kebingungan sang raja

Leonard masih belum bangun dari tidurnya.

Biasanya, dia tidak pernah bisa tidur nyenyak di tempat asing. Sebagai seorang raja sekaligus panglima perang, nalurinya selalu waspada terhadap bahaya. Sedikit suara saja sudah cukup membuatnya terjaga.

Namun anehnya, malam ini berbeda.

Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, Leonard tidur begitu lelap.

Tanpa mimpi buruk.

Tanpa kecemasan.

Tanpa beban kerajaan yang selama ini menghimpit dadanya.

Tidur yang nyaman.

Sangat nyaman.

Hingga sesuatu yang dingin tiba-tiba mengenai wajahnya.

Ciprat!

Leonard mengernyit.

Setetes.

Dua tetes.

Lalu semakin banyak.

Ciprat!

Ciprat!

Keningnya berkerut kesal.

Matanya bergerak di balik kelopak yang masih tertutup.

Sampai akhirnya ia membuka mata perlahan.

Pandangan pertama yang ia lihat adalah cahaya.

Terlalu terang.

Leonard refleks menutup sebelah matanya.

Ruangan ini jauh lebih terang dibanding kamar-kamar di istananya yang selalu diterangi cahaya lilin dan lampu minyak.

Ciprat!

Air kembali mengenai wajahnya.

Kali ini cukup keras hingga membuat Leonard langsung duduk tegak.

"Akhirnya bangun juga!" seru seseorang.

Leonard mengangkat wajahnya.

Dan di sanalah gadis itu berdiri.

Gadis menyebalkan yang semalam meneriakinya seperti melihat hantu.

Azura.

Kedua tangannya bertolak pinggang dengan wajah jutek yang sama seperti semalam.

Di sampingnya berdiri wanita paruh baya yang memegang gayung kosong.

Monica.

Ibunda gadis itu.

Leonard menatap mereka satu per satu dengan wajah dingin.

Keberaniannya sungguh di luar nalar.

Tidak ada seorang pun di Lunaventia yang berani membangunkannya dengan cara seperti ini.

Bahkan para panglima perang pun tidak.

"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya datar.

Azura mendengus.

"Bangunin lo, lah! Masa tidur terus? Keenakan ya Lo tidur di sini?"

Sahut Azura dengan nada sindir.

Leonard memejamkan mata sesaat.

Kesabarannya benar-benar sedang diuji.

Namun kemudian matanya kembali terbuka dan memperhatikan penampilan Azura dari ujung kepala hingga kaki.

Hari ini gadis itu mengenakan pakaian yang lebih aneh lagi.

Kemeja putih.

Rok abu-abu yang menurut Leonard terlalu pendek.

Kaki yang terbuka.

Rambut merah pirang panjang yang tergerai.

Sangat berbeda dari para bangsawati Lunaventia yang selalu berpakaian tertutup dan anggun.

Kening Leonard berkerut.

"Apa kau seorang gundik?"

Ruangan mendadak hening.

Azura berkedip.

Monica berkedip.

Leonard melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Pakaianmu sangat tidak sopan."

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Mata Azura membelalak sempurna.

"Maksud lo apa?!"

Leonard mengangkat dagunya.

"Di kerajaanku, wanita terhormat tidak berpakaian seperti itu."

Monica langsung memegangi dada.

Mukanya berubah merah.

Sementara Azura...

Azura tersenyum.

Senyum yang justru membuat Monica mundur selangkah.

Karena sebagai ibunya, Monica tahu persis.

Kalau Azura tersenyum seperti itu...

Artinya ada yang akan celaka.

"Lo bilang gue apa tadi?"

Leonard menatapnya datar.

"Gund—"

Kalimatnya terputus.

"AAAAA!"

Leonard refleks berdiri ketika telinganya dijewer keras.

Sangat keras.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Raja Lunaventia dijewer seperti anak kecil.

"Apa-apaan ini?!"

Azura sama sekali tidak peduli.

Ia malah memelintir telinga Leonard semakin kuat.

"Ngatain gue gundik?! Hah?!"

"Sakit!"

"Lepaskan aku!"

"Enggak!!"

