Dia bahkan tidak berkedip. Matanya tetap terkunci pada wajah Seraphina, menembus lapisan riasan yang luntur dan sikap angkuh gadis itu. Dareen membiarkan air itu meresap ke dalam kain celananya, berdiri setegar batu karang di tengah badai.

"Anda sudah selesai, Nona?" tanya Dareen lirih. Suaranya tidak mengandung kemarahan, hanya kekosongan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Seraphina terpaku. "Kau ...."

"Jika sudah, mari ikut saya," Dareen berbalik badan dengan presisi militer, seolah insiden penyiraman itu tidak pernah terjadi.

"Ke mana? Aku bilang aku mau tidur!"

"Tuan Seldin menunggu Anda di ruang makan. Sekarang," ucap Dareen sambil mulai melangkah menuju koridor sayap kanan, tempat ruang makan utama berada.

"Jam tiga pagi?! Dia gila? Aku tidak mau!" Seraphina mencoba berbalik ke arah tangga, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki Dareen yang berat di belakangnya. Pria itu tidak menyentuhnya, tapi auranya terasa seperti rantai yang menjerat leher Seraphina.

"Tuan Seldin mengatakan, jika Anda menolak, saya diperbolehkan menggunakan kekuatan fisik untuk membawa Anda ke sana. Saya yakin Anda tidak ingin mengakhiri malam ini dengan memar di pergelangan tangan," Dareen berkata tanpa menoleh, namun nada suaranya sangat serius.

Seraphina mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Dia benci betapa pria ini selalu tahu cara menekannya. Dia benci bagaimana Dareen tidak pernah terlihat "kalah" meski dia sudah dihina sedemikian rupa.

Dengan geram, Seraphina menghentakkan kakinya yang telanjang di atas lantai dingin, mengikuti langkah Dareen menuju ruang makan. "Awas kau, Dareen Christ," bisiknya dengan penuh kebencian. "Suatu saat nanti, aku yang akan membuatmu berlutut dan memohon ampun padaku."

Dareen tidak menanggapi. Dia hanya terus berjalan, memimpin jalan menuju "neraka" pribadi Seraphina yang sudah menunggu di ujung koridor. Sepatunya yang basah meninggalkan jejak lembap di atas marmer, satu-satunya tanda bahwa konflik kecil baru saja terjadi di antara mereka.

Di depan pintu ruang makan yang tertutup rapat, Dareen berhenti. Dia membuka pintu ganda itu dengan perlahan, membiarkan cahaya terang dari dalam ruangan menusuk mata Seraphina yang lelah.

"Nona Seraphina sudah tiba, Tuan," lapor Dareen sambil membungkuk rendah saat Seraphina melangkah masuk dengan sisa-sisa keberaniannya.

Di ujung meja panjang yang penuh dengan hidangan dingin, Seldin Aeru duduk dengan setelan jas lengkap, sedang menyesap kopi hitamnya seolah-olah ini adalah jam sepuluh pagi yang normal. Dia tidak mendongak, namun suaranya yang dingin membelah ruangan.

"Duduk, Seraphina. Kita perlu bicara tentang kelakuanmu di kelab malam tadi."

Seraphina melirik ke arah Dareen yang kini berdiri di sudut ruangan, kembali menjadi bayangan yang tak bersuara. Gadis itu tahu, malam panjangnya baru saja dimulai.

