Terbangun dalam Kemewahan yang Menyiksa
Cahaya matahari pagi yang menyelinap dari balik tirai sutra Paviliun Mawar terasa seperti belati yang menusuk kelopak mata Elara. Ia terbangun dengan sentakan kecil, napasnya memburu seolah oksigen di ruangan mewah itu baru saja direnggut paksa oleh bayang-bayang api yang terus mengejarnya dalam mimpi. Hal pertama yang ia rasakan bukanlah kelembutan kasur bulu angsa atau aroma lavender yang mencoba menenangkan sarafnya, melainkan denyut mengerikan dari punggungnya—sebuah pengingat kasar bahwa tubuh yang kini ia tempati adalah wadah yang nyaris hancur.
"Anda sudah bangun, Tuan Putri?" suara lembut Rina terdengar dari sudut ruangan, diikuti bunyi gemercik air dalam baskom perak yang sangat jernih.
Elara tidak segera menjawab. Ia menatap langit-langit paviliun, pada ukiran malaikat yang sedang meniup terompet ke arahnya. Ia ingat pernah mencintai ukiran itu saat ia masih menjadi Aurelia dulu, menganggapnya sebagai simbol perlindungan ilahi. Sekarang, malaikat itu tampak seperti pemulung jiwa yang sedang menunggu kematiannya dengan sabar.
"Singkirkan air itu, Rina. Aku tidak ingin dibasuh oleh siapa pun pagi ini," ujar Elara dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai desisan.
"Tapi, Yang Mulia... Tabib istana berpesan agar luka bakar Anda dibersihkan setiap pagi agar tidak terjadi infeksi parah," Rina mendekat dengan ragu, wajahnya menunjukkan kecemasan yang tulus, sebuah anomali di tengah istana yang penuh dengan predator bertopeng.
"Aku bilang singkirkan, Rina. Apakah aku perlu mengulangnya untuk ketiga kali agar kau paham siapa yang sedang kau ajak bicara?" Elara menoleh perlahan, matanya yang kelabu tampak sedalam sumur tanpa dasar, memberikan tekanan psikologis yang membuat pelayan itu tersentak mundur.
"Maafkan saya, Tuan Putri. Saya akan meletakkan baskom ini di meja luar," Rina menundukkan kepalanya dalam-dalam, tangannya gemetar saat ia memindahkan air tersebut.
"Letakkan saja salep herbal yang diberikan tabib tadi…
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu
Bab 12 Analisis Void
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 42 Episodes
Comments