Ruangan paviliun yang semula penuh dengan bisik-bisik anggun kini mendadak senyap, hanya menyisakan suara gemeretak api dari lentera gantung.
Tekanan jari-jari Larasati di bahu Rosie terasa semakin tajam, seolah wanita itu ingin menanamkan kukunya ke dalam daging Rosie sebagai tanda kekuasaan. Rosie bisa merasakan panas sisa teh yang meresap di kain kebayanya mulai menggigit kulit paha, menciptakan rasa perih yang nyata.
Biasanya, Rosie akan langsung membalas dengan kata-kata tajam atau bahkan menepis tangan itu dengan kasar. Dia bukan tipe wanita yang suka bermuka dua atau menyimpan dendam dalam diam.
Jika dia tidak suka, dia akan langsung menghantam lawan bicaranya dengan logika yang mematikan. Namun, saat dia melihat kerumunan putri saudagar yang sedang menonton dengan tatapan menilai, sebuah ide licik melintas di benaknya.
Jika ini adalah permainan yang kamu inginkan, Larasati, maka oke. Kamu jual, aku beli sekalian dengan bunganya, batin Rosie dengan penuh tekad.
"Aakh! Sakit! Tolong, sakit sekali!" jerit Rosie dengan suara yang sangat melengking, memecah kesunyian malam di paviliun itu.
Larasati tersentak hebat. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang tadinya begitu tenang dan dingin tiba-tiba meledak dalam teriakan histeris.
Karena kaget, pegangan tangan Larasati terlepas begitu saja. Rosie tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membiarkan tubuhnya merosot, seolah-olah seluruh tenaganya telah habis, hingga dia terduduk di atas lantai pualam yang dingin.
"Aduh, perih sekali," rintih Rosie sambil memegangi bahunya yang tadi diremas, lalu berpindah memegangi pahanya yang basah kuyup.
Dia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan menutupi wajahnya yang sebenarnya sedang tidak menangis sama sekali. Dia hanya perlu mengatur napas agar terdengar seperti isakan yang tertahan.
Putih membelalakkan matanya, hampir menjatuhkan cangkir teh yang sedang dia pegang. Dia tahu kakaknya adalah orang yang keras kepala, tapi melihat Rosie terduduk lemah dan…
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage
Skenario di Balik Air Mata
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 201 Episodes
Comments