Poppen

Poppen

Prolog

...Batavia, 1941...

Di sebuah ruang kerja kantor kolonial, seorang wanita duduk tegak di balik mesin tik. Jemarinya bergerak tangkas, menghasilkan deretan denting yang rapat dan berirama tubuhnya ramping, rambut hitam panjangnya diikat rendah, berkilau di bawah cahaya mentari yang menerobos dari jendela besar. Sesekali ia menunduk memeriksa tumpukan berkas di sebelahnya.

Tidak jauh dari sana, seorang pemuda Belanda berdiri bersandar di lemari arsip, kedua tangannya terlipat. Mata birunya mengamatinya tanpa jeda.

“Njonja… eh, Nona, bolehkah saya… menanyakan sesuatu?” suaranya memecah sunyi.

Kemuning tidak mengangkat kepala, hanya menjawab datar, “Kalau pertanyaan itu akan membuat pekerjaan saya tersendat, Tuan, sebaiknya ditunda saja.”

Pemuda pirang itu tersenyum kecil, seolah mendapat tantangan. “Mengapa Nona tidak menoleh barang sebentar? Saya merasa seperti bercakap dengan dinding.”

Kali ini Kemuning menghentikan ketikannya. Ia mengangkat wajah, menatapnya langsung. “Tuan, sudikah berhenti menatap saya sedemikian rupa? Sukar bagi saya menulis rapi apabila diawasi laksana pesakitan di pengadilan.”

Pemuda itu terperangah sejenak, lalu terkekeh. “Ah… apakah Nona selalu setegas ini kepada setiap orang baru?”

“Saya berlaku sewajarnya saja,” jawab wanita itu singkat. ”Lagipula, kita belum saling mengenal. Apa kiranya sebab Tuan berlama-lama di sini, bukankah Tuan punya urusan lain?”

Pemuda itu mengangkat bahu. “Saya terkejut menemukan seorang inlander, terlebih seorang perempuan, duduk di posisi ini. Biasanya… mereka di rumah, berkutat dengan dapur, sumur, dan—”

Kemuning memotong cepat, “—kasur? Saya masih mengurus rumah. Dan itu bukan pekerjaan remeh, Tuan. Perempuan rumah tangga tak kalah terhormatnya dari saya. Yang jarang bukanlah perempuan pribumi yang cakap, melainkan kesempatan yang diberikan,” bibirnya melengkung tipis. “Tuan sebaiknya mencuba mengurus rumah barang sehari. Nanti Tuan akan tahu kecakapan yang dibutuhkan untuk itu tidaklah remeh.”

Pemuda itu menggaruk tengkuknya, malu.

“Maaf, bukan maksud saya mengkerdilkan kaum perempuan, melainkan ingin memujimu. Saya akui, saya terlampau gegabah menilai kemampuan perempuan dengan sebelah mata. Saya malahan senang, pekerja perempuan dengan kepandaian seperti anda berada disini. Papa saya tidak keliru memilih pekerja.”

“Rupanya Papa anda petinggi di sini? Tak heran anda bisa leluasa di sini, Tuan Adrian Van Ankeren?” perempuan berkulit kuning langsat itu menyeringai sinis. Sepasang mata biru di hadapannya terbelalak, menandakan tebakan itu tepat.

“Kembalilah ke istana anda yang nyaman, atau bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Ini bukan tempat bermain,” saran wanita itu dengan nada tajam.

Pemuda pirang itu menunduk. “Saya sungguh-sungguh memohon maaf.”

“Maaf hanyalah awal, yang lebih penting adalah perbaikan selepasnya,” perempuan itu menjelaskan. “Apakah anda sungguh paham kesalahan anda, ataukah permintaan maaf ini sekadar menyudahi masalah?”

Pemuda pirang itu menunduk, “Saya paham letak kesalahan saya, sayangnya semakin banyak saya berbicara, tampaknya semakin mengganggu anda. Sungguh saya sekadar ingin menyuarakan kekaguman saya terhadap Puan. Sekali lagi mohon maaf, saya undur diri,” ia berbalik dan menjauh dengan gontai.

“Lakukan selain di waktu bekerja,” pesan wanita pribumi itu mengembuskan angin segar. Adrian sontak memutar kepalanya demi menatapnya haru. Matanya berkilauan layaknya anjing terlantar yang baru saja menemukan pemilik baru.

“Apakah anda tidak keberatan berbincang lagi dengan saya setelah ini?” pria berkulit putih itu memastikan pendengarannya dan kesimpulan yang ia tangkap.

“Jika saya punya waktu luang dan anda tidak bermaksud buruk, ya,” jawab wanita pribumi itu sambil membolak balik kertas di mejanya, seolah tak peduli.

