Sesampainya di Jakarta...
Jakarta ramai akan orang-orangnya. Menurutku, ini lebih ramai daripada Bandung. Tak heran kenapa seluruh Indonesia mengincar pekerjaan di tempat ini. Dengan janji gaji yang besar. Banyak sekali gedung pencakar langit di sini.
Udara panasnya amat menyerang kulitku, yang tidak terbiasa dengan udara sepanas ini. Aku serasa di gurun Sahara. Keringat dingin bercucuran deras. Hingga aku berkata pada ayah, "Aku mau di markas saja. Panas! Saat ke sini pertama kali saja kemarin, aku selalu nyalakan AC. Butuh sekali udara kulkas!"
"Biasakanlah dirimu! Kau 'kan sudah pernah ke sini," balas ayah.
"Tidak. Aku tidak akan pernah terbiasa. Aku di markas saja menunggu."
"Ikut saja! Ayah takut kau membeku jadi es batu jika kena udara AC terus."
Aku menghela nafas. Menuruti saja apa kata ayahku. Hingga aku kembali mempelajari ilmu bela diri penggunaan pistol dengannya. Ayah mulai mengagumi kemampuanku menembak. Tidak sia-sia aku belajar dengan guruku yang baru sewaktu kuliah dulu. Sekarang, entah dia masih ada atau sudah wafat.
Semua mampu ku tembak. Tidak satupun biji peluruku meleset. Ayah bahkan sampai memujiku. Sudah pasti aku harus begitu. Aku anak Boss mafia. Raja mafia di negeri ini. Siapapun yang berani macam-macam, akan ku tembak habis. Kalau perlu, ku tembak kepalanya sampai pecah.
...***...
Ketika hari penyerangan terhadap musuh, barulah aku tidak ikut. Saat itu, aku hanya ikut ayah dan anak-anak buahnya menelusuri panti asuhan mana yang akan di serang lawan. Dan rupanya, itu panti asuhan yang dulunya milik keluarga Victory yang akan di serang. Namun, sekarang beralih di serahkan pada pamannya Victory karena ia dan keluarganya pindah ke Bandung.
Victory bisa sekolah di Bandung saat itu ayahnya sedang dinas sebagai mafia sekaligus CEO perusahaan terbesar. Namun, akhirnya keluarganya memutuskan tinggal di sana setelah Victory lulus kuliah. Memang Victory juga kuliah di Jakarta. Tapi aku dan dia tidak satu kampus. Jadi kami tidak pernah bertemu lagi.
…
Soraya
Eps. 53: MASA LALU GELAP SANG ALPHA JUSTIN (Part 4)
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 87 Episodes
Comments