Leonardo mengira setelah diizinkan kembali ke ranjang utama, penderitaannya akan berakhir. Namun, janin di rahim Olivia tampaknya memiliki agenda lain. Seolah memiliki radar pendeteksi "dosa masa lalu" ayahnya, bayi itu memastikan Leonardo tidak sedetik pun merasakan kenyamanan yang absolut.
Siksaan fisik berubah menjadi siksaan psikis yang jauh lebih melelahkan.
"Leonardo, bangun," bisik Olivia pada pukul dua pagi, suaranya terdengar datar namun menuntut.
Leonardo, yang baru saja terlelap setelah seharian mengurus pembersihan sisa-sisa kartel di pelabuhan, langsung duduk tegak. "Ada apa? Perutmu sakit? Kontraksi?"
"Bukan. Aku tidak bisa tidur karena kau bernapas. Suara napasmu... seperti mesin uap tua. Itu membuat bayinya menendang rusukku terus-menerus," ucap Olivia sambil mengusap perutnya yang kini sudah terlihat jelas membuncit.
"Aku... aku harus berhenti bernapas agar kau bisa tidur?" Leonardo menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Olivia, aku manusia, bukan patung marmer."
"Bayinya bilang kau berisik. Pergi ke pojok ruangan dan berdiri di sana sampai aku tertidur."
Leonardo menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang sangat pelan agar tidak dianggap "berisik". Pria yang ditakuti seluruh Madrid itu kini berdiri di pojok kamarnya sendiri, bersandar pada dinding dingin sambil memegang bantal, hanya karena seorang manusia kecil berukuran beberapa belas sentimeter tidak menyukai frekuensi napasnya.
Aroma Pengkhianatan
Puncak siksaan itu terjadi saat makan siang. Leonardo mencoba membawa hadiah untuk Olivia—sebuah vas kristal berisi bunga lili putih yang sudah dipastikan tidak memiliki aroma tajam. Ia ingin menunjukkan sisi lembutnya di depan ibunya dan Marco.
Namun, begitu Leonardo melangkah masuk ke ruang makan, Olivia langsung menutup hidungnya dengan serbet.
"Bau apa itu? Bau busuk apa yang kau bawa masuk?" pekik Olivia, matanya berkaca-kaca karena mual yang tiba-tiba menyerang.
Leonardo membeku. "Ini bunga lili, Olivia. Tidak ada aromanya."
"Buka…
Impoten Sang Singa Madrid
Tahanan di rumah sendiri
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 42 Episodes
Comments