Langit perlahan berubah warna, bergeser dari kelamnya malam menuju semburat jingga yang samar. Cahaya keemasan menyelinap melalui celah-celah tirai, jatuh ke lantai ruangan dengan kelembutan yang hampir tak terasa. Di luar sana, dunia mulai bergerak, roda-roda kendaraan menggulung jalanan, langkah-langkah kaki berpadu dengan suara burung yang bersahutan. Namun, di dalam ruangan itu, waktu seakan berjalan lebih lambat.
Alastar masih terbaring di tempatnya, napasnya tenang namun berat, seolah setiap hembusan adalah perjuangan yang tak kasat mata. Luka di tubuhnya mungkin telah mendapatkan perawatan terbaik, tapi luka di dalam dirinya tetap mengendap, tak tersentuh oleh perban atau obat-obatan.
Barram duduk di sudut ruangan, tatapannya lurus ke arah Alastar tanpa benar-benar melihat. Kedua sikunya bertumpu pada lutut, sementara jemarinya saling bertaut, seperti seseorang yang sedang menimbang banyak hal di dalam kepala. Alarick ada di dekat jendela, punggungnya bersandar, matanya menatap kosong ke luar. Suara samar langkah perawat di lorong rumah sakit menjadi satu-satunya hal yang terdengar selain dengungan halus dari mesin medis yang menemani Alastar.
Faldo, yang sedari tadi menelusuri layar ponselnya, akhirnya bersuara. “Udah ada kabar dari Om Chairil?”
Alarick menggeleng pelan, tanpa melepaskan tatapannya dari jendela. “Masih sama. Nggak ada yang bisa menghubunginya.”
“Dia tahu anaknya kecelakaan?”
Barram mendengus pelan. “Kita udah berusaha menghubungi dia berkali-kali. Kalau sampai sekarang dia nggak datang juga, itu artinya dia nggak peduli.”
Hening kembali merayap, menggantikan obrolan singkat mereka. Faldo menggigit bibir bawahnya, lalu melirik ke arah Alastar yang masih terlelap. Pemuda itu tampak lebih tenang dibanding kemarin, meski wajahnya tetap pucat. Luka di pelipisnya mulai mengering, tapi ada sesuatu di balik kelopak matanya yang tertutup—seperti beban yang tetap tinggal bahkan saat ia tak sadar.
Falleo masuk ke ruangan dengan langkah ringan, tanganny…
Alastar
Bab 63. Luka yang Seolah Tak Pernah Merasa Cukup
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 90 Episodes
Comments