Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage

Tidur Sebentar Saja

Dengusan kesal lolos dari bibir seorang wanita yang tengah terkapar di atas kasur busa tipisnya. Kamar apartemen berukuran tiga kali empat meter itu terasa semakin sempit dengan tumpukan berkas kantor yang berserakan. Dia menatap langit-langit plafon yang mulai menguning dengan pandangan kosong.

"Cukup. Aku udah muak banget kerja bagai kuda tapi gaji cuma cukup buat bayar kosan dan makan mi instan," gumamnya.

Lelah yang merayap di tulang-tulang terasa berlipat ganda setiap kali dia mengingat wajah bosnya yang terus menuntut lembur tanpa kompensasi. Hidup di Jakarta benar-benar mencekik leher secara perlahan.

Dia meraba sisi tempat tidur, mencari ponsel untuk sekadar membuang penat dengan menggulir media sosial, tapi benda pipih itu mati total. Baterainya habis.

"Sial banget sih hari ini," gerutunya.

Karena terlalu malas beranjak hanya untuk mencari kabel pengisi daya, dia menyeret tubuh menuju lemari kayu tua di sudut ruangan. Lemari itu adalah peninggalan ibunya yang sudah lama meninggal.

Saat pintu kayu itu berderit terbuka, aroma kamper dan kertas tua menyapa indra penciuman. Di tumpukan paling bawah, sebuah buku bersampul kulit kusam menarik perhatiannya.

Dia mengambil buku itu. Pada halaman pertama yang sudah menguning, terdapat tulisan tangan yang sangat dia kenali.

Untuk anakku tersayang, Rosie Camelia.

"Mama," bisik Rosie. Jemarinya mengusap tulisan itu dengan perasaan sedih.

Dia membawa buku itu kembali ke kasur. Ternyata itu berisi kumpulan dongeng rakyat. Halaman pertama menampilkan judul besar, Bawang Merah dan Bawang Putih. Rosie mendengus, teringat bagaimana dulu ibunya selalu membacakan cerita ini sebelum tidur.

"Astaga, bisa-bisanya aku baca dongeng anak kecil kayak gini? Ck, bocil banget sih aku," sindir Rosie pada dirinya sendiri.

Dia mulai membaca baris demi baris. Tentang seorang gadis bernama Bawang Putih yang disiksa ibu tiri dan saudara tirinya, Bawang Merah. Rosie memutar bola mata saat membaca bagian di mana Bawang Putih hanya diam saja saat bajunya dibuang atau saat dia dimarahi tanpa alasan.

"Enggak logis. Kalau aku jadi dia, udah aku laporin ke Dinas Sosial atau minimal aku balas jambak rambutnya. Kenapa juga harus jadi lemah kayak gitu?"

Baru saja dia hendak membalik halaman ke bagian pertemuan dengan nenek ajaib di hutan, matanya terasa sangat berat. Rasa kantuk yang tidak tertahankan menyerang.

Pandangannya mengabur, buku itu merosot dari tangannya, dan kesadarannya hilang ditelan kegelapan.

Mata Rosie perlahan terbuka, tapi segalanya bergoyang dan buram. Kepalanya berdenyut. Dia mencoba mengerjapkan mata berkali-kali untuk menjernihkan penglihatan.

Hal pertama yang dia sadari adalah aroma. Bukan lagi bau parfum ruangan vanilla murah dari apartemennya, melainkan aroma tanah basah, melati, dan kayu yang terbakar. Dia merasakan punggungnya menyentuh permukaan yang keras dan tidak nyaman.

Saat matanya benar-benar terbuka, dia terperanjat. Dia tidak melihat langit-langit plafon apartemennya. Yang ada di atas sana adalah struktur atap dari anyaman bambu dan rumbia yang tertata rapi di antara balok-balok kayu besar.

"Racun apa yang kamu masukkan dalam minuman putriku?! Kenapa dia belum bangun juga?!"

Suara lengkingan wanita itu memecah keheningan, membuat Rosie terlonjak kaget. Suaranya penuh amarah, sangat dekat dengan tempatnya berada.

"Apaan sih? Berisik banget!" gumam Rosie sambil memijat pelipisnya.

