Raja yang tidak di percaya

Wajah Leonard mengeras.

Untuk pertama kali dalam hidupnya...

Seorang Raja Lunaventia sedang ditertawakan habis-habisan.

Dan yang lebih menyakitkan lagi...

Yang menertawakannya bukan para musuh kerajaan.

Bukan para bangsawan.

Bukan pula para pemberontak.

Melainkan seorang gadis berisik, seorang bocah sembilan tahun, dan satu keluarga aneh yang bahkan tidak dikenalnya.

"Kalian..."

Suara Leonard terdengar rendah.

Namun sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Azura kembali memotong.

"Udah deh."

Ia berusaha menghentikan tawanya.

Meski sudut bibirnya masih terus bergerak.

"Lo nggak usah ngarang."

Azura menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Emang ODGJ kayaknya."

Leonard langsung menatap gadis itu.

Tatapan tajam yang biasanya mampu membuat para prajurit menundukkan kepala.

Sayangnya...

Azura sama sekali tidak terpengaruh.

Bahkan gadis itu membalas tatapannya tanpa rasa takut sedikit pun.

Situasi tersebut membuat Leonard semakin heran.

Siapa sebenarnya gadis ini?

Mengapa tatapannya terasa berbeda?

Mengapa dirinya selalu gagal membuat gadis itu gentar?

Sementara itu, Jody mengembuskan napas panjang.

"Begini, Anak Muda."

Nada suaranya mulai terdengar lebih sabar.

"Siapa nama kamu yang sebenarnya?"

Leonard mengerutkan kening.

"Aku sudah mengatakannya."

"Yang benar."

"Sudah benar."

"Yang asli."

"Itu nama asliku."

Jody menatap Monica.

Monica menatap Jody.

Keduanya sama-sama bingung.

"Dan aku berasal dari Lunaventia."

Tambah Leonard.

Kali ini tidak ada yang tertawa.

Bukan karena percaya.

Melainkan karena mulai lelah.

Mereka sudah menanyakan hal yang sama berkali-kali dan tetap mendapatkan jawaban yang sama.

"Ya udah."

Azura mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Oke."

Ia berdiri dari sofa.

Matanya terasa berat.

Tubuhnya pegal.

Dan kepalanya mulai pening karena kurang tidur.

"Gue nyerah."

Semua menoleh kepadanya.

Azura menunjuk Leonard.

"Lo mau jadi Raja Lunaventia, Raja Mars, Raja Jupiter, terserah."

Kemudian ia menguap lebar.

"Tapi sekarang gue ngantuk."

Leonard memperhatikan gadis itu.

Tatapan mereka kembali bertemu.

"Lo nggak usah bercanda lagi."

Lanjut Azura.

"Ini udah malam."

Ia menunjuk jam dinding.

"Gue capek."

Lalu menunjuk dirinya sendiri.

"Gue ngantuk."

Kemudian menunjuk Leonard.

"Dan gue pengen lo jawab yang bener."

Leonard membuka mulut.

"Aku Leonard—"

"Dan aku dari Kerajaan Lunanenia."

Potong Azura cepat.

Menirukan suaranya dengan nada asal-asalan.

"Lunaventia"

Koreksi Leonard tegas.

"Lunanenia."

"Lunaventia."

"Oke."

"Lunaventia."

"Iya."

"Lunaventia."

"Iya, iya."

"Lunaventia."

Azura langsung memejamkan mata.

Final.

Ia benar-benar menyerah.

Tidak ada harapan.

Pria ini sudah terlalu aneh untuk dipahami.

"Papi..."

Rengeknya sambil berjalan mendekati sang ayah.

"Aku mau tidur."

Jody mengusap kepala putrinya dengan lembut.

"Ya sudah."

"Besok juga sekolah."

"Iya."

"Aku capek."

"Iya."

"Aku ngantuk."

"Iya."

Azura langsung tersenyum puas.

Ia memeluk lengan Jody sebentar sebelum melepaskannya.

Sementara itu, Excel yang sedari tadi menguap tanpa henti mulai menggosok matanya.

Kelopak matanya sudah memerah.

"Papi..."

"Hm?"

"Excel juga ngantuk."

"Nah, makanya."

Jody tersenyum.

"Kalian berdua tidur sekarang."

Excel mengangguk patuh.

Lalu berdiri.

Sebelum pergi, bocah itu mencium pipi ayahnya.

"Good night, Pih."

Muach.

Jody terkekeh pelan.

"Good night."

Excel kemudian menoleh ke arah Leonard.

Melambaikan tangan kecilnya.

"Good night, Om Raja."

Leonard mengangkat sebelah alis.

Om Raja?

Panggilan macam apa itu?

Namun sebelum sempat bertanya, Excel sudah berlari mengejar Azura yang lebih dulu menaiki tangga.