Leonard yang biasa menghadapi pedang, tombak, dan medan perang mendadak tidak berdaya menghadapi seorang gadis SMA.

Ia berusaha melepaskan tangan Azura.

Gagal.

Mencoba mundur.

Tetap gagal.

"Dasar gadis tidak berpendidikan!"

Mendengarnya, Azura semakin menarik telinganya.

"Kata siapa gue gundik?!"

"Aku hanya mengatakan fakta!"

"FAKTA-fakta! KEPALA LO GUE BOTAKIN!!"

Monica yang sejak tadi marah justru merasa puas melihat pemandangan itu.

"Bagus, Zura. Tarik yang kuat."

Leonard mematung.

Apa keluarga ini memang gila?

Apa mereka tidak tau siapa dirinya?

Akhirnya Azura menyeret Leonard keluar kamar.

Pria itu terpaksa mengikuti dengan wajah menahan sakit.

Gadis ini, membuat Harga dirinya sebagai raja terasa runtuh sedikit demi sedikit.

---

Beberapa menit kemudian.

Leonard sudah duduk di sofa ruang tamu.

Tangannya sibuk mengusap telinga yang masih berdenging panas.

Sementara Azura berdiri di depan sofa sambil melipat tangan.

Tatapan mereka saling beradu.

Leonard menatap tajam.

Azura membalas lebih tajam.

Dan entah kenapa...

Untuk pertama kalinya Leonard memilih mengalihkan pandangan.

Gadis ini benar-benar aneh.

Ia tidak memiliki kekuatan sihir.

Tidak membawa senjata.

Namun keberaniannya melampaui para jenderal perang yang pernah ia temui.

"Apa lihat-lihat?" bentak Azura.

"Mentang-mentang punya mata!"

Gumam Zura pelan.

Leonard langsung menoleh ke arah lain.

Membuat Azura menang tipis dalam pertarungan tatapan tersebut.

Saat itulah suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Jody turun dengan setelan jas rapi.

Pria itu menguap pelan sebelum membetulkan kacamatanya.

Namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat suasana ruang tamu.

"Morning."

Tidak ada yang menjawab.

Jody mengernyit.

"Kenapa suasananya kayak mau perang?"

Azura langsung berjalan menghampiri ayahnya.

Memeluk lengan Jody seperti anak kecil yang sedang mengadu.

"Papi..."

"Hm?"

"Dia ngatain aku gundik."

Azura menunjuk Leon yang heran.

Jody terdiam.

Perlahan menoleh ke arah Leonard.

Leonard yang merasa tidak bersalah tetap duduk tegak.

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

"Dia memang berpakaian tidak pantas."

Jody memijat pelipisnya.

Pagi-pagi sekali sudah dapat masalah.

"Kamu ngatain anak saya?"

"Aku hanya bertanya."

"Kamu bilang dia gundik."

"Itu pertanyaan."

"Itu bukan pertanyaan."

"Itu pertanyaan."

"Itu penghinaan."

Leonard terdiam.

'apa mengatai gundik yang memang seperti gundik salah?'

Batinnya berkelit.

Jody menghela napas panjang.

Sementara Azura tersenyum puas di belakang ayahnya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah asing ini, Leonard merasa kalah debat.

---

Belum sempat suasana mereda.

Suara langkah kecil terdengar dari tangga.

"Om ganteng!"

Excel muncul dengan rambut berantakan dan piyama lucu.

Ia langsung berlari menuruni tangga.

"Excel, jangan lari!" teriak Monica.

"Iya, Mami!"

Namun bocah itu tetap berlari.

Excel langsung berhenti di depan Leonard.

"Om masih di sini?"

Leonard menatap bocah itu.

Entah kenapa, mata bening Excel mengingatkannya pada Arselia.

Adik kecilnya.

Yang selalu cerewet.

Yang selalu mengejarnya ke mana-mana.

Yang sering ia abaikan.

Untuk sesaat, ekspresi Leonard melembut.

Sedikit saja.

"Om?"

Excel melambaikan tangan di depan wajahnya.

Leonard tersadar.

"Hm?"

"Kenapa masih di sini? Kenapa gak pulang?"

