“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
•••
Giselle melangkah memasuki kelas di mana Jio berada, mendapati sosok gagah yang sedang duduk di kursi pojok ruangan tersebut.
"Kak Jio… selamat pagi…” Sapa Giselle.
"Kenapa kau ke sini? Kelas akan segera dimulai."
Giselle mengendikan bahu, "Aku tahu, aku malas masuk kelasku jadi aku berencana bolos di sini hehe..."
Gadis itu duduk di kursi sebelah Jio.
"Lebih baik kau keluar sebelum Dosen datang."
"Tidak mau."
Jio menghela nafas, "Kau bisa tidur semalam?"
Giselle tersenyum lebar, "Berkatmu aku bisa tidur dengan nyenyak”
“Emh… Jio.. nanti malam, ikut aku ke club ya..."
"Tidak."
"Kenapa? Aku kan sudah lama tidak ke sana."
"Pergi sendiri, aku ada urusan."
"Hah, kau mulai lagi," Decak Giselle.
"Temani aku ke sana ya, ya, ya? Aku mohon..." Bujuk Giselle dengan wajah memelas.
"Sudah aku bilang ada urusan."
"Sebentar saja, aku janji akan jadi gadis baik setelah itu sungguh."
Meski sudah merengek dan memaksa berulang kali tetap saja pria itu memilih mengabaikan Giselle.
"Oh begitu, baiklah..." Giselle memajukan wajahnya untuk berbisik di telinga Jio, "Kalau begitu berarti kau tidak keberatan jika aku menggunakan kartu AS-ku sekarang."
Sebenarnya Giselle selalu merasa bersalah setiap kali menggunakan ancaman itu, namun sikap dingin Jio yang kembali ditunjukkannya membuat Giselle kesal.
Jio memijat pelipisnya frustasi, sedang Giselle menyeringai menganggap dirinya sudah menang.
"Tidak bisa."
Giselle terperangah tak percaya, "Apa?!"
"Aku benar-benar tidak bisa, kali ini urusanku tidak ada kaitannya dengan kartu AS-mu itu. Jadi lakukan apapun yang kau mau."
"Tck... baiklah aku akan pergi sendiri tapi kau harus menjemputlku setelah itu, awas saja kalau kau sampai tidak datang."
"Terserah. Pergilah."
"Dasar, ya sudah aku pergi... puas?"
Giselle kemudian beranjak keluar dari ruang kelas itu dengan perasaan kesal seraya menghentakkan kakinya.
•••
Suasana club yang pengap oleh asap rokok serta dentuman keras musik dari balkon DJ membuat lantai di ruangan itu seakan bergerak.
Tubuh-tubuh berkeringat menjadi satu di tengah lantai dansa yang tak pernah sepi tersebut, jika orang-orang di sana tampak menikmati beda halnya dengan Giselle.
Gadis itu duduk di bar dengan gelas bir yang berderet, entah sudah berapa banyak bir yang telah ditenggaknya.
Hingga Karina dan Yesha yang berjalan sempoyongan menghampirinya.
"Kau mau menghabiskan semua minuman di sini? Kau bisa mati kalau begitu." Ujar Yesha mulai jengah.
Karina mengangguk setuju, "Lebih baik kita pulang, lagipula sudah jelas Jio tidak akan datang. Bukankah dia bilang ada urusan..."
Mendengar itu, Giselle kembali meneguk minuman di hadapannya dengan sekali tenggak. Ia mengernyit dan menggelengkan kepala beberapa saat akan sensasinya. Kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja bar, bertumpu pada kedua lengannya.
Giselle mengingat kembali hari ketika ia membawa Jio ke columbarium Ibunya, tak habis pikir olehnya kenapa ia mengajak Jio pergi ke sana bersamanya. Padahal Karina dan Yesha saja tak tahu bahwa Ibunya telah meninggal, mereka bahkan tidak tahu jika Giselle di adopsi.
Tapi Jio, dengan mudahnya Giselle membagi hal yang sangat pribadi dengan pria itu.
Ia merasa aman dan terlindungi.
Giselle semakin terbayang akan perilaku Jio terhadapnya. Bagaimana pria itu mengajarinya cara berdoa, menenangkannya saat ketakutan, dan yang terpenting pria itu selalu berbalik saat Giselle memanggil namanya tak peduli seberapa kesal pria itu terhadapnya.
Jio bisa sangat hangat, tapi kenapa ketika Giselle pikir Jio mulai membuka jalan untuknya, pria itu selalu menolak di setiap kesempatan. Giselle tak mengerti, disaat ia merasa Jio membiarkannya masuk disaat itu pula ia akan melihat tembok besar yang menghalangi jalannya.
"Menyebalkan." Gumamnya.
'Apakah memang seperti ini rasanya menyukai seseorang?'
'Kadang jelas dan kabur disaat bersamaan.'
'Bisa hangat bisa juga dingin.'
"Sialan..."
