Indonesia
NovelToon NovelToon
Sugar Mommy

Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Nikahmuda / Nikah Kontrak
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Callmeyusri

Agung Pramono adalah seorang mahasiswa disebuah fakultas kuliner di sebuah kota Jakarta.Hidupnya berubah total setelah bertemu dengan Sarah Athala Nanda, bosnya di restoran tempatnya bekerja.Sarah seperti malaikat yang datang menolong kehidupannya. Walau beda usia tidak menyurutkan niat Sarah untuk melamar Pramono. Dengan sabar Sarah membimbing Pramono menjadi seorang Chef yang terkenal.Akankah perjalanan cinta beda usia akan berjalan lancar?Atau harus kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callmeyusri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Aska

''Pram…''teriak Sarah dari kamar mandi

‘’Cepat mandi, sayang! Antar aku mencari Aska!'' tambahnya.

''Apa! Aska kemana ?'' Aku segera melompat dari tempat tidurku.

Sarah mandi cuma sebentar. Dengan tergesa dia mengelap kering rambutnya yang basah.

‘’Cepetan mandinya!'' Katanya menarik tanganku masuk ke kamar mandi.

Aku mandi dengan terburu-buru.

Mungkin sepuluh menit aku sudah selesai mandi. Sarah sudah berpakaian rapi dan memakai hijabnya. Dia juga memberesi barangnya yang tergeletak di kasur.

Aku berganti pakaian santai. Kaos oblong hitam dan celana pendek hitam. Setelah kusisir rapi rambutku, aku menemui Sarah yang sudah menungguku di ruang tamu.

Wanita itu segera menggandengku keluar rumah dan memberikan kunci mobil kepadaku.

Wajah yang tadi gembira mendadak cemas. Ada apa dengan Aska?

Mobil mercy warna merah kupacu cepat menyusuri jalan-jalan di Jakarta Selatan.

Kemana,Yang?" tanyaku dengan mata mengawasi jalan raya.

"Kita ke Pondok Indah," jawabnya sembari melihat ponselnya.

"Aska ditahan polisi. Karena dia memukul temannya nongkrong di Mall Pondok Indah." Sarah menjelaskan kepadaku.

"Tadi dia bilang sama aku mau beli sesuatu dengan teman-temannya. Kok bisa begitu Aska," gumamnya lirih.

Aku tidak bisa berkomentar. Tentunya berat bagi Sarah untuk mengatur ketiga putranya dan mengurus bisnis. Dia butuh seorang pendamping yang bisa menjaganya dan anak-anaknya. Tetapi mengapa dia memilihku.

"Tenang sayang. Pasti kita bisa bertemu dengannya," hiburku.

Perlahan air mata Sarah keluar dari pelupuk matanya. Dengan buru-buru dia menyeka air matanya itu.

"Sudahlah sayang. Jangan sedih. Nanti aku yang bicara dengan Aska."

"Aska belum mengetahui hubungan kita, Pram," ujar Sarah pelan.

"Aku takut dia tambah ngambek, dia anaknya pendiam. Mungkin ada sesuatu yang membuat Aska nekat memukul temannya," tambahnya lagi.

Aku hanya menghela nafas panjang. Sambil terus mengemudi mobil ke arah Kapolsek Pondok Indah.

Sesaat kemudian, kami sudah sampai di kantor polisi Pondok Indah.

Sarah tergesa-gesa masuk ke kantor itu. Aku mengikuti Sarah dari belakang.

Kulihat Aska nampak santai dengan memainkan ponselnya. Dia duduk

rileks di kursi panjang. Aska hanya mengenakan kaos tanpa kerah warna hitam, sandal dan

celana coklat

"Aska," panggil Sarah kepada putranya.

Aska berdiri, menatap dingin terhadap Sarah. Wanita itu memeluk putranya.

"Ada apa, Nak?" tanya Sarah.

Anak itu hanya diam. Tatapannya kosong. Aska tidak membalas pelukan Sarah. Anak itu memandangku sebentar. Aku tersenyum menatapnya.