Senyum Excel polos.

Namun pertanyaan itu membuat Leonard terdiam.

Pulang.

Ke mana?

Ia bahkan tidak tahu dirinya sedang berada di mana sekarang.

Apakah Lunaventia masih ada?

Apakah ia masih berada di dunianya?

Ataukah semua ini hanyalah mimpi?

Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini, Leonard merasakan sesuatu yang asing.

Kesepian.

---

Tak lama kemudian, seluruh keluarga berkumpul di meja makan.

Leonard duduk dengan kaku.

Tatapannya menyapu berbagai makanan yang tersaji.

Semuanya terlihat aneh.

Sangat aneh.

Ada nasi.

Ada telur.

Ada sosis.

Ada roti.

Dan beberapa makanan lain yang belum pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Leonard memandang semuanya dengan curiga.

Azura yang duduk di seberangnya memperhatikan tingkah itu.

"Kok diem?"

Leonard tidak menjawab.

Ia sedang berpikir.

Makanan mana yang aman dimakan?

Di istana, seluruh makanan raja selalu diperiksa lebih dulu.

Sementara di sini...

Mereka langsung makan begitu saja.

Benar-benar barbar.

Excel yang sudah selesai minum meletakkan gelasnya.

Leonard memperhatikannya.

Gelas itu bening.

Mengilap.

Dan sangat berbeda dari cangkir logam di istana.

Penasaran, Leonard mengambilnya.

Excel langsung protes.

"Itu punya aku!"

Leonard sedikit tersentak.

Azura langsung menyodorkan gelas lain.

"Nih. Ambil."

Leonard menerima gelas itu perlahan.

Ia memutarnya ke sana kemari.

Mengamati bentuknya.

Lalu bertanya dengan wajah serius.

"Benda apa ini?"

Semua orang berhenti makan.

"Hah?"

Leonard mengangkat gelas tersebut.

"Kenapa benda ini tembus pandang?"

Hening.

Azura menatapnya.

Monica menatapnya.

Jody menatapnya.

Excel menatapnya.

Lalu...

"HAHAHAHAHA!"

Excel tertawa paling keras.

"Itu gelas, Om!"

Leonard mengernyit.

"Gelas?"

"Iya."

Monica mengambil gelas itu, menuangkan air, lalu menyerahkannya kembali.

"Ini buat minum."

Leonard menerimanya perlahan.

Ia menyeruput sedikit.

Mata birunya membesar.

Air.

Air biasa.

Tetapi terasa sangat segar.

Lebih jernih dibanding air yang biasa ia minum di istana.

Menarik.

Sangat menarik.

Leonard kembali memandangi gelas tersebut.

Teknologi di rumah ini benar-benar aneh.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di sini...

Rasa penasarannya mulai mengalahkan kebingungannya.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Zakia Ulfa