Dia bangkit dari tempat tidur. Bukan kasur busa, melainkan sebuah balai-balai kayu rendah yang dialasi kasur kapuk keras dengan sprei kain jarik cokelat kusam.

Rosie menatap sekeliling dengan bingung. Dinding ruangan itu terbuat dari papan kayu jati tua yang kokoh. Ada sebuah cermin perunggu di atas meja rias kayu di sudut ruangan.

"Ini bukan apartemenku. Ini di mana? Aku diculik ke desa mana?" batinnya panik.

Suara keributan di luar semakin menjadi-jadi. Rosie berjalan sempoyongan menuju pintu yang hanya ditutupi selembar kain gorden putih lusuh sebagai penyekat. Dia menyibak kain itu dengan kasar.

"Loh? Apaan ini? Lagi syuting film kolosal ya?" Rosie bertanya dengan suara parau.

Di hadapannya, seorang gadis muda bersimpuh di lantai tanah beralas tikar pandan. Gadis itu mengenakan kemben putih lusuh dengan kain jarik pudar. Bahunya gemetar, wajahnya basah oleh air mata. Begitu melihat Rosie, matanya membelalak lebar.

"Nona! Nona sudah bangun!" Gadis itu langsung bersujud syukur, bahunya terguncang hebat karena tangis haru.

Rosie terpaku. Di hadapannya juga berdiri seorang wanita dewasa yang penampilannya sangat kontras. Wanita itu mengenakan kemben dari kain sutra berwarna merah marun dengan jarik bermotif parang yang indah.

Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan tusuk konde emas. Wajahnya yang semula merah padam karena marah, tiba-tiba berubah menjadi penuh sukacita yang berlebihan.

"Merah! Kamu sudah bangun, Nak! Terimakasih pada Yang Kuasa, akhirnya anakku sudah pulih!"

Tanpa aba-aba, wanita itu langsung memeluk Rosie dengan sangat erat. Rosie yang merasa sesak dan bingung secara refleks mendorong bahu wanita itu hingga pelukan mereka terlepas.

"Aduh, apaan sih? Lepasin! Kamu siapa? Kalian ini siapa?" tanya Rosie sambil mundur beberapa langkah hingga menabrak tiang kayu.

Seluruh orang di ruangan itu mendadak diam. Beberapa orang yang tampak seperti pekerja rumah tangga yang berdiri di belakang mereka saling berpandangan dengan wajah pucat.

Wanita berbaju merah marun itu memegang dadanya, tampak sangat terkejut. "Kamu bicara apa, Sayang? Aku ibumu! Apa kepalamu terbentur sangat keras sampai tidak mengenali ibumu sendiri?"

"Ibu?" Rosie mengerutkan kening. "Maaf ya Tante, tolong jangan bercanda. Kalian lagi syuting sinetron atau reality show ya? Mana kameranya? Mas kameramen, keluar dong, enggak lucu nih!"

Rosie celingukan, mencari kru film atau lampu studio di sudut-sudut ruangan yang remang-remang itu. Namun yang dia temukan hanyalah tungku api di kejauhan dan kendi-kendi tanah liat.

"Su ...? Kamera? Bahasa apa yang kamu pakai itu, Merah? Jangan menakut-nakuti Ibu," ucap wanita itu dengan suara bergetar.

Gadis berpakaian putih yang masih bersimpuh di lantai merangkak mendekat ke kaki Rosie. "Nona Merah, ini saya, Putih. Tolong jangan bicara aneh-aneh. Pasti Nona sedang hilang akal karena sakit panas yang belum reda."

Rosie menunduk, menatap gadis yang memanggil dirinya sendiri sebagai 'Putih'. Tunggu dulu. Merah? Putih? Ibu tiri?

"Lancang sekali kamu! Berani-beraninya kamu bilang anakku hilang akal!" Wanita berbaju merah itu tiba-tiba melayangkan dorongan keras pada bahu si gadis berbaju putih. "Ini semua salahmu, pelayan tidak tahu diri! Kamu pasti memberi Merah ramuan yang keliru!"