Setelah Sarah menandatangani surat perjanjian dengan polisi. Sarah bisa membawa pulang Aska. Anak itu nampaknya masih kesal. Wajahnya menunduk tidak banyak bicara.

Sarah mengisyaratkan kepadaku untuk pulang. Segera kukemudikan mobil mercy warna merah itu. Meninggalkan kantor polisi. Sarah menggandeng putranya masuk ke dalam mobil. Mereka duduk berdua di kok belakang.

Aku hanya diam melihat Aska dan Sarah. Di dalam mobil Sarah memeluk putranya. Sementara Aska masih acuh saja.

"Kita langsung pulang, Mom?" tanyaku memecah keheningan.

"Iya, Pram," sahut Sarah.

"Mom kok bisa bareng Mas Pram?" selidik Aska.

Aku terkejut mendengar pertanyaan Aska, hingga kakiku tanpa sengaja menginjak rem.

Ciiiiit....

"Hati-hati, Pram!" teriak Sarah memegangi kepalanya yang terantuk jok di depannya.

"Iya, Mom," jawabku dengan hati berdebar.

Aska sudah mulai curiga dengan keberadaanku. Sarah pasti sudah mempersiapkan jawaban untuk Aska.

"Mom..." panggil Aska kepada Sarah.

"Mom pulangnya telat. Sekarang dengan Mas Pram. Dari mana?" tanyanya lagi.

Kulirik Sarah dari kaca depan. Kupandangi wajahnya yang sedikit berubah. Kasihan kamu Sarah. Mengapa kamu tidak berterus terang dengan putramu?

"Mom kerja sayang. Banyak sekali pekerjaan. Tadi Aska kan ijin sama Mom mau belanja kan?" jawab Sarah sedikit tergagap.

"Kok bisa bareng Mas Pram," tanyanya lagi.

"Mom menelponku, Aska," selaku membantu Sarah yang sudah kebingungan.

"Mas Pram kasihan lihat Mom sendirian mengemudi mobil malam- malam begini," tambahku sembari terus mengamati jalan raya.

Mendengar jawabanku, Aska terdiam. Kudengar Sarah menghela nafas panjang.

Maafkan aku ya Aska! Ini semua atas permintaan ibumu. Perasaan bersalah di hatiku karena merebut perhatian ibunya.

Tak lama kemudian, kami sudah sampai di rumah Sarah. Bi Iyem sudah menunggu di depan rumah. Aska dengan kasar membuka pintu mobil dan masuk ke dalam rumah.

Remaja itu tidak menatapku. Dia juga meninggalkan ibunya. Sarah keluar dari mobil dan menghampiriku.

Sarah mendekatiku sambil berbisik," terima kasih ya sayang."

Kamu pulang naik taksi saja. Aska biar aku yang pegang. Namanya juga anak remaja," kata Sarah dengan muka yang masih sedih.

"Aku pulang ya, Yang." Kutatap wajahnya sendu. Ingin aku memeluknya untuk memberikan kekuatan kepadanya. Tetapi dia melarangku karena bi Iyem memperhatikan kami berdua.

Ingin aku mendekapmu dan mengelus kepalamu, Sarah. Wanita lemah yang berusaha kuat demi anak-anakmu. Aska sudah remaja sudah mulai mengerti.

"Bi, aku pulang ya!" kataku pada bi Iyem yang berdiri di depan pintu.

"Terima kasih ya, Mas Pram," sahut bi Iyem sambil tersenyum.

Waktu sudah malam, kulirik arlojiku sudah pukul 12 malam. Hanya terdengar serangga yang bersahut- sahutan. Mendung tipis menutupi Rembulan yang bersinar. Kembali aku menengok ke arah Sarah. Wanita itu masih berdiri dan melambaikan tangannya.

Aku melambaikan tanganku dan segera naik taksi yang sudah dipesan. Maafkan aku ya Sarah belum bisa membantumu.

