"Silakan duduk, Nona-Nona. Karena semuanya sudah ada di sini, mari kita bersenang-senang dan melupakan sejenak urusan luar yang melelahkan," ajak Larasati dengan nada suara yang riang, seolah-olah perdebatan tajam di teras tadi tidak pernah terjadi.
Dia memberikan isyarat dengan lambaian tangan yang gemulai. Rosie menarik napas panjang, mencoba menekan rasa muaknya, lalu melangkah menuju bantalan sutra di sisi meja.
Sari segera mengekor di sampingnya, duduk dengan posisi yang sangat rapat seolah-olah Rosie adalah pelindung satu-satunya di ruangan itu.
"Kalian tahu tidak? Kabarnya kain sutra dari wilayah barat musim ini akan memiliki corak baru yang terinspirasi dari sayap burung merak," celetuk salah satu putri saudagar yang mengenakan giwang emas besar.
"Benarkah? Aku dengar harganya akan naik dua kali lipat karena benang emasnya didatangkan langsung dari seberang lautan," timpal putri lainnya dengan nada kagum yang dibuat-buat.
Percakapan itu terus mengalir, berpindah dari masalah kain, jenis bedak wajah terbaru, hingga gosip tentang siapa yang akan menari paling indah di perayaan bulan purnama nanti.
Rosie hanya terdiam, jarinya mengetuk-ngetuk lutut secara teratur. Dalam kepalanya, dia sama sekali tidak peduli pada sutra burung merak.
Audit di gudang nomor empat jauh lebih penting daripada mendengar curhatan tentang benang kusut ini, pikir Rosie dengan gusar.
Dia membayangkan tumpukan berkas yang dia tinggalkan di kamarnya. Logika bisnisnya berteriak bahwa setiap menit yang dia habiskan di sini adalah kerugian waktu yang tidak bisa dikompensasi dengan sepotong kue manis mana pun.
Larasati tampaknya menyadari kebosanan yang terpancar dari wajah Rosie. Dia tersenyum kecil, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang dingin.
Dia meraih poci keramik putih dengan motif naga biru, lalu mulai menuangkan cairan berwarna kuning keemasan ke dalam sebuah cangkir porselen kecil.
"Nona Merah, kamu tampak begitu murung. Apakah teh melati ini bisa sedikit menghangatkan su…
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage
Panas Teh di Balik Sutra
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 201 Episodes
Comments