"Ampun, Ibu ... saya tidak berani berbuat begitu," isak gadis bernama Putih itu sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada.

Rosie melongo melihat adegan itu secara langsung. "Eh, tunggu, jangan main tangan dong. Kasihan itu anaknya sampai nangis kayak gitu."

Kemudian Rosie menyadari sesuatu yang janggal pada dirinya sendiri. Dia menunduk melihat tubuhnya. Dia tidak memakai kaos atau celana kain.

Dia mengenakan kemben berwarna merah cerah dengan kain jarik bermotif bunga-bunga yang terlihat mahal. Tangannya halus, tidak ada bekas luka kerja, dan pergelangan tangannya dihiasi gelang emas.

"Kok aku pakai baju begini? Apa-apaan ini?!" Rosie mulai berteriak. Dia berlari menuju cermin perunggu di dalam kamar tadi.

Di cermin itu, dia melihat wajahnya sendiri, dengan riasan yang berbeda. Rambutnya panjang hitam legam dan tertata cantik. Dia terlihat seperti putri bangsawan desa.

"Enggak mungkin! Ini pasti mimpi! Bangun Rosie, bangun!" Dia menampar pipinya sendiri berkali-kali. Plak! Plak!

"Aduh, sakit!" pekiknya. Jika sakit, berarti ini bukan mimpi.

"Nona, tolong tenang, Nona!" Gadis bernama Putih mencoba memegang tangan Rosie untuk menenangkannya.

"Jangan sentuh aku! Aku mau pulang! Aku mau ke apartemenku! Aku mau pesan ojek online!" Rosie berteriak tantrum. Dia mengacak-acak rambutnya yang semula rapi hingga sanggulnya miring. "Ini di mana?! Tahun berapa sekarang?! Mana HP-ku?!"

Wanita yang mengaku ibunya itu tampak sangat ketakutan melihat tingkah Rosie. "Cepat panggil tabib! Anakku kemasukan roh jahat hutan! Merah, sadarlah Nak, ini Ibu!"

"Aku bukan Merah! Namaku Rosie! R-O-S-I-E! Rosie Camelia!" teriak Rosie sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri di depan wanita itu. "Kalian semua gila ya? Ini pasti acara prank kan? Mana krunya? Keluar sekarang atau aku lapor polisi!"

Orang-orang di ruangan itu semakin bingung. Mereka tidak mengerti satu pun kata yang diucapkan Rosie seperti 'apartemen', 'ojek online', 'HP', atau 'prank'. Bagi mereka, bahasa yang keluar dari mulut Rosie terdengar seperti mantra kuno yang kacau.

"Tolong, Putih, bawa kakakmu kembali ke tempat tidur!" perintah sang ibu dengan nada panik.

"Jangan mendekat! Kalau ada yang berani mendekat, aku ... aku bakalan ...." Rosie mencari sesuatu untuk mengancam, lalu dia mengambil sebuah sisir kayu di atas meja. "Aku bakal laporin kalian atas dugaan penculikan dan perbuatan tidak menyenangkan!"

Si gadis bernama Putih hanya bisa menangis sesenggukan, sementara sang ibu tampak mulai kehilangan kesabaran dan mulai menangis dramatis. Rosie terduduk di lantai kayu, napasnya memburu. Pikirannya melayang pada buku dongeng yang dia baca tadi malam.

Putih? Merah? Bawang Merah dan Bawang Putih?

"Enggak mungkin aku masuk ke dalam buku itu kan?" bisik Rosie pada dirinya sendiri. Dia menatap tangannya yang mulus dengan ngeri. "Kalau aku jadi Bawang Merah, berarti wanita galak ini ibuku, dan gadis malang yang menangis itu adalah..."

Rosie menoleh ke arah Putih yang sedang bersimpuh ketakutan.

"Kamu ... namamu beneran Bawang Putih?" tanya Rosie dengan nada yang jauh lebih rendah, matanya membelalak penuh tuntutan.

Gadis itu mendongak dengan wajah basah dan sedikit bingung tapi tetap menjawab, "be—benar, Nona Merah. Saya Putih, adikmu."

