Pedang yang Terhunus dalam Sunyi
Sisa-sisa energi logam dari baju zirah Panglima Vane masih terasa seperti getaran statis di udara pagi yang membeku. Elara memaksakan kakinya untuk tetap melangkah dengan tenang melintasi jalan setapak taman yang berkelok, meskipun setiap ketukan tongkat kayu hitamnya di atas tanah berbatu terasa seperti palu yang menghantam saraf kakinya yang mulai lemas. Di belakangnya, Rina masih tampak waspada, matanya terus menyisir semak-semak mawar yang bergoyang pelan ditiup angin dingin. Aroma bunga Asteria yang mulai layu merambat masuk ke indra penciumannya, memicu rasa pedih yang akrab—sebuah pengingat akan tanah air yang kini hanya menjadi sejarah yang berdebu.
"Nyonya, Panglima Vane tampak benar-benar terguncang tadi. Apakah Anda yakin dia tidak akan mengkhianati janji ini?" Rina berbisik sambil merapatkan jubahnya.
"Vane tidak mengenal kesetiaan, Rina. Dia hanya mengenal rasa takut akan kematian," Elara menjawab tanpa menoleh. Suaranya serak, mencerminkan kelelahan yang mulai menggerogoti pertahanannya. "Selama dia masih percaya bahwa hanya tanganku yang bisa meramu penawar untuk sirkuit energinya yang korosif, dia akan menjadi perisai bagi kita. Namun, aku tidak mengharapkan dia menjadi teman. Aku hanya membutuhkannya sebagai alat."
"Tapi pergerakan militer di perbatasan... jika dia tidak segera memberikan hak pasukan Jenderal Kaelen—"
"Dia akan memberikannya," Elara memotong, matanya tiba-tiba menajam saat ia merasakan getaran energi yang berbeda di balik bayang-bayang pohon ginkgo besar di depan mereka. "Berhentilah di sini, Rina. Jaga jarak sepuluh langkah. Tamu kita sudah tiba."
Rina mengangguk patuh dan segera mengambil posisi. Dari balik bayang-bayang pohon yang tinggi, sebuah sosok melangkah keluar dengan keanggunan seorang pemangsa. Jenderal Kaelen muncul dengan jubah tempur abu-abunya yang tertutup embun pagi. Wajahnya yang tegas tampak lebih gelap dari biasanya, dan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terus mer…
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu
Bab 21 Rencana Kaelen
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 42 Episodes
Comments