Episodes
1 Siluet di Ambang Pintu
2 Sarapan yang Dingin
3 Bayangan yang Menyesakkan
4 Rahasia di Balik Dashboard
5 Pesta yang Gagal
6 Penyamaran Sempurna
7 Sabotase yang Gagal
8 Serangan Para Pewaris
9 Cemburu yang Dingin
10 Tugas Kotor Seldin
11 Sempitnya Ruang Perpustakaan
12 Penjaga yang Terluka
13 Di Bawah Meja Kuliah
14 Hujan di Skytown
15 Pengakuan di Balik Kabut
16 Dilema Moral Dareen
17 Pesta Tengah Semester
18 Akhir Semester yang Berbahaya
19 Status yang Terpisah
20 Jebakan Baru Seldin
21 Darah di Tengah Pelarian
22 Penaklukan di Kamar Nomor 14
23 Pagi Setelah Badai di Kamar Nomor 14
24 Bayangan di Kelas
25 Foto di Dashboard
26 Kambing Hitam
27 Topeng yang Retak
28 Haus Kasih Sayang di Sudut Tersembunyi
29 Strategi Cemburu
30 Area yang Belum Steril
31 Kompetensi dan Intimidasi Diam
32 Perjamuan Sang Pemangsa
33 Sandiwara di Balik Meja
34 Gonggongan Sang Penjaga
35 Di Balik Pintu Empat Kosong Dua
36 Luka yang Tersembunyi di Balik Sutra
37 Bara dan Rahasia di Paviliun
38 Kampus dan Kecemburuan
39 Perjamuan Beracun
40 Tempat Berteduh Saat Hujan
41 Pesan Pertama dan Pelarian Sunyi
42 Prahara di Balik Keteduhan
43 Labirin Pilihan
44 Cahaya dan Bayang di Malam Terlarang
45 Rahasia di Balik Kacamata
46 Dansa yang Tak Terlihat
47 Pintu yang Terkunci
48 Syarat di Balik Cawan Anggur
49 Surat Pengunduran Diri
50 Cemburu di Balik Meja Kantin
51 Belati Kata-Kata
52 Kebencian yang Membara
53 Sisa Hujan di Taman Harapan
54 Membasuh Luka, Memulai Langkah
55 Sandiwara di Balik Pelukan
56 Labirin di Balik Selimut
57 Puncak Penyerahan Diri
58 Pagi Setelah Penyerahan
59 Deklarasi di Bawah Matahari
60 Tumpahan Racun Kecemburuan
61 Ikatan yang Dipercepat
62 Janji di Balik Uap dan Rencana Rahasia
63 Benteng Kesetiaan dan Racun Masa Lalu
64 Dinding Es Sebelum Janji Suci
65 Kejujuran di Ambang Kehancuran
66 Racun di Ambang Janji
67 Ikatan di Atas Puing Masa Lalu
68 Dinding Kamar yang Berduri
69 Penjara di Balik Sutra Merah
70 Cahaya di Balik Jendela
71 Ujian di Meja Perjamuan
72 Garis Depan yang Baru
73 Labirin Rasa dan Kehangatan Sofa
74 Benang Kusut di Meja Kekuasaan Satu minggu
75 Gema Langkah di Koridor Terlarang
76 Perjalanan Singkat dalam Aroma Kafein
77 Fondasi Masa Depan
78 Garis Akhir dan Belenggu Obsesi
79 Tenunan Janji dalam Kemewahan
80 Puncak di Atas Altar Kristal
81 Cakrawala di Balik Jendela Kayu
82 Sauh di Muara Kedamaian
83 Simfoni dalam Kotak Beludru
84 Benih di Musim Semi
85 Pelabuhan Kecil di Ujung Penantian
86 Gema Tawa di Meja Perjamuan
87 Bayang-Bayang di Balik Cahaya Senja
88 Badai Sebelum Cahaya Pertama
89 Mahkota Berduri di Pucuk Fajar
90 Reruntuhan Langit di Atas Kepala
91 Arang di Atas Salju
92 Takhta di Atas Pegunungan Es
93 Pelita di Tengah Musim Dingin
94 Akar yang Menguat, Bunga yang Rekah
95 Memahat Langit di Atas Karang
96 Prasasti Cinta di Setiap Langkah
97 Gema di Balik Keramaian
98 Gema yang Tertinggal
99 Perjamuan Di Atas Luka Lama
100 Cermin di Balik Keramaian
101 Labirin Sunyi
102 Sambungan yang Tak Disengaja
103 Getaran yang Tak Bernama
104 Gelombang Perasaan
105 Rahasia yang Terpendam
106 Gema di Dinding Motel
107 Menghadapi Seldin
108 Restu yang Didapatkan
109 Jembatan Kecil di Istana Kaku
110 Awal yang Baru
111 Epilog: Lingkaran Takdir di Motel Tua
Episodes

