Sepi mencekam, menyelimuti Dara bak selubung tebal. Hanya deru televisi dan bunyi kunyahan ringan yang memecah kesunyian itu, ironisnya malah semakin menonjolkan kesepian yang menyesakkan dadanya. Kekecewaan, seperti duri yang menusuk dalam, masih mengganjal di hati.
Pengakuannya pada orang tua masih menggantung, tak tersentuh, tak tertanggapi. Mereka, yang seharusnya menjadi benteng perlindungannya, lebih mementingkan karir mereka yang menjulang tinggi daripada anak semata wayang mereka yang tengah merintih dalam diam.
Di antara semburat cahaya biru televisi dan remahan cemilan yang berserakan, pintu rumah berderit pelan. Kedua orang tuanya pulang, wajah lelah mereka terukir jelas di bawah cahaya redup. Dara hanya melirik sekilas, tatapannya datar, tanpa sepatah kata pun. Kekecewaan telah membekukan lidahnya, membungkam suara hatinya yang terluka.
Namun, langkah kaki mereka mendekat, mendekat ke arahnya yang terpaku di sofa. Ibunya menatapnya, dengan kelelahan yang tampak jelas di sorot mata. "Ra, kamu belum tidur?" suaranya terdengar letih, seperti beban yang berat dipikul.
Dara tetap diam, pandangannya terpaku pada layar televisi yang berkedip-kedip. Ibunya menghela napas panjang, napas yang seakan membawa beban kecemasan. "Ra, kamu masih marah ya sama Mamah?" suaranya lembut, namun di balik kelembutan itu tersirat kepedihan.
Keheningan itu menjawab. Keheningan yang lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar sekalipun. Ibunya kembali mencoba, "Kalau kamu diam saja berarti kamu masih marah sama Mamah."
Suara Dara akhirnya pecah, pelan tapi menusuk, "Percuma Dara mengeluh ke Mamah, kalau Mamah nggak bakal sadar." Tatapannya masih tertuju pada layar, menghindari kontak mata, seolah menghindari rasa sakit yang lebih dalam. Kata-katanya jatuh seperti tetesan air mata yang tak terlihat, namun mampu membasahi hati yang telah lama kering.
Anita Pradita, sang ibu, memejamkan mata, menahan gelombang sakit yang menerjang dadanya. Air mata yang tak mampu dibendung menganc…
Cerita Kita
Mamah, Papah
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 60 Episodes
Comments