“Baiklah, siapa nama Puan?” rasa tidak sabar menyelimuti Adrian. Ia ingin semakin mengenal sosok wanita di hadapannya kini.

“Kemuning,” wanita berbusana kerja rapi itu menjawab singkat sambil tersenyum kecil.

...-oOo-...

Sore itu, selepas jam kantor, Adrian menunggu di dekat pintu keluar. Ketika Kemuning muncul, ia menyapanya dengan senyum penuh harap.

“Boleh saya meminta waktu Nona sebentar?”

“Hanya satu jam,” Kemuning berkompromi.

Pemuda berkulit putih itu mengajaknya menuju halaman kantor. Di bayangan pohon trembesi tua itu Adrian membentangkan Bataviaasch Nieuwsblad yang dikumpulkannya sebagai alas duduk. “Silakan duduk, Nona.”

Wanita berkemeja putih itu tertawa kecil melihat sisi kekanakan di diri pria Nederlander di hadapannya. “Seperti hendak piknik saja.”

“Memang. Piknik kecil. Apakah Nona sering piknik?”

“Tak pernah,” jawab Kemuning sambil menatap rerumputan.

Adrian membuka tas kulitnya, mengeluarkan bungkusan kertas berisi roti. “Kalau begitu, biarkan ini menjadi piknik pertama Nona. Alsjeblieft (silakan).”

Kemuning menatap roti itu, “Benarkah saya boleh ambil?”

“Boleh. Saya bahkan jemu menyantapnya,” pemuda Belanda itu mengangguk.

“Tak patut mencela makanan seperti itu. Andaikata Tuhan tidak lagi berkenan memberimu makanan, bagaimana?” wanita bijaksana itu menasihati.

“Tuhan, ampuni saya, terima kasih. Mohon maaf roti, saya tarik kembali ucapan saya.” Adrian segera menyesali tindakannya, bahkan sampai mengajak bicara roti di depannya.

Kemuning terkekeh melihat aksi pemuda tampan di depannya, “Tuan sungguh jenaka!”

“Saya tahu,” sahut Adrian singkat, binar mata birunya penuh optimisme.

Kemuning meraih roti di depannya, “Dank je wel (terima kasih),” ia menyantapnya sambil memerhatikan pria percaya diri itu.

Tidak bisa ia pungkiri ketampanannya, dengan sikapnya yang menawan pasti melenakan bagi wanita yang ia beri perhatian. Ia tidak mengerti alasan pemuda ini mendekatkan diri padanya, sedangkan ia bisa menebak, pasti banyak wanita bersedia mengantre demi memperebutkan pemuda memesona dari keluarga makmur ini.

“Mengapa mengajak saya?”

“Nona menarik. Nona mampu menatap mata saya ketika bercakap. Kebanyakan perempuan bumiputra menunduk pada Nederlander seperti saya, seakan rendah budi.” Adrian menjelaskan alasannya.

Kemuning menghela napas, “Begini Tuan, perempuan bumiputra itu acap kali menunduk bukanlah lantaran rendah budi, melainkan karena tekanan dan timpangnya kedudukan. Ancaman dari bangsa Anda, nyata ataupun tersirat, membuat banyak di antara mereka segan mengangkat muka. Semestinya Tuan beriba hati dan bertanya-tanya, apakah gerangan yang membikin mereka bergidik seperti melihat hantu tatkala bertemu seorang Nederlander.”

Uraiannya tak pelak membuka pandangan Adrian, seakan tersadar dari pemikiran sempitnya. “Alangkah buruknya, rupanya, perlakuan bangsaku terhadap bangsamu,” katanya dengan nada berat.

“Izinkan saya, mewakili kaum saya, menyampaikan maaf. Sejujurnya, Nona, saya malu mendengarnya.”

“Saya benci akan perbedaan yang dijadikan alasan untuk merendahkan,” lanjutnya perlahan. “Di keluargaku, usaha ini didirikan dengan tekad memberi kesempatan yang setara, tanpa memandang warna kulit atau asal-usul. Vader dan Moeder sama sekali tidak menyukai pembedaan bangsa.”

“Saya percaya akan niat baik itu, Tuan.” Kemuning tersenyum tipis, “Di sini kami diperlakukan dengan patut, dan itu lebih dari sekadar upah. Kami merasa dihargai. Tolong sampaikan terima kasih kami kepada ayahanda Tuan. Beliau pemimpin yang bijaksana.”

Adrian mengangguk, meski dalam hati menyesal, Mengapa pula pembicaraan ini jadi menyerempet keluargaku? Bukankah ini terkesan aku menyombongkan diri sebagai anak majikan? pikirnya.

