Vivian mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengetat dengan gigi yang bergemelatuk menahan amarah yang benar-benar sudah ingin meledak.
Meninju-ninju tembok tempatnya bersandar. Guna melampiaskan kemarahan. "Kenapa Papi tega sekali kepadaku?!" Karena tak kuat menahan rasa marah dan kecewa, Vivian berlari menjauh dari ruang rawat Raka.
Masuk ke dalam toilet dan melesat ke salah satu bilik yang kosong. Vivian menumpahkan kesedihan, kemarahan, patah hati dan kekecewaannya di dalam sana. Memukul-mukul dada dan menggigit bibir supaya isakannya tak terdengar oleh orang lain.
Percakapan di balik telepon dengan sang ayah berhamburan kembali dalam ingatan.
[Jadi Papi yang sudah membuat Raka celaka?!]
[Iya.] Yudis menjawab tanpa rasa bersalah sedikitpun. [Papi sudah bilang padamu, jika omongan Papi bukanlah sekedar ancaman semata! Oleh karena itu, jika kamu masih ingin melihat Raka sehat wal afiat, lakukanlah apa yang Papi perintahkan! Sebaliknya, jika kamu ingin melihat Raka beserta ibu dan adiknya kehilangan nyawa, maka silakan pertahankan keegoisanmu itu, Vivian!]
"Arrghh!" Vivian memejam mata dengan erat. Hancur lebur hatinya diberi pilihan yang amat sangat sulit untuk diputuskan. Bagai buah simalakama.
Menuruti perintah Papinya, berarti dia sudah siap patah hati dan tersiksa.
Tetap mempertahankan hubungan dengan Raka, maka dia harus siap melihat Raka dan keluarganya tiada.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Terduduk lesu di atas kloset yang tertutup. Kedua telapak tangan menutup wajah. Dada Vivian naik turun. "Kenapa cintaku dan Raka tidak pernah bisa bersatu?" lirih Vivian dengan suara tersendat-sendat.
Setelah menghabiskan setengah jam lebih untuk meratap, akhirnya Vivian keluar dari toilet. Dua matanya begitu sembab. Ujung hidungnya memerah. Wajahnya benar-benar pucat. Berjalan lunglai, hingga dia hampir kehilangan keseimbangan. Untung ada seorang gadis muda yang menarik tangannya.
"Mbak tidak apa-apa?" Gadis muda itu bertanya.
"T-tidak. Saya tidak ap…
Simpanan Tuan Anjelo
BAB 38
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 74 Episodes
Comments
Zeny Al Bukhori
harus nya ngomong langsung sma a anjelo biar sama2 enak
2025-02-02
1