Rosie menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu berteriak sekencang mungkin ke sela-sela jarinya. "TIDAAKKKKKKK! AKU JADI TOKOH JAHATNYAAAA!"

Hening seketika. Ibu tiri dan Putih hanya bisa mematung melihat Rosie yang kini berguling-guling di lantai tanah sambil meratapi nasibnya yang berpindah dari budak korporat menjadi antagonis dongeng legendaris.

Terpopuler

Comments

baca ulang, aq dh lupa alur

2026-02-15

3

Alya Senja

Alya Senja

ceritanya bagus kak ini tentang perpindahan jiwa dari dunia real ke dunia dongeng ya?

2026-05-18

0

se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an

se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an

/Cry/ : mulai sekarang kamu besti aku

2026-02-16

0

lihat semua
Episodes
1 Tidur Sebentar Saja
2 Kesadaran yang Terkurung
3 Di Pinggir Amerta
4 Arang dan Abu di Balai Belakang
5 Urusan Perut dan Ujian
6 Perjamuan yang Mengusik
7 Denting Kunci
8 Lari Pagi
9 Pusaran Air dan Sindiran Tajam
10 Aroma Kunyit
11 Manual Labor
12 Logika Manajer di Antara Karung Cengkeh
13 Semburat Debu dan Masker Kain
14 Aroma Apek dan Siasat
15 Rindu yang Menggebu
16 Langkah Pincang Menuju Arcapada
17 Topeng Bedak
18 Curang Akibat Kebijakan
19 Hening Rimba
20 Hutan Terlarang
21 Gema di Balik Rimbun
22 Lidi dan Bayang-Bayang Otoritas
23 Dentingan Pedang
24 Bisikan Duri
25 Arus Amerta
26 Manajemen Audit di Hilir Sunyi
27 Luka di Hutan Larangan
28 Kamu Lagi
29 Investasi Labu
30 Penebusan Rasa Bersalah
31 Gema Lonceng Kepulangan
32 Calon Penerus
33 Dermaga Hati Sang Saudagar
34 Kebenaran di Balik Asap Dapur
35 Aroma Syukur
36 Pencuri Takdir
37 Gurat Iri di Arus Amerta
38 Labu Kelam dari Kerak Hati
39 Cerminan Diri
40 Ini Salah
41 Resusitasi di Balik Amarah
42 Garis Steril
43 Lonceng Takdir yang Berhenti
44 Duri di Balik Pengabdian
45 Sumpah Berdarah di Ambang Fajar
46 Tamu di Ambang Duka
47 Hukum di Ujung Bilah
48 Tampuk Kuasa di Balik Sepuh Emas
49 Mata Sembilu
50 Gema Logika
51 Resep yang Tertinggal
52 Bintang di Atas Neraca
53 Jaring Simpati dan Narasi Upeti
54 Kekacauan di Ambang Batas
55 Siasat di Bawah Rembulan
56 Garis Melengkung
57 Simpul Benang dan Barisan Angka
58 Jaring Halus
59 Titik Balik
60 Gema Roda
61 Antara Angka dan Aroma Melati
62 Dahaga di Jalur Indraloka
63 Tuas Kayu dan Jerit Semu
64 Audit di Ambang Malam
65 Lentera di Keheningan Malam
66 Langkah Tegas di Atas Batu
67 Gerbang Megah dan Sumbu yang Terbakar
68 Audit Sang Putri Saudagar
69 Undangan Emas dan Cubitan
70 Ambisi di Paviliun Timur
71 Di Bawah Lentera Istana
72 Topeng-Topeng Indraloka
73 Tali Kekang di Balik Kemegahan
74 Perburuan di Hutan Larangan
75 Fondasi yang Rapuh
76 Timbangan yang Tidak Berpihak
77 Langkah yang Tercegat
78 Topeng di Bawah Rembulan
79 Dalam Pengawasan
80 Siasat di Balik Kilau Emas
81 Harmoni di Sela Sesaji
82 Menyingkap Rahasia
83 Luka di Pelataran Kenanga
84 Luka dan Lelucon
85 Siasat
86 Sumpah Serapah di Gudang Rempah
87 Sudut Dapur
88 Mawar Berduri di Selasar Sepi