Leonard memperhatikan mereka.

Entah mengapa.

Dadanya terasa hangat melihat interaksi keluarga itu.

Sangat berbeda dengan kehidupan istana yang selalu dipenuhi formalitas.

Tapi perasaan itu hanya berlangsung sesaat.

Karena kenyataan kembali menghantamnya.

Ia masih tidak tahu berada di mana.

Dan mengapa bisa sampai di sini.

---

Jody mengembuskan napas panjang.

Malam sudah terlalu larut.

Dan dirinya harus bekerja besok pagi.

"Dengar, Anak Muda."

Leonard menoleh.

"Besok kita lanjutkan pembicaraan ini."

Jody berdiri.

"Sekarang kamu istirahat dulu."

Monica langsung protes.

"Sebentar!"

Semua menoleh.

Wanita itu menunjuk Leonard.

"Kok Papi ngizinin orang asing tidur di rumah kita sih?"

"Nggak apa-apa."

"Gimana kalau dia pencuri?"

"Nggak akan."

"Gimana kalau dia penjahat?"

"Nggak akan."

"Gimana kalau dia kabur bawa TV?"

Jody terdiam.

Lalu menoleh ke arah televisi besar di ruang tamu.

"..."

Monica menyilangkan tangan.

"Nah kan."

Jody tertawa kecil.

"Tenang aja."

Kemudian ia merangkul pundak istrinya.

"Kita lihat besok."

Monica masih terlihat tidak puas.

Namun akhirnya mengalah.

Sebelum pergi, ia menatap Leonard dengan mata menyipit.

Tatapan yang cukup menyeramkan.

"Awas kalau ada barang aku yang hilang."

Leonard mengernyit.

"Aku cari kamu sampai ke akhirat."

Setelah mengucapkan ancaman tersebut, Monica langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Leonard hanya bisa memandanginya dengan bingung.

Wanita itu benar-benar aneh.

Sangat aneh.

---

"Farah."

Panggil Jody.

"Siapkan kamar tamu untuk dia."

Farah langsung mengangguk.

"Nggeh, Tuan."

Jody menepuk pundak Leonard pelan.

"Istirahatlah."

Setelah itu, ia ikut pergi meninggalkan ruang tamu.

Tak lama kemudian.

Rumah kembali sunyi.

Kini hanya tersisa Farah dan Leonard.

"Mari."

Ucap Farah sambil tersenyum ramah.

Leonard menatap wanita muda itu.

Lalu menatap sekeliling rumah sekali lagi.

Tempat ini masih terasa asing.

Orang-orangnya juga asing.

Namun tubuhnya terlalu lelah untuk terus memikirkan semuanya malam ini.

Akhirnya ia mengikuti langkah Farah menuju kamar tamu.

Sepanjang perjalanan, matanya terus mengamati segala sesuatu.

Lampu yang menyala tanpa api.

Dinding yang begitu rapi.

Benda-benda aneh yang belum pernah dilihatnya.

Semakin lama.

Semakin banyak pertanyaan bermunculan di kepalanya.

Sesampainya di kamar tamu, Farah membuka pintu.

"Nah, Tuan tidur di sini."

Leonard masuk perlahan.

Kamar itu terasa asing.

Namun cukup nyaman.

"Kalau ada apa-apa, panggil saya saja."

Leonard mengangguk singkat.

Farah pun meninggalkan ruangan.

Menyisakan dirinya seorang diri.

Hening.

Untuk pertama kalinya malam itu.

Benar-benar hening.

Leonard berjalan mendekati jendela.

Memandang langit malam di luar.

Bulan masih bersinar.

Namun bukan pemandangan Lunaventia yang ia kenal.

Tidak ada istananya.

Tidak ada para pengawal.

Tidak ada kerajaannya.

Hanya dunia asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Tangannya mengepal perlahan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

Gumamnya.

Tak ada jawaban.

Hanya suara angin malam yang menemani.

Leonard memejamkan mata.

Lalu mengembuskan napas panjang.

'besok...'

Tatapannya kembali terbuka.

Kali ini jauh lebih tajam.

'Aku akan menemukan jawabannya'

Bersambung...