Updated 111 Episodes

1
Siluet di Ambang Pintu
2
Sarapan yang Dingin
3
Bayangan yang Menyesakkan
4
Rahasia di Balik Dashboard
5
Pesta yang Gagal
6
Penyamaran Sempurna
7
Sabotase yang Gagal
8
Serangan Para Pewaris
9
Cemburu yang Dingin
10
Tugas Kotor Seldin
11
Sempitnya Ruang Perpustakaan
12
Penjaga yang Terluka
13
Di Bawah Meja Kuliah
14
Hujan di Skytown
15
Pengakuan di Balik Kabut
16
Dilema Moral Dareen
17
Pesta Tengah Semester
18
Akhir Semester yang Berbahaya
19
Status yang Terpisah
20
Jebakan Baru Seldin
21
Darah di Tengah Pelarian
22
Penaklukan di Kamar Nomor 14
23
Pagi Setelah Badai di Kamar Nomor 14
24
Bayangan di Kelas
25
Foto di Dashboard
26
Kambing Hitam
27
Topeng yang Retak
28
Haus Kasih Sayang di Sudut Tersembunyi
29
Strategi Cemburu
30
Area yang Belum Steril
31
Kompetensi dan Intimidasi Diam
32
Perjamuan Sang Pemangsa
33
Sandiwara di Balik Meja
34
Gonggongan Sang Penjaga
35
Di Balik Pintu Empat Kosong Dua
36
Luka yang Tersembunyi di Balik Sutra
37
Bara dan Rahasia di Paviliun
38
Kampus dan Kecemburuan
39
Perjamuan Beracun
40
Tempat Berteduh Saat Hujan
41
Pesan Pertama dan Pelarian Sunyi
42
Prahara di Balik Keteduhan
43
Labirin Pilihan
44
Cahaya dan Bayang di Malam Terlarang
45
Rahasia di Balik Kacamata
46
Dansa yang Tak Terlihat
47
Pintu yang Terkunci
48
Syarat di Balik Cawan Anggur
49
Surat Pengunduran Diri
50
Cemburu di Balik Meja Kantin
51
Belati Kata-Kata
52
Kebencian yang Membara
53
Sisa Hujan di Taman Harapan
54
Membasuh Luka, Memulai Langkah
55
Sandiwara di Balik Pelukan
56
Labirin di Balik Selimut
57
Puncak Penyerahan Diri
58
Pagi Setelah Penyerahan
59
Deklarasi di Bawah Matahari
60
Tumpahan Racun Kecemburuan
61
Ikatan yang Dipercepat
62
Janji di Balik Uap dan Rencana Rahasia
63
Benteng Kesetiaan dan Racun Masa Lalu
64
Dinding Es Sebelum Janji Suci
65
Kejujuran di Ambang Kehancuran
66
Racun di Ambang Janji
67
Ikatan di Atas Puing Masa Lalu
68
Dinding Kamar yang Berduri
69
Penjara di Balik Sutra Merah
70
Cahaya di Balik Jendela
71
Ujian di Meja Perjamuan
72
Garis Depan yang Baru
73
Labirin Rasa dan Kehangatan Sofa
74
Benang Kusut di Meja Kekuasaan Satu minggu
75
Gema Langkah di Koridor Terlarang
76
Perjalanan Singkat dalam Aroma Kafein
77
Fondasi Masa Depan
78
Garis Akhir dan Belenggu Obsesi
79
Tenunan Janji dalam Kemewahan
80
Puncak di Atas Altar Kristal
81
Cakrawala di Balik Jendela Kayu
82
Sauh di Muara Kedamaian
83
Simfoni dalam Kotak Beludru
84
Benih di Musim Semi
85
Pelabuhan Kecil di Ujung Penantian
86
Gema Tawa di Meja Perjamuan
87
Bayang-Bayang di Balik Cahaya Senja
88
Badai Sebelum Cahaya Pertama
89
Mahkota Berduri di Pucuk Fajar
90
Reruntuhan Langit di Atas Kepala
91
Arang di Atas Salju
92
Takhta di Atas Pegunungan Es
93
Pelita di Tengah Musim Dingin
94
Akar yang Menguat, Bunga yang Rekah
95
Memahat Langit di Atas Karang
96
Prasasti Cinta di Setiap Langkah
97
Gema di Balik Keramaian
98
Gema yang Tertinggal
99
Perjamuan Di Atas Luka Lama
100
Cermin di Balik Keramaian
101
Labirin Sunyi
102
Sambungan yang Tak Disengaja
103
Getaran yang Tak Bernama
104
Gelombang Perasaan
105
Rahasia yang Terpendam
106
Gema di Dinding Motel
107
Menghadapi Seldin
108
Restu yang Didapatkan
109
Jembatan Kecil di Istana Kaku
110
Awal yang Baru
111
Epilog: Lingkaran Takdir di Motel Tua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!