89 Isyarat Pulang
90 Nenek Galuh?
91 Keributan
92 Pengeroyokan di Kamar
93 Huru-hara
94 Ambisi di Balik Kemilau Emas
95 Gema Gamelan
96 Warisan Kursi
97 Gelas-Gelas Berbisa
98 Lidah yang Terpeleset
99 Titah di Ujung Perjamuan
100 Sangkar Emas Indraloka
101 Tipu Daya
102 Pilar Retak di Ruang Sidang
103 Hitung Mundur Rembulan
104 Dua Matahari di Gudang Tua
105 Jejak Hitam
106 Bunga yang Ternoda Darah
107 Siasat di Balik Tirai Paviliun
108 Tambahan Hari
109 Lidah Berbisa
110 Bunga Jalanan
111 Perjamuan Madu dan Empedu
112 Topeng yang Retak di Beranda
113 Aroma Rahasia di Koridor Jati
114 Umpan Kecil di Ujung Jala
115 Panggung Sandiwara Para Pualam
116 Panas Teh di Balik Sutra
117 Skenario di Balik Air Mata
118 Dekapan yang Membungkam Badai
119 Getar Sunyi di Balik Pualam
120 Sentuhan yang Disangkal
121 Bara Cemburu di Kediaman Prawira
122 Derap Langkah di Balik Istal
123 Panah Ambisi dan Kabut Cemburu
124 Benang Merah Manipulasi
125 Gema Langkah di Lorong
126 Janji yang Tertinggal di Balik Debu Pustaka
127 Racun dari Balik Senyuman
128 Rahasia di Balik Bilur Merah
129 Pertaruhan Waktu
130 Jaring Fitnah
131 Topeng Persaudaraan
132 Isak Tangis di Taman Sepi
133 Gema Penyesalan
134 Retaknya Topeng Kepatuhan
135 Gema Obsesi yang Terpendam
136 Api Fitnah dan Jerat Sihir
137 Jejak yang Terhapus di Tengah Malam
138 Rahasia di Balik Kunci Ganda
139 Jejak Sunyi di Bawah Rembulan
140 Tabir yang Terkoyak di Balik Bayangan
141 Rahasia di Balik Roda Kereta
142 Siasat di Balik Abu
143 Tarikan Takdir di Ujung Jemari
144 Retaknya Kedok Persaudaraan Korup
145 Kabut Dusta
146 Pendar Rembulan di Balik Prahara
147 Siasat Puing Kehancuran
148 Emas di Lorong Sunyi
149 Topeng yang Luluh
150 Umpan Bagi Si Rakus
151 Akhir Topeng Sutra
152 Harga Keserakahan
153 Siasat Terakhir
154 Gejolak di Balik Kemenangan
155 Pilihan di Bawah Pendar Rembulan
156 Eksekusi
157 Taktik Penyerangan Balik
158 Cambukan Amarah
159 Runtuhnya Martabat Sutra
160 Rahasia Kecil
161 Permufakatan
162 Rahasia Malam
163 lPenyamaran
164 Jerat Lidah
165 Langkah di Balik Kegelapan
166 Sandiwara
167 Jerat Kata
168 Api Cemburu
169 Pertaruhan
170 Runtuhnya Martabat Sutra
171 Amarah Jayengrana
172 Menyelinap di Balik Bayangan
173 Ketegangan Intelektual
174 Tempat Sandaran blom
175 Memancing Sang Tumenggung
176 Guncangan di Balai Rapat
177 Skakmat untuk Para Pengkhianat
178 Kejatuhan Nona
179 Pengakuan di Bawah Rembulan
180 Awal dari Kegilaan
181 Benih Ketakutan
182 Racun Halus dalam Cangkir
183 Perlindungan dari Balik Layar
184 Isolasi Sang Nona Merah
185 Bahu untuk Bersandar
186 Jerat Obsesi
187 Krisis Pertunangan
188 Penemuan Bukti
189 Konfrontasi Strategis
190 Kebangkitan Sang Ibu
191 Pelarian dan Aliansi Gelap
192 Kudeta di Gerbang Barat
193 Tameng yang Terluka
194 Titik Balik Raka
195 Runtuhnya Ambisi Putih
196 Sidang Penghargaan Kerajaan
197 Tiket Pulang dan Pilihan Hati
198 Rekonsiliasi Ibu dan Anak
199 Janji di Hadapan Rakyat Indraloka
200 Cahaya Indraloka
201 Tamat
Episodes