Ia menengadah menatap langit, berusaha mencari topik lain. “Mengapa langit siang itu biru?” cetusnya spontan, “Apakah lantaran memantulkan warna laut?”

Kemuning terkekeh halus, “Ah, itu keliru yang kerap terjadi. Semua warna dihamburkan oleh molekul udara, Tuan. Hanya saja, sinar matahari lebih banyak memancarkan cahaya biru, dan mata kita pun lebih peka terhadapnya. Itulah sebabnya langit tampak biru pada siang hari.”

Adrian menatapnya takjub, “Nona selalu berhasil mengejutkan saya. Dari mana kiranya pengetahuan itu diperoleh?”

“Saya gemar membaca,” jawab Kemuning sambil mengingat-ingat. “Sepertinya saya membacanya dalam ensiklopedi pengetahuan alam.”

“Bisa kuterka Nona termasuk murid pandai di sekolah. Boleh tahu, pernahkah Nona bersekolah?” Adrian penasaran.

“Ya, saya sudah lulus dari AMS—Algemene Middelbare School,” sahut Kemuning. “Bukan lantaran saya bangsawan, melainkan kebetulan Ibu mengajar di sana, sehingga saya bisa bersekolah.”

Mata biru pemuda itu menunjukkan binar kekaguman, “Ibu Nona pasti seorang yang terpelajar dan berbudi, hingga membentuk putri yang gemar akan ilmu. Beliau pasti berbangga hati.”

“Terima kasih, Tuan. Saya anggap itu sebagai sanjungan,” jawab Kemuning sambil menunduk malu.

“Aha, rupanya Nona senang disanjung juga?” goda Adrian.

“Saya pantas tersanjung apabila yang dihargai adalah kemampuan, bukan sekadar paras.” jawab wanita itu. “Sering kali kaum lelaki hanya memandang perempuan sebagai pemanis mata.”

Adrian terkikik. “Tenang saja, paras Nona tidak semenarik itu.”

Kemuning menepuk punggungnya pelan dengan kesal. “Terima kasih atas kejujuran yang tidak diminta.”

Namun Adrian segera menambahkan dengan nada lembut, “Tetapi Nona tetap menarik. Cantik tidaklah selalu menjadi syarat untuk menarik hati, bukan?”

“Ah, Tuan ini mengolok-olok lagi,” sahut Kemuning pura-pura merajuk. “Kalau begitu, saya pergi saja,” ia bangkit, hendak melangkah.

Adrian segera menahan tangannya. Tatapannya kini serius. “Saya berbohong. Nona cantik.”

Dalam hatinya tersirat pikiran, Itu pula yang membuatku terpikat selain kepintaranmu.

Bujukan itu berhasil membuat Kemuning duduk kembali, “Aku pun bergurau. Tidak mengapa disebut buruk rupa, asalkan tidak buruk hati,” ia tersenyum geli.

Sejenak mereka saling pandang, hingga Adrian memberanikan diri berkata, “Boleh saya berkawan dengan Nona seterusnya?”

“Bukankah kita telah berkawan, Tuan?” Kemuning menjawab dengan senyum manisnya. “Mestinya justru saya yang bertanya, sudikah Tuan Muda Eropa ini berkawan dengan kasta bumiputra seperti saya?”

“Hei jangan menyindirku,” respon Adrian sambil tertawa. “Nona tahu benar, saya bukan seperti Nederlander kebanyakan, yang sombongnya menyaingi tingginya matahari.”

Mereka menikmati sore itu dengan perbincangan penuh gurauan dan sesekali gelak tawa, seperti sudah berkawan sejak lama. Itulah kali pertama perjumpaan Adrian dengan Kemuning. Semenjak itu Adrian, Nederlander sang anak pemilik perusahaan, terus mengekori Kemuning, Inlander yang penuh potensi, di luar waktu bekerjanya. Mereka menjadi sering menikmati waktu makan bersama sambil berbincang di tengah waktu istirahat siang, atau sepulang mereka bekerja. Kedua insan yang unik itu saling melengkapi, layaknya kawan yang telah ditakdirkan untuk bertemu dan berbagi sudut pandang yang berbeda.

Terpopuler

Comments

Moon.

