Keesokan harinya warga Desa Sumbersoko duduk tanpa bicara, raut wajah mereka tegang bahkan ada yang mengginggil sambil memeluk lutut. Orang lain yang melihat itu akan berpikir, kejadian apalagi yang menimpa mereka? Entahlah, warga masih bungkam atas kejadian yang mereka alami semalam.
“Apa-apaan ini? Apakah usaha kita sebelumnya tidak berhasil? Kenapa kita masih diteror? Padahal kita sudah melenyapkan dalangnya.” Teriak salah satu warga yang duduk di depan rumah. Hal itu membuat warga lain yang berada di luar rumah terkejut. Beberapa dari mereka mendekat untuk bertukar pendapat lagi.
“Apakah tadi malam bapak masih diteror hantu?” Tanya lelaki dengan rambut yang mulai beruban.
“Iya, dan bukan hanya saya. Saya yakin, beberapa warga di sini pasti melihat kedatangan mereka. Hanya saja warga tak mau bicara karena takut mengutarakannya.” Mendengar hal itu, beberapa warga mengangguk pelan lalu tertunduk. Bukannya mereka tak mau mengatakan apa-apa, tetapi mereka takut salah bicara. Biasanya, jika penjahat dalam sebuah kisah sudah ditemukan lalu dihabisi, maka teror apa pun akan ikut menghilang. Namun, yang terjadi di sini berbeda. Keadaan Desa Sumbersoko tak berubah sama sekali, bahkan lebih buruk daripada sebelumnya. Rasa bersalah, ketakutan, dan kebingungan bercampur aduk dalam diri masing-masing. Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi.
“Kang, apakah kita telah salah menghabisi orang? Apakah ada orang lain selain Sukesih yang melakukan semua ini?”
“Aku masih tetap pada prinsipku, tidak ada orang di desa ini yang harus dicurigai selain dia. Tidak ada gerak-gerik yang perlu diwaspadai selain perempuan itu.”
“Jika memang benar Sukesih pelakunya, kenapa hantu-hantu itu tetap muncul?”
“Kenapa aku merasa jika mereka butuh bantuan kita semua? Pelaku memang sudah dibunuh, tetapi kita kan belum menemukan anak kita. Jika mereka meninggal, seharusnya kita menemukan jasad mereka dan menguburnya secara layak.”
“Ya benar. Mungkin hal itulah yang membuat arwah-arwah itu tetap bermuncula…
Jumat Legi
Teror (6)
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 38 Episodes
Comments