Episodes
1 Raja yang kehilangan Tahta
2 Raja yang nyasar di kamar
3 Tersangka tampan
4 Raja yang tidak di percaya
5 kebingungan sang raja
6 hilangnya sang raja
7 Raja yang tak bisa mandi
8 aib sempak
9 langkah pertama di dunia asing
10 pulang yang semakin jauh
11 Mata yang kembali bertemu
12 keheningan di meja makan
13 nama yang tidak tercatat di manapun
14 rahasia depan rumah
15 dasar manusia purba!
16 ingin tahu dunia baru
17 siapa dia?
18 ketauan
19 Bertemu dia
20 rahasia masa lalu
21 mulai menyebar
22 pengen juga
23 weekend yang berubah arah
24 di antara dua tatapan
25 debar di sore hari
26 Drama malam hari
27 ponsel ditempat sampah
28 ponsel dan kesalahpahaman
29 gagal
30 permintaan maaf
31 Full day sama kamu
32 koin emas??
33 perlahan dekat.
34 drama naik lift
35 lupa
36 perkelahian di gang gelap
37 Leon hilang
38 ketemu.
39 siomay dan rasa kesal
40 usiran halus dan ambisi Zerana.
41 jebakan di menara sunyi
42 rahasia di balik kanvas
43 singa betina di sekolah musuh.
44 kebingungan di atas roof top
45 warna yang sama dengan sorot berbeda
46 jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47 Tamu tak diundang
48 tuduhan pelet
49 Ganteng maksimal
50 salah sasaran
51 Rahasia dan ancaman
52 Pernyataan Leon.
53 Liontin batu shafir
54 incaran baru
55 Jejak Safir dan penculikan
56 Rahasia yang tersembunyi
57 kebenaran yang terpotong
58 pujian yang mampu menyelamatkan
59 mahkota yang retak
60 serpihan kepercayaan yang runtuh
61 gema kerinduan yang hilang
62 pertengkaran di pesisir
63 kejaran dan kebenaran
64 tertangkap
65 misteri malam kelahiran
66 darah murni istana
67 Titahan tak terduga
68 ikatan yang terbelah.
69 perkelahian di goa
70 tarikan takdir lintas dimensi
71 keributan di ruang arsip
72 Takdir yang menyilang
73 the real bukan mimpi.
74 dunia baru dan gaun impian
75 misteri dibalik pohon beringin
76 misteri boneka Sukma
77 Riuh di balik dinding batu
78 pertemuan yang mengoyak hati
79 Batas yang nyata
80 di balik bayang-bayang Istana
81 pelarian malam
82 tiba-tiba gombal
83 pulang
84 pelukan hangat dan topeng istana
85 penyamaran
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Raja yang kehilangan Tahta
2
Raja yang nyasar di kamar
3
Tersangka tampan
4
Raja yang tidak di percaya
5
kebingungan sang raja
6
hilangnya sang raja
7
Raja yang tak bisa mandi
8
aib sempak
9
langkah pertama di dunia asing
10
pulang yang semakin jauh
11
Mata yang kembali bertemu
12
keheningan di meja makan
13
nama yang tidak tercatat di manapun
14
rahasia depan rumah
15
dasar manusia purba!
16
ingin tahu dunia baru
17
siapa dia?
18
ketauan
19
Bertemu dia
20
rahasia masa lalu
21
mulai menyebar
22
pengen juga
23
weekend yang berubah arah
24
di antara dua tatapan
25
debar di sore hari
26
Drama malam hari
27
ponsel ditempat sampah
28
ponsel dan kesalahpahaman
29
gagal
30
permintaan maaf
31
Full day sama kamu
32
koin emas??
33
perlahan dekat.
34
drama naik lift
35
lupa
36
perkelahian di gang gelap
37
Leon hilang
38
ketemu.
39
siomay dan rasa kesal
40
usiran halus dan ambisi Zerana.
41
jebakan di menara sunyi
42
rahasia di balik kanvas
43
singa betina di sekolah musuh.
44
kebingungan di atas roof top
45
warna yang sama dengan sorot berbeda
46
jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47
Tamu tak diundang
48
tuduhan pelet
49
Ganteng maksimal
50
salah sasaran
51
Rahasia dan ancaman
52
Pernyataan Leon.
53
Liontin batu shafir
54
incaran baru
55
Jejak Safir dan penculikan
56
Rahasia yang tersembunyi
57
kebenaran yang terpotong
58
pujian yang mampu menyelamatkan
59
mahkota yang retak
60
serpihan kepercayaan yang runtuh
61
gema kerinduan yang hilang
62
pertengkaran di pesisir
63
kejaran dan kebenaran
64
tertangkap
65
misteri malam kelahiran
66
darah murni istana
67
Titahan tak terduga
68
ikatan yang terbelah.
69
perkelahian di goa
70
tarikan takdir lintas dimensi
71
keributan di ruang arsip
72
Takdir yang menyilang
73
the real bukan mimpi.
74
dunia baru dan gaun impian
75
misteri dibalik pohon beringin
76
misteri boneka Sukma
77
Riuh di balik dinding batu
78
pertemuan yang mengoyak hati
79
Batas yang nyata
80
di balik bayang-bayang Istana
81
pelarian malam
82
tiba-tiba gombal
83
pulang
84
pelukan hangat dan topeng istana
85
penyamaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!