Updated 201 Episodes

1
Tidur Sebentar Saja
2
Kesadaran yang Terkurung
3
Di Pinggir Amerta
4
Arang dan Abu di Balai Belakang
5
Urusan Perut dan Ujian
6
Perjamuan yang Mengusik
7
Denting Kunci
8
Lari Pagi
9
Pusaran Air dan Sindiran Tajam
10
Aroma Kunyit
11
Manual Labor
12
Logika Manajer di Antara Karung Cengkeh
13
Semburat Debu dan Masker Kain
14
Aroma Apek dan Siasat
15
Rindu yang Menggebu
16
Langkah Pincang Menuju Arcapada
17
Topeng Bedak
18
Curang Akibat Kebijakan
19
Hening Rimba
20
Hutan Terlarang
21
Gema di Balik Rimbun
22
Lidi dan Bayang-Bayang Otoritas
23
Dentingan Pedang
24
Bisikan Duri
25
Arus Amerta
26
Manajemen Audit di Hilir Sunyi
27
Luka di Hutan Larangan
28
Kamu Lagi
29
Investasi Labu
30
Penebusan Rasa Bersalah
31
Gema Lonceng Kepulangan
32
Calon Penerus
33
Dermaga Hati Sang Saudagar
34
Kebenaran di Balik Asap Dapur
35
Aroma Syukur
36
Pencuri Takdir
37
Gurat Iri di Arus Amerta
38
Labu Kelam dari Kerak Hati
39
Cerminan Diri
40
Ini Salah
41
Resusitasi di Balik Amarah
42
Garis Steril
43
Lonceng Takdir yang Berhenti
44
Duri di Balik Pengabdian
45
Sumpah Berdarah di Ambang Fajar
46
Tamu di Ambang Duka
47
Hukum di Ujung Bilah
48
Tampuk Kuasa di Balik Sepuh Emas
49
Mata Sembilu
50
Gema Logika
51
Resep yang Tertinggal
52
Bintang di Atas Neraca
53
Jaring Simpati dan Narasi Upeti
54
Kekacauan di Ambang Batas
55
Siasat di Bawah Rembulan
56
Garis Melengkung
57
Simpul Benang dan Barisan Angka
58
Jaring Halus
59
Titik Balik
60
Gema Roda
61
Antara Angka dan Aroma Melati
62
Dahaga di Jalur Indraloka
63
Tuas Kayu dan Jerit Semu
64
Audit di Ambang Malam
65
Lentera di Keheningan Malam
66
Langkah Tegas di Atas Batu
67
Gerbang Megah dan Sumbu yang Terbakar
68
Audit Sang Putri Saudagar
69
Undangan Emas dan Cubitan
70
Ambisi di Paviliun Timur
71
Di Bawah Lentera Istana
72
Topeng-Topeng Indraloka
73
Tali Kekang di Balik Kemegahan
74
Perburuan di Hutan Larangan
75
Fondasi yang Rapuh
76
Timbangan yang Tidak Berpihak
77
Langkah yang Tercegat
78
Topeng di Bawah Rembulan
79
Dalam Pengawasan
80
Siasat di Balik Kilau Emas
81
Harmoni di Sela Sesaji
82
Menyingkap Rahasia
83
Luka di Pelataran Kenanga
84
Luka dan Lelucon
85
Siasat
86
Sumpah Serapah di Gudang Rempah
87
Sudut Dapur
88
Mawar Berduri di Selasar Sepi
89
Isyarat Pulang
90
Nenek Galuh?
91
Keributan
92
Pengeroyokan di Kamar
93
Huru-hara
94
Ambisi di Balik Kemilau Emas
95
Gema Gamelan
96
Warisan Kursi
97
Gelas-Gelas Berbisa
98
Lidah yang Terpeleset
99
Titah di Ujung Perjamuan
100
Sangkar Emas Indraloka
101
Tipu Daya
102
Pilar Retak di Ruang Sidang
103
Hitung Mundur Rembulan
104
Dua Matahari di Gudang Tua
105
Jejak Hitam
106
Bunga yang Ternoda Darah