Zakia Ulfa

aku g berenti tertawa😄😄😄

2026-09-07

1

lihat semua
Episodes
1 Raja yang kehilangan Tahta
2 Raja yang nyasar di kamar
3 Tersangka tampan
4 Raja yang tidak di percaya
5 kebingungan sang raja
6 hilangnya sang raja
7 Raja yang tak bisa mandi
8 aib sempak
9 langkah pertama di dunia asing
10 pulang yang semakin jauh
11 Mata yang kembali bertemu
12 keheningan di meja makan
13 nama yang tidak tercatat di manapun
14 rahasia depan rumah
15 dasar manusia purba!
16 ingin tahu dunia baru
17 siapa dia?
18 ketauan
19 Bertemu dia
20 rahasia masa lalu
21 mulai menyebar
22 pengen juga
23 weekend yang berubah arah
24 di antara dua tatapan
25 debar di sore hari
26 Drama malam hari
27 ponsel ditempat sampah
28 ponsel dan kesalahpahaman
29 gagal
30 permintaan maaf
31 Full day sama kamu
32 koin emas??
33 perlahan dekat.
34 drama naik lift
35 lupa
36 perkelahian di gang gelap
37 Leon hilang
38 ketemu.
39 siomay dan rasa kesal
40 usiran halus dan ambisi Zerana.
41 jebakan di menara sunyi
42 rahasia di balik kanvas
43 singa betina di sekolah musuh.
44 kebingungan di atas roof top
45 warna yang sama dengan sorot berbeda
46 jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47 Tamu tak diundang
48 tuduhan pelet
49 Ganteng maksimal
50 salah sasaran
51 Rahasia dan ancaman
52 Pernyataan Leon.
53 Liontin batu shafir
54 incaran baru
55 Jejak Safir dan penculikan
56 Rahasia yang tersembunyi
57 kebenaran yang terpotong
58 pujian yang mampu menyelamatkan
59 mahkota yang retak
60 serpihan kepercayaan yang runtuh
61 gema kerinduan yang hilang
62 pertengkaran di pesisir
63 kejaran dan kebenaran
64 tertangkap
65 misteri malam kelahiran
66 darah murni istana
67 Titahan tak terduga
68 ikatan yang terbelah.
69 perkelahian di goa
70 tarikan takdir lintas dimensi
71 keributan di ruang arsip
72 Takdir yang menyilang
73 the real bukan mimpi.
74 dunia baru dan gaun impian
75 misteri dibalik pohon beringin
76 misteri boneka Sukma
77 Riuh di balik dinding batu
78 pertemuan yang mengoyak hati
79 Batas yang nyata
80 di balik bayang-bayang Istana
81 pelarian malam
82 tiba-tiba gombal
83 pulang
84 pelukan hangat dan topeng istana
85 penyamaran
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Raja yang kehilangan Tahta
2
Raja yang nyasar di kamar
3
Tersangka tampan
4
Raja yang tidak di percaya
5
kebingungan sang raja
6
hilangnya sang raja
7
Raja yang tak bisa mandi
8
aib sempak
9
langkah pertama di dunia asing
10
pulang yang semakin jauh
11
Mata yang kembali bertemu
12
keheningan di meja makan
13
nama yang tidak tercatat di manapun
14
rahasia depan rumah
15
dasar manusia purba!
16
ingin tahu dunia baru
17
siapa dia?
18
ketauan
19
Bertemu dia
20
rahasia masa lalu
21
mulai menyebar
22
pengen juga
23
weekend yang berubah arah
24
di antara dua tatapan
25
debar di sore hari
26
Drama malam hari
27
ponsel ditempat sampah
28
ponsel dan kesalahpahaman
29
gagal
30
permintaan maaf
31
Full day sama kamu
32
koin emas??
33
perlahan dekat.
34
drama naik lift
35
lupa
36
perkelahian di gang gelap
37
Leon hilang
38
ketemu.
39
siomay dan rasa kesal
40
usiran halus dan ambisi Zerana.
41
jebakan di menara sunyi
42
rahasia di balik kanvas
43
singa betina di sekolah musuh.
44
kebingungan di atas roof top
45
warna yang sama dengan sorot berbeda
46
jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47
Tamu tak diundang
48
tuduhan pelet
49
Ganteng maksimal
50
salah sasaran
51
Rahasia dan ancaman
52
Pernyataan Leon.
53
Liontin batu shafir
54
incaran baru
55
Jejak Safir dan penculikan
56
Rahasia yang tersembunyi
57
kebenaran yang terpotong
58
pujian yang mampu menyelamatkan
59
mahkota yang retak
60
serpihan kepercayaan yang runtuh
61
gema kerinduan yang hilang
62
pertengkaran di pesisir
63
kejaran dan kebenaran
64
tertangkap
65
misteri malam kelahiran
66
darah murni istana
67
Titahan tak terduga
68
ikatan yang terbelah.
69
perkelahian di goa
70
tarikan takdir lintas dimensi
71
keributan di ruang arsip
72
Takdir yang menyilang
73
the real bukan mimpi.
74
dunia baru dan gaun impian
75
misteri dibalik pohon beringin
76
misteri boneka Sukma
77
Riuh di balik dinding batu
78
pertemuan yang mengoyak hati
79
Batas yang nyata
80
di balik bayang-bayang Istana
81
pelarian malam
82
tiba-tiba gombal
83
pulang
84
pelukan hangat dan topeng istana
85
penyamaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!