Udara di dalam ruangan itu terasa berat, bukan karena suhu udara, melainkan karena ketegangan yang menggantung di antara orang-orang yang duduk mengitari meja bundar dari kayu cendana.
Raja Indraloka duduk di kursi kebesarannya yang dihiasi ukiran sulit dari emas, wajahnya terlihat seperti batu karang yang tidak terpengaruh oleh ombak.
Di sisi kanannya, Pangeran Ararya duduk dengan punggung tegak, sementara di sisi kiri, Pangeran Abimanyu menyandarkan tubuh dengan santai sambil memainkan ujung jemarinya.
Ki Wilatikta meletakkan sebuah gulungan perkamen yang tampak kusam di atas meja. Dia menarik napas panjang sebelum membuka suara, memecah kesunyian yang mencekam.
"Yang Mulia, hamba harus menyampaikan laporan yang cukup meresahkan terkait urusan perbendaharaan di wilayah barat," ujar Wilatikta dengan nada bicara yang rendah dan tegas.
Raja hanya memberikan isyarat dengan anggukan kecil agar bendahara kerajaan itu melanjutkan penjelasannya.
"Berdasarkan hasil penelusuran lapangan yang dilakukan setelah perjamuan kemarin, ditemukan kebocoran upeti yang cukup berarti di jalur penyaluran utama. Jembatan yang menjadi nadi perdagangan di sana dalam kondisi rusak parah, padahal catatan anggaran menunjukkan bahwa biaya perbaikan sudah dicairkan penuh sejak musim lalu," jelas Wilatikta sambil menunjuk beberapa baris angka di dalam perkamen.
Tumenggung Jayengrana, yang bertanggung jawab atas keamanan dan infrastruktur wilayah tersebut, langsung menegakkan duduknya. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena tersinggung.
"Mohon maaf, Ki Wilatikta, tetapi laporan itu sepertinya terlalu berlebihan," sahut Jayengrana dengan suara yang sedikit meninggi. "Medan di jalur barat itu sangat sulit. Cuaca buruk sering kali merusak pekerjaan yang baru saja diselesaikan. Hamba sudah memastikan para prajurit berjaga di sana setiap hari."
Ararya menoleh ke arah Jayengrana dengan tatapan yang tajam seolah ingin menguliti kebohongan pria itu.
"Jika prajuritmu berjaga setiap hari, Tu…
Maaf Pangeran, Bawang Merah Ini Terlalu Savage
Pilar Retak di Ruang Sidang
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 201 Episodes
Comments
🤣mampus kauu tumenggung
2026-04-08
0