Moon.

pria belanda naksir wanita pribumi di novel : wahh romantis banget sih 🥰🥰😍
pria belanda naksir wanita belanda di real life : mati gue 💀💀💀

2025-02-27

2

Yenyuan

Yenyuan

jadi mikir, kalau kita ini termasuk nya hoki gasih lahir di tahun segini? Soalnya dulu sekolah tuh katanya cuma buat kaum bangsawan dan biasanya perempuan bakal dianggap rendah

2025-04-04

1

neng ade

neng ade

aku hadir thor atas rekomendasi dari reader @anaknya Baba 🙏❤️

2025-04-14

1

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 My Best Buddy
3 and Now Partner in Crime
4 Sense of Nostalgia
5 Prejudice
6 Starting Point
7 Relate
8 Such a Long Night
9 Conflict
10 The Apologize
11 And The Plan Canceled
12 Home Sweet Home
13 Stuck
14 The Lost Colonel
15 Seeking The Past
16 The Old New Things
17 Probability
18 Friends
19 Friends II
20 Bullying
21 Entertained
22 Bullying II
23 Accident
24 After Incident
25 Nihon Matsuri
26 You've Got a Friend
27 Behind the Scene
28 School Festival
29 Reunion
30 Hidden Feeling
31 Birthday Bash
32 The Last Dance
33 Keep Being Hidden
34 Presence
35 Longing
36 The Answer
37 It Takes Good Teamwork to Raise a Child
38 Love Hate Relationship
39 Picnic
40 Love Hate Relationship II
41 Synchronize Our Frequencies
42 a Symphony Unraveling
43 Attachment
44 Attachment II
45 Destiny's Veil
46 The Letter
47 The Abduction
48 The Abduction II
49 Transactional Love
50 Disappear into Thin Air
51 New Horizon
52 My Roots
53 Stalker
54 Stalker II
55 a Goodbye
56 That's What Friends are For
57 Betrayal
58 Another Work to Do
59 Broken Heart
60 Reconciliation
61 Paranormal Experience
62 Gomenasai
63 Superhero
64 Graduation
65 Farewell Amsterdam
66 Welcome Home
67 Acceptance
68 Comeback
69 a Pleasant Surprise
70 Worries
71 Take a Chance
72 For The Queen I Adore
73 Misunderstanding
74 Engagement
75 Employee Gathering
76 Employee Gathering II
77 What a Surprise
78 What a Surprise II
79 Showdown
80 The Realization
81 a Flutter of Emotions
82 Surrender
83 Collision of Fate
84 Two Love Birds
85 The Center of My World
86 a Symphony of Lights and Love
87 The Colonial Night Affair
88 Lost in Thought
89 Lonely Souls
90 Lovely Performance
91 Finally Forever
92 The Dark Horse (TAMAT)
93 New Novel from Poppen Universe
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Prolog
2
My Best Buddy
3
and Now Partner in Crime
4
Sense of Nostalgia
5
Prejudice
6
Starting Point
7
Relate
8
Such a Long Night
9
Conflict
10
The Apologize
11
And The Plan Canceled
12
Home Sweet Home
13
Stuck
14
The Lost Colonel
15
Seeking The Past
16
The Old New Things
17
Probability
18
Friends
19
Friends II
20
Bullying
21
Entertained
22
Bullying II
23
Accident
24
After Incident
25
Nihon Matsuri
26
You've Got a Friend
27
Behind the Scene
28
School Festival
29
Reunion
30
Hidden Feeling
31
Birthday Bash
32
The Last Dance
33
Keep Being Hidden
34
Presence
35
Longing
36
The Answer
37
It Takes Good Teamwork to Raise a Child
38
Love Hate Relationship
39
Picnic
40
Love Hate Relationship II
41
Synchronize Our Frequencies
42
a Symphony Unraveling
43
Attachment
44
Attachment II
45
Destiny's Veil
46
The Letter
47
The Abduction
48
The Abduction II
49
Transactional Love
50
Disappear into Thin Air
51
New Horizon
52
My Roots
53
Stalker
54
Stalker II
55
a Goodbye
56
That's What Friends are For
57
Betrayal
58
Another Work to Do
59
Broken Heart
60
Reconciliation
61
Paranormal Experience
62
Gomenasai
63
Superhero
64
Graduation
65
Farewell Amsterdam
66
Welcome Home
67
Acceptance
68
Comeback
69
a Pleasant Surprise
70
Worries
71
Take a Chance
72
For The Queen I Adore
73
Misunderstanding
74
Engagement
75
Employee Gathering
76
Employee Gathering II
77
What a Surprise
78
What a Surprise II
79
Showdown
80
The Realization
81
a Flutter of Emotions
82
Surrender
83
Collision of Fate
84
Two Love Birds
85
The Center of My World
86
a Symphony of Lights and Love
87
The Colonial Night Affair
88
Lost in Thought
89
Lonely Souls
90
Lovely Performance
91
Finally Forever
92
The Dark Horse (TAMAT)
93
New Novel from Poppen Universe

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!