Giselle kembali meneguk habis minuman tersebut tanpa jeda, seketika sentakan pusing melanda kepalanya.
Karina bangkit dari duduknya, "Tak bisa dibiarkan, ayo pulang..."
Ketiga gadis dengan keadaan yang tak jauh berbeda itu saling memapah satu sama lain keluar menuju parkiran club tersebut.
Giselle merasakan perutnya bergejolak, pandangannya mengabur, jalannya semakin tak terkendali. Kepalanya sangat sakit hingga rasanya seakan mau pecah.
Giselle merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari tenggorokannya. Ia menepuk bahu Karina dan Yesha, mendorong mereka menjauh lalu memuntahkan isi perutnya dibalik tiang beton parkiran tersebut.
Giselle tak pernah mabuk sampai seperti ini, ia sering mabuk namun masih bisa membedakan mana gelas dan mana botol. Tapi malam ini agaknya ia terlalu banyak menenggak minuman beralkohol itu hingga taraf kemabukan yang biasa ia kuasai tak lagi dapat dikontrol olehnya.
"Eohhh... kita semua mabuk, jadi siapa yang akan mengemudi?" Ujar Yesha.
"Jangan tanya aku, kepalaku sakit..." Sahut Karina yang bersandar pada badan mobil didekat situ. Ia merogoh ponselnya, membuka aplikasi pesan, lalu menekan fitur kirim foto untuk mengirimkan selfie dirinya yang terlihat berantakan tak lupa foto candid Giselle yang duduk berjongkok sibuk memuntahkan isi perutnya– kepada seseorang.
"Sial... kalian... harusnya tak ikut-ikutan mabuk, agar kita bisa pulang..." Ucap Giselle seraya mengelap bibirnya dengan tangan.
"Tenang saja, kita bisa pulang." Sahut Karina, mengambil tissue pocket di dalam tas lalu melemparnya pada Giselle tapi meleset dan malah berakhir tergeletak di lantai.
"Sialan..." Umpat Giselle namun tetap memungut tissue tersebut.
•••
Disisi lain Jio tengah menghadiri tradeshows perusahaan Ayahnya yang juga dihadiri para client penting, salah satunya Tuan Yuta Kawashima yang merupakan Ayah dari Yoshi turut hadir pada acara tersebut bersama sang putra.
"Demonstrasi layanan baru di perusahaanmu itu luar biasa dan sepertinya akan sukses besar, para colleague juga sependapat." Ucap Yuta.
Keenan tersenyum bangga, "Ya aku harap begitu, ini juga terjadi berkat kerja keras semua orang yang terlibat."
"Ini benar-benar menarik minat para client. Itu sebabnya aku selalu bersemangat tiap kali mengajukan proposal bisnis denganmu, karena aku tahu perusahaanmu selalu punya gagasan-gagasan yang brilian."
Keenan terkekeh mendengar ucapan Yuta, "Ya, kau tak perlu meragukan kami."
"Aku berharap kerjasama kita berjalan lancar sampai generasi berikutnya. Bukan begitu Yoshi, Jio?"
"Tentu saja, Ayah dan Paman tak perlu khawatir." Sahut Yoshi bersemangat sedang Jio hanya mengangguk setuju.
Keenan dan Yuta beranjak untuk menyapa para tamu yang datang menyisakan Yoshi dan Jio ditempat.
Drrrtt drrrtt
Yoshi merogoh ponsel disaku dalam jasnya, nampak pesan masuk dari Karina tertera di pop-up layar tersebut. Yoshi sedikit tersenyum karenanya, kemudian melihat isi pesan tersebut yang sedetik kemudian membuat raut wajahnya berubah.
Jio menyadari akan hal itu, "Kenapa?"
"Karina mengirim foto selfienya padaku, tapi ada foto Giselle juga dan keadaannya–"
Yoshi menunjukkan foto Giselle yang dikirim oleh Karina padanya, "Karina bilang Giselle mabuk parah."
"Gadis ini sungguh tidak tahu cara berpakaian dengan benar."
"Kau malah mengomentari cara berpakaiannya, yang benar saja..."
Jio menghela nafas kasar, "Hei... hapus fotonya." Ucapnya tak acuh.
"Kenapa? Ini bagus." Sahut Yoshi tersenyum jahil.
Jio mendelik kesal.
"Ma- maksudku Karina bukan Giselle hehe..." Ucap Yoshi kelabakan.
"Hah... sebenarnya kapan dia akan berhenti membuat masalah?"
Jio merasa kesal dan cemas disaat yang bersamaan, Giselle selalu berhasil membuatnya begitu.
"Apa kau tak menjawab panggilannya? Karina juga mengatakan Giselle meneleponmu berulangkali."
"Aku mematikan ponselku."
"Oh… sekarang aku mengerti kenapa Giselle sampai seperti ini," Gumam Yoshi.
"Sebaiknya kita segera pergi untuk menjemput mereka."
Jio mengangguk, "Ya benar."
•••Vienbluu (annavienbluu)