Akhirnya aku sampai di rumah kontrakanku yang baru. Segera kuganti bajuku dengan yang bersih. Perlahan kurebahkan tubuhku di kasur empuk itu.

Mataku menatap langit-langit kamar. Bayangan Aska kembali mmenyelinap dipelupuk mataku. Remaja itu sudah mulai curiga dengan ibunya. Karena kehadiranku. Dia tidak mengetahui bahwa aku sudah menikahi ibunya.

Pikiranku tidak tenang. Perlahan kubuka ponselku dan menulis pesan untuk Sarah.

(Sayang, bagaimana dengan Aska. Apakah dia masih ngambek?)

Pesan kukirim ke nomernya Sarah. Lama baru terlihat masih centang satu. Aku gelisah. Badanku hanya bolak balik di atas kasur. Mungkin Sarah kecapian langsung tidur.

Aku kaget ketika tanganku menyentuh benda lengket yang berada di atas kasur.

"Apaan nih," batinku sambil menyentuh benda itu.

Baunya menyeruak hidungku. Aku tersenyum sendiri. Tadi memang terjadi pergulatan besar hingga tidak sempat membersihkan sepreinya.

Hah... Aku tertawa cekikikan sendirian.

Malam-malam begini harus mengganti seprei. Kucari seprei pengganti di lemari pakaian. Ada satu seprei dengan motif bunga mawar besar. Cowok kok motifnya bunga. Biarlah...

Setelah semua rapi, kembali kurebahkan badanku di kasur. Aku tersenyum kecut. Memeluk guling besar yang ada di sebelahku. Membayangkan Sarah berada di sampingku. Kupikir hidupku seperti drama.

Maafkan anakmu Bu. Aku yang sedang berjuang untuk menghidupi keluargaku sejak ditinggal ayah terjebak dengan permainan Sarah. Wanita itu menjebaku dengan cintanya dan kasih sayangnya.

Aku tidak bisa melihat Sarah sendirian.

Bagaimana seandainya Sarah bertemu dengan laki-laki jahat yang hanya menginginkan hartanya? Hah.. apakah aku laki-laki yang baik?

Suatu saat Aska dan kedua anak lainnya pasti menjadi tanggung jawabku. Aku sekarang sudah menjadi suaminya Sarah. Walaupun pernikahan kita masih di bawah tangan.

Terbayang masa-masa sulit ketika remajaku dan adiku Nita di kampung. Ibu setiap hari jualan nasi pecel dan gorengan untuk menghidupi kami. Ayahku meninggal sejak aku remaja. Sejak saat itu ibuku tidak menikah lagi.

Banyak laki-laki yang ingin menikahinya, tetapi ibu selalu menolaknya. Cintanya terhadap ayah tidak mau diganti dengan kehadiran orang lain. Ibu begitu sabar dan kuat sendirian merawat kami.

Persis dengan yang dijalani Sarah. Wanita itu dengan gigih bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Walaupun Sarah sangat sibuk dan tidak ada waktu buat anaknya.

Mataku tidak mau terpejam. Wajah sendu Sarah dan Aska silih berganti terbayang dalam benakku.

(Sayang... Aska masih ngambek. Dia mengunci pintu kamarnya)

Sebuah pesan masuk dari Sarah.

(Besuk aku ke rumahmu, Yang. Ini urusan laki-laki. ) balasku untuk menenangkan Sarah.

Tidak ada balasan yang ada hanya kiriman stiker dan emoji love.

Aska... dia butuh seorang laki-laki dewasa yang mendampinginya.

1
Irfan Julianto
up
Irfan Julianto
nicee
Irfan Julianto
up
SMILE😊™
suami Santi?
SMILE😊™
semangat
SMILE😊™
semangat kak
Sneha♥️
mampir kak *tentara dan dokter*
HyH030400
mantap thor alur cerita nya, saya tunggu update selanjutnya
Christy amora
Hai thor..

saling support yuk, mampir juga di karya ku " Akhir Penantian Elina " 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!