107
Siasat di Balik Tirai Paviliun
108
Tambahan Hari
109
Lidah Berbisa
110
Bunga Jalanan
111
Perjamuan Madu dan Empedu
112
Topeng yang Retak di Beranda
113
Aroma Rahasia di Koridor Jati
114
Umpan Kecil di Ujung Jala
115
Panggung Sandiwara Para Pualam
116
Panas Teh di Balik Sutra
117
Skenario di Balik Air Mata
118
Dekapan yang Membungkam Badai
119
Getar Sunyi di Balik Pualam
120
Sentuhan yang Disangkal
121
Bara Cemburu di Kediaman Prawira
122
Derap Langkah di Balik Istal
123
Panah Ambisi dan Kabut Cemburu
124
Benang Merah Manipulasi
125
Gema Langkah di Lorong
126
Janji yang Tertinggal di Balik Debu Pustaka
127
Racun dari Balik Senyuman
128
Rahasia di Balik Bilur Merah
129
Pertaruhan Waktu
130
Jaring Fitnah
131
Topeng Persaudaraan
132
Isak Tangis di Taman Sepi
133
Gema Penyesalan
134
Retaknya Topeng Kepatuhan
135
Gema Obsesi yang Terpendam
136
Api Fitnah dan Jerat Sihir
137
Jejak yang Terhapus di Tengah Malam
138
Rahasia di Balik Kunci Ganda
139
Jejak Sunyi di Bawah Rembulan
140
Tabir yang Terkoyak di Balik Bayangan
141
Rahasia di Balik Roda Kereta
142
Siasat di Balik Abu
143
Tarikan Takdir di Ujung Jemari
144
Retaknya Kedok Persaudaraan Korup
145
Kabut Dusta
146
Pendar Rembulan di Balik Prahara
147
Siasat Puing Kehancuran
148
Emas di Lorong Sunyi
149
Topeng yang Luluh
150
Umpan Bagi Si Rakus
151
Akhir Topeng Sutra
152
Harga Keserakahan
153
Siasat Terakhir
154
Gejolak di Balik Kemenangan
155
Pilihan di Bawah Pendar Rembulan
156
Eksekusi
157
Taktik Penyerangan Balik
158
Cambukan Amarah
159
Runtuhnya Martabat Sutra
160
Rahasia Kecil
161
Permufakatan
162
Rahasia Malam
163
lPenyamaran
164
Jerat Lidah
165
Langkah di Balik Kegelapan
166
Sandiwara
167
Jerat Kata
168
Api Cemburu
169
Pertaruhan
170
Runtuhnya Martabat Sutra
171
Amarah Jayengrana
172
Menyelinap di Balik Bayangan
173
Ketegangan Intelektual
174
Tempat Sandaran blom
175
Memancing Sang Tumenggung
176
Guncangan di Balai Rapat
177
Skakmat untuk Para Pengkhianat
178
Kejatuhan Nona
179
Pengakuan di Bawah Rembulan
180
Awal dari Kegilaan
181
Benih Ketakutan
182
Racun Halus dalam Cangkir
183
Perlindungan dari Balik Layar
184
Isolasi Sang Nona Merah
185
Bahu untuk Bersandar
186
Jerat Obsesi
187
Krisis Pertunangan
188
Penemuan Bukti
189
Konfrontasi Strategis
190
Kebangkitan Sang Ibu
191
Pelarian dan Aliansi Gelap
192
Kudeta di Gerbang Barat
193
Tameng yang Terluka
194
Titik Balik Raka
195
Runtuhnya Ambisi Putih
196
Sidang Penghargaan Kerajaan
197
Tiket Pulang dan Pilihan Hati
198
Rekonsiliasi Ibu dan Anak
199
Janji di Hadapan Rakyat Indraloka
200
Cahaya Indraloka
201
Tamat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!