Jakarta, Delapan Dekade Kemudian

“Tanpa The Closer… kita ini siapa, Gas?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dira. Lirih. Nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menghantam atap markas. Ia berdiri di tengah ruang utama, menatap logo The Vault yang baru terukir di dinding granit. Masih bersih, terlalu bersih, seperti belum pernah digunakan.

Bagas tidak langsung menjawab. Ia tahu, bukan jawaban yang Dira butuh—tapi bukti. Tapi malam ini, bahkan ia pun ragu bisa memberikannya.

“Kita... tetap The Vault,” ujarnya akhirnya. “Dengan atau tanpa dia.”

Dira menoleh. Matanya sayu, bukan karena lelah, tapi kosong. “Itu kata-kata keren, Gas. Tapi coba lihat.” Ia mengangkat tangan, menunjuk ke meja koordinasi digital yang mengitari ruangan. Hanya setengah dari modul aktif.

“Intan lagi di ruang medis. Rendi belum sembuh total dari insiden Baluran. Noval malah baru bisa ngendaliin armor-nya dua hari lalu. Rivani… masih trauma habis gagal misi penyelamatan di Kalimantan.”

Ia menarik napas. “Dan Liana? Satu-satunya field commander yang kita punya, sekarang udah ikut Vanguard ke luar angkasa. Tinggal kita berdua di sini. Kayak sisa-sisa.”

Bagas memandang satu per satu meja kosong itu.

Dulu, meja-meja itu penuh suara. Penuh debat, tawa, dan kadang, tangis. Dulu, mereka semua percaya kalau dunia ini bisa diselamatkan. Karena The Closer ada. Karena tim lengkap. Karena markas berdiri megah.

Tapi sekarang, hanya bayangan yang tersisa.

“Kita nggak boleh mati sebelum lawan datang,” kata Bagas pelan. “Mereka pasti balik. Dan kita satu-satunya pagar terakhir.”

Dira terdiam.

Ia tahu Bagas benar. Tapi apa cukup?

Bagas menatapnya lagi. “Dengerin, Dir. Kalau The Vault itu benteng, maka kita fondasinya. Kalau kita retak, semua runtuh. Jadi ayo… kita bangun ini lagi. Dari dasar. Nggak perlu hebat. Cukup... bangkit dulu.”

Dira tidak menjawab. Tapi matanya berubah. Ada sedikit sinar di sana—lelah, tapi menyala. Ia mengangguk kecil.

Lalu ia melangkah pergi. Sendirian.

Hujan belum reda saat Dira membuka pintu ruang arsip. Lampunya menyala otomatis, menyoroti rak-rak berisi ratusan naskah, dokumen, dan tablet sejarah versi semesta NBU—semesta baru yang tercipta setelah The Closer menghancurkan Paramesha.

Dira tak tahu kenapa ia datang ke sini.

Mungkin karena ia butuh jawaban. Atau pelarian.

Tangannya menyusuri punggung-punggung buku, lalu berhenti pada satu naskah digital yang terlihat usang. Judulnya: “Versi Terlupakan: Lapis Ketiga Sejarah Kemerdekaan”.

Ia sentuh layar.

Halaman pertama menyala. Kata-kata muncul, bukan dari buku, tapi dari suara. Narasi tua. Pelan. Dalam bahasa Indonesia yang seperti pernah didengar di mimpi.

“Indonesia tidak hanya dijajah secara fisik, tapi juga secara spiritual. Ada perang yang tak pernah masuk buku sejarah. Perang antara cahaya dan bayangan. Antara para penjaga negeri... dan penjajah yang datang bukan cuma membawa senjata, tapi sihir.”

Dira terpaku. Nafasnya tercekat. Ia belum pernah membaca bab ini.

Halaman berganti otomatis.

Tahun 1945. Satu organisasi bayangan, sisa dari kekuatan kolonial, disebut Zwarte Sol—Matahari Hitam—masih bertahan di balik kekacauan perang dunia. Mereka percaya Indonesia adalah pusat energi dunia. Mereka ingin merebutnya kembali. Tapi satu kelompok pahlawan, tak tercatat di naskah resmi, berdiri menghadang. Mereka menyegel kekuatan itu... di Gunung Lawu.

Dira menelan ludah.

Namanya: Zwarte Sol.

Ia belum pernah dengar.

Belum pernah—bahkan dalam semua briefing, database, atau pertemuan bersama The Closer.

Dan itu membuatnya ngeri.

Ia mencabut tablet, berlari keluar ruang arsip, turun ke lantai bawah tempat Arka biasa berada.

Cahaya biru menyelimuti ruangan. Arka—entitas AI berbentuk semi-manusia holografik—berdiri menghadap layar, seperti biasa. Tapi hari ini, wajahnya tampak lebih… gelisah.

“Arka,” seru Dira, melempar tablet ke atas meja. “Bisa cek ini?”

Arka menyentuh layar. Data masuk. Diproses. Tapi… hasilnya nihil.

Data tentang Zwarte Sol: tidak ditemukan.

Foto, nama, organisasi, jejak metafisik, sidik sejarah digital… kosong.

Dira menatap layar itu seolah menatap jurang.

“Cuma mitos, ya?” gumamnya. “Atau... terlalu nyata sampai disembunyikan semua?”

Langkah kaki Bagas terdengar mendekat. Ia masuk bersama Intan dan Rivani yang baru kembali dari latihan. Wajah mereka sama tegangnya.

“Arka?” tanya Bagas.

AI itu menoleh. “Tak satu bit pun. Seolah-olah mereka tak pernah ada.”

Dira menunjuk layar. “Tapi sejarah mereka muncul di satu arsip. Satu sumber. Dan kita bahkan nggak pernah dengar soal mereka?”

“Kalau begitu,” gumam Bagas sambil menatap peta holografik Indonesia yang perlahan menampilkan titik-titik energi abnormal dari berbagai daerah. “Mereka sudah mulai bangkit lagi. Dan kita buta arah.”

Tiba-tiba layar Arka berkedip.

Satu nama muncul.

Van Rijk van Oostermeer

Status: Tidak Dikenal

Lokasi terakhir terdeteksi: Gunung Lawu, 1945.

Suasana ruangan mendadak membeku.

Dira membisik. “Sejarah... sedang mengulang dirinya.”

Lalu—

WHEEEEOOOOO!!!

Alarm markas melolong keras. Merah. Penuh.

Semua mata menoleh ke layar utama.

Sumber ancaman: Candi Borobudur

Energi tak dikenal: Kelas Merah

Kemungkinan keterkaitan: Zwarte Sol

Dan di layar kecil pojok kiri atas—satu simbol muncul untuk pertama kalinya dalam 80 tahun.

Matahari Hitam.

Dira menatap semua orang. “Kita nggak bisa tunggu The Closer balik. Kita harus hadapi ini... sekarang.”

Bagas mengangguk. “Kita buktikan. The Vault berdiri bukan karena satu orang. Tapi karena tanah ini butuh penjaga.”

Intan menyiapkan senjata. Rivani menarik napas dalam. Noval—meski masih belum pulih total—memasuki mode armor.

“Tim siap?” tanya Dira.

“Siap, Kapten,” jawab mereka serempak.

Untuk pertama kalinya sejak kehancuran markas lama, tim The Vault bergerak sebagai satu tubuh.

Tanpa Closer.

Tanpa Liana.

Tanpa nama besar.

Cuma satu tujuan:

Menghentikan kebangkitan penjajahan gaib... sebelum