Azura And The Lost King

Azura And The Lost King

Raja yang kehilangan Tahta

Ratusan tahun lalu, Kerajaan Lunaventia berdiri megah di bawah cahaya bulan—sesuai arti namanya. Anggun, tenang, namun kuat.

Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang disegani seluruh dunia. Raja yang bijaksana, adil, rendah hati, dan tidak mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Di bawah kepemimpinannya, rakyat hidup makmur dan damai.

Namanya adalah Raja Qhilandra Anvincet Hills.

Tak hanya dicintai rakyat, ia juga menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Pertahanan militer Lunaventia begitu kuat, terlebih karena dua panglima perang terhebat kerajaan adalah putra-putranya sendiri, dua ksatria yang rela mati demi tanah kelahirannya.

Namun semuanya berubah setelah kepergian sang ratu tercinta.

Ratu Elvaria Naresta Laviena meninggal dunia setelah melahirkan putri ketiga mereka, Arselia Naresta Laviena.

Sejak saat itu, Raja Qhilandra perlahan kehilangan semangat hidupnya. Waktu terus berjalan, tetapi kondisinya semakin melemah. Dan kelemahan itu menjadi kesempatan emas bagi kerajaan-kerajaan musuh untuk menyerang Lunaventia.

Terutama Kerajaan Ardentia.

Musuh bebuyutan yang dipimpin oleh Raja Malvise Cexandria Pandora dan panglima kepercayaannya, Acarya Sukhya Charta.

Ardentia berkali-kali mencoba menaklukkan Lunaventia, namun selalu pulang membawa kekalahan.

Dan ketika kabar kematian Raja Qhilandra menyebar ke seluruh penjuru dunia, Ardentia semakin gencar menyerang.

Mereka mengira Lunaventia telah runtuh.

Mereka salah.

---

Hari kematian Raja Qhilandra dipenuhi lautan duka.

Kerajaan-kerajaan sahabat datang memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini menjadi simbol kekuatan dan kedamaian.

Di tengah malam yang sunyi, Leonard Anvincet Hills berdiri mematung di tepi kolam teratai istana.

Pantulan cahaya bulan menari di permukaan air, tetapi tatapan pemuda itu tetap dingin dan kosong.

Siapa pun yang melihatnya tahu—

Putra mahkota Lunaventia sedang terluka begitu dalam.

Setelah kehilangan ibundanya, kini ayahandanya juga pergi meninggalkannya seorang diri.

Tangannya terkepal erat di belakang punggung.

Ia sadar.

Cepat atau lambat, dirinya harus naik takhta.

Menjadi raja di usia muda.

Memikul seluruh tanggung jawab kerajaan tanpa lagi ditemani kedua orang tuanya.

Leonard menarik napas panjang.

Ia akan menjaga Lunaventia tetap berdiri, apa pun yang terjadi.

Dengan atau tanpa mereka.

“Hormat, Yang Mulia Putra Mahkota.”

Seorang prajurit datang menghampiri lalu berlutut hormat.

Leonard hanya melirik sekilas.

“Yang Mulia Ibu Suri memanggil Anda ke kediamannya.”

Tanpa berkata apa-apa, Leonard berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.

---

Prajurit penjaga segera membuka pintu kediaman permaisuri ketika Leonard tiba.

Pemuda itu melangkah masuk dan sedikit membungkukkan tubuhnya.

“Hormat, Yang Mulia Ibu Suri.”

Wanita tua itu menepuk kursi di sampingnya, meminta Leonard duduk.

Wajah sang permaisuri tampak lelah. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya, tetapi senyuman lembut masih menghiasi bibirnya.

“Kau tahu,” ucapnya pelan, “jika penobatanmu ditunda lebih lama, pertahanan kerajaan akan melemah.”

Leonard diam mendengarkan.

“Musuh di luar istana sudah bergerak. Dan musuh di dalam istana hanya menunggu kesempatan.”

Leonard mengembuskan napas berat.

Sang permaisuri menepuk punggung cucunya lembut.

“Aku tahu ini berat untukmu. Tetapi setelah kepergian ayahmu… semua ini menjadi tanggung jawabmu sekarang.”

Tatapan Leonard sedikit menunduk.

“Kami semua akan mendukungmu.”

---

Malam penobatan pun tiba.

Seluruh istana dihiasi cahaya lampu dan ornamen mewah. Bendera kerajaan berkibar megah di sepanjang aula utama.

Para bangsawan, petinggi kerajaan, hingga panglima perang memenuhi area penobatan.

Namun di tengah kemeriahan itu, Leonard hanya merasakan kehampaan.

Di dalam kamarnya, ia menatap pakaian kebesaran kerajaan yang dibawakan pelayan setianya, Arya.

Jubah emas dengan bordir benang kerajaan.

Pakaian kebanggaan milik ayahnya.

Pakaian yang dulu dikenakan Raja Qhilandra saat pertama kali naik takhta.

“Ini pakaian Yang Mulia,” ujar Arya pelan.

Leonard menatapnya lama.

Itu bukan sekadar pakaian.

Melainkan simbol beban yang akan dipikulnya mulai malam ini.

Ia memejamkan mata sebelum akhirnya mengambil pakaian tersebut.

---

Ritual penobatan berlangsung khidmat.

Saat mahkota kerajaan dipasangkan di atas kepalanya, Leonard menutup mata perlahan.

Mahkota itu terasa berat.

Terlalu berat.

Bukan karena emas dan permata yang menghiasinya…

Tetapi karena tanggung jawab yang menyertainya.

“HIDUP YANG MULIA RAJA LEONARD!”

“HIDUP!”

“HIDUP RAJA LEONARD!”

“HIDUP!”

Sorakan menggema memenuhi aula kerajaan.

Di sisi kirinya, Daphne Anvincet Hills menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan selalu mendukungmu, Kak…”

Sementara di sisi kanan Leonard, Arselia kecil menatap kakaknya dengan binar kagum.

Gadis berusia enam tahun itu selalu ingin dekat dengannya.

Namun Leonard terlalu dingin untuk didekati.

---

Acara penobatan baru saja selesai ketika pintu ruang kerja kerajaan tiba-tiba terbuka keras.

BRAK!

Seorang prajurit jatuh tersungkur dengan luka tusuk di perutnya.

Leonard langsung berdiri. Menatap prajurit itu tajam.

“Siapa yang melakukan ini?”

Prajurit itu berusaha bicara dengan napas tersengal.

“Ar… den…”

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ia mengembuskan napas terakhir.

Tatapan Leonard berubah tajam. Dia mengepalkan tangannya, menatap jendela dengan tatapan menusuk.

Ardentia.

Mereka menyerang secepat ini.

Leonard langsung berjalan keluar, tetapi Daphne menahannya.

“Kau mau ke mana?”

“Berperang.”

Daphne memegang pundaknya kuat-kuat.

“Kau seorang raja sekarang!”

Leonard terdiam.

“Kau tidak bisa lagi bertindak sesukamu. Kesalahan kecil seorang raja bisa menghancurkan seluruh kerajaan.”

Kalimat itu membuat Leonard membeku.

Benar.

Dirinya bukan lagi seorang ksatria biasa.

Sekarang ia adalah Raja Lunaventia.

Dan kenyataan itu terasa seperti rantai yang mengikat dirinya.

Karena sejak awal…

Menjadi raja bukanlah impiannya.

---

Alih-alih menghadiri rapat perang, Leonard justru masuk ke ruang kerja mendiang ayahnya.

Ruangan itu masih sama.

Meja kerja.

Rak buku.

Aroma kayu dan kertas lama.

Semua masih terasa seperti milik Qhilandra.

Dan itu membuat pertahanan Leonard runtuh sepenuhnya.

Ia menangis.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raja muda itu menangis seperti anak kecil yang kehilangan tempat pulang.

Ia marah pada takdir.

Kenapa ayahnya?

Kenapa bukan dirinya?

Apa tuhan sedang menghukumnya?

Tatapannya lalu berhenti pada lukisan kedua orang tuanya yang tergantung rapi di dekat jendela,

Leonard mendekati lukisan itu, menatapnya lama, dia mengusap bingkai foto itu pelan.

Namun saat jemarinya menyentuh bagian kiri bawah bingkai, ia merasakan sesuatu yang aneh.

Sebuah tombol kecil.

Leonard mengerutkan dahinya, menekannya perlahan.

GGRRRR…

Rak buku di belakang meja kerja tiba-tiba bergeser.

Membuka sebuah ruangan rahasia.

Dan di sana…

Berdiri sebuah cermin besar setinggi tubuh manusia.

Leonard mengernyit bingung.

Ia mendekat perlahan.

Namun sesuatu membuat tubuhnya membeku.

Cermin itu tidak memantulkan dirinya.

Seolah itu bukan seperti cermin, melainkan seperti lukisan ruangan kosong biasa.

Tapi itu terlalu jelas untuk sebuah lukisan, Yang terlihat hanya ruangan kosong di belakangnya.

Napas Leonard mulai memburu.

Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuah buku lalu mengarahkannya ke depan cermin.

Dan buku itu tampak melayang sendiri.

Leonard refleks melempar buku tersebut.

“Apa ini…?”

Tiba-tiba, lingkaran hitam muncul di permukaan cermin.

Angin besar berputar memenuhi ruangan.

Barang-barang mulai beterbangan.

Tubuh Leonard terseret mendekati cermin.

Ia mencengkeram kaki kursi sekuat tenaga.

“Tolong!”

Namun suaranya tenggelam oleh suara angin yang memekakkan telinga.

Leonard berusaha merangkak menjauh.

Tetapi—

BUK!

Sebuah benda menghantam kepalanya keras.

Pandangan Leonard berkunang-kunang.

Dan dalam hitungan detik,

Tubuhnya terhisap masuk ke dalam cermin.

Gelap.

Hanya itu yang bisa ia lihat.

Dia memegangi kepalanya yang pusing, dia bangkit.

Leonard berlari tanpa arah di tengah kehampaan hitam yang tak berujung.

Ia mencoba berteriak.

Tak ada jawaban.

Tak ada siapa-siapa.

Ia meraba kepalanya.

Mahkotanya hilang.

Tiba-tiba, cahaya putih menyilaukan muncul di hadapannya.

Tubuh Leonard kembali terseret paksa menuju cahaya itu.

Dia berusaha berlari, namu seolah langkahnya tidak pernah bergerak karena, cahaya itu semakin besar.

Dan sebelum semuanya menghilang

Ia merasa dirinya terjatuh ke dalam kekosongan yang lebih dalam.

Leonard merasa sesak yang luar biasa di dadanya.

Seolah ada batu besar yang menindih, membuatnya hilang kesadaran sepenuhnya.

Bersambung…

Terpopuler

Comments

Hariyoo

Hariyoo

mantap nih Rajanya /Good/

2026-09-05

1

gendiz

gendiz

semangat lanjutkan menulisnya 💪 kalau sempat mampir baca karyaku juga ya

2026-07-09

1

sakura

sakura

...

2026-09-07

1

lihat semua
Episodes
1 Raja yang kehilangan Tahta
2 Raja yang nyasar di kamar
3 Tersangka tampan
4 Raja yang tidak di percaya
5 kebingungan sang raja
6 hilangnya sang raja
7 Raja yang tak bisa mandi
8 aib sempak
9 langkah pertama di dunia asing
10 pulang yang semakin jauh
11 Mata yang kembali bertemu
12 keheningan di meja makan
13 nama yang tidak tercatat di manapun
14 rahasia depan rumah
15 dasar manusia purba!
16 ingin tahu dunia baru
17 siapa dia?
18 ketauan
19 Bertemu dia
20 rahasia masa lalu
21 mulai menyebar
22 pengen juga
23 weekend yang berubah arah
24 di antara dua tatapan
25 debar di sore hari
26 Drama malam hari
27 ponsel ditempat sampah
28 ponsel dan kesalahpahaman
29 gagal
30 permintaan maaf
31 Full day sama kamu
32 koin emas??
33 perlahan dekat.
34 drama naik lift
35 lupa
36 perkelahian di gang gelap
37 Leon hilang
38 ketemu.
39 siomay dan rasa kesal
40 usiran halus dan ambisi Zerana.
41 jebakan di menara sunyi
42 rahasia di balik kanvas
43 singa betina di sekolah musuh.
44 kebingungan di atas roof top
45 warna yang sama dengan sorot berbeda
46 jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47 Tamu tak diundang
48 tuduhan pelet
49 Ganteng maksimal
50 salah sasaran
51 Rahasia dan ancaman
52 Pernyataan Leon.
53 Liontin batu shafir
54 incaran baru
55 Jejak Safir dan penculikan
56 Rahasia yang tersembunyi
57 kebenaran yang terpotong
58 pujian yang mampu menyelamatkan
59 mahkota yang retak
60 serpihan kepercayaan yang runtuh
61 gema kerinduan yang hilang
62 pertengkaran di pesisir
63 kejaran dan kebenaran
64 tertangkap
65 misteri malam kelahiran
66 darah murni istana
67 Titahan tak terduga
68 ikatan yang terbelah.
69 perkelahian di goa
70 tarikan takdir lintas dimensi
71 keributan di ruang arsip
72 Takdir yang menyilang
73 the real bukan mimpi.
74 dunia baru dan gaun impian
75 misteri dibalik pohon beringin
76 misteri boneka Sukma
77 Riuh di balik dinding batu
78 pertemuan yang mengoyak hati
79 Batas yang nyata
80 di balik bayang-bayang Istana
81 pelarian malam
82 tiba-tiba gombal
83 pulang
84 pelukan hangat dan topeng istana
85 penyamaran
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Raja yang kehilangan Tahta
2
Raja yang nyasar di kamar
3
Tersangka tampan
4
Raja yang tidak di percaya
5
kebingungan sang raja
6
hilangnya sang raja
7
Raja yang tak bisa mandi
8
aib sempak
9
langkah pertama di dunia asing
10
pulang yang semakin jauh
11
Mata yang kembali bertemu
12
keheningan di meja makan
13
nama yang tidak tercatat di manapun
14
rahasia depan rumah
15
dasar manusia purba!
16
ingin tahu dunia baru
17
siapa dia?
18
ketauan
19
Bertemu dia
20
rahasia masa lalu
21
mulai menyebar
22
pengen juga
23
weekend yang berubah arah
24
di antara dua tatapan
25
debar di sore hari
26
Drama malam hari
27
ponsel ditempat sampah
28
ponsel dan kesalahpahaman
29
gagal
30
permintaan maaf
31
Full day sama kamu
32
koin emas??
33
perlahan dekat.
34
drama naik lift
35
lupa
36
perkelahian di gang gelap
37
Leon hilang
38
ketemu.
39
siomay dan rasa kesal
40
usiran halus dan ambisi Zerana.
41
jebakan di menara sunyi
42
rahasia di balik kanvas
43
singa betina di sekolah musuh.
44
kebingungan di atas roof top
45
warna yang sama dengan sorot berbeda
46
jambakan didepan gerbang SMA Garuda
47
Tamu tak diundang
48
tuduhan pelet
49
Ganteng maksimal
50
salah sasaran
51
Rahasia dan ancaman
52
Pernyataan Leon.
53
Liontin batu shafir
54
incaran baru
55
Jejak Safir dan penculikan
56
Rahasia yang tersembunyi
57
kebenaran yang terpotong
58
pujian yang mampu menyelamatkan
59
mahkota yang retak
60
serpihan kepercayaan yang runtuh
61
gema kerinduan yang hilang
62
pertengkaran di pesisir
63
kejaran dan kebenaran
64
tertangkap
65
misteri malam kelahiran
66
darah murni istana
67
Titahan tak terduga
68
ikatan yang terbelah.
69
perkelahian di goa
70
tarikan takdir lintas dimensi
71
keributan di ruang arsip
72
Takdir yang menyilang
73
the real bukan mimpi.
74
dunia baru dan gaun impian
75
misteri dibalik pohon beringin
76
misteri boneka Sukma
77
Riuh di balik dinding batu
78
pertemuan yang mengoyak hati
79
Batas yang nyata
80
di balik bayang-bayang Istana
81
pelarian malam
82
tiba-tiba gombal
83
pulang
84
pelukan hangat dan topeng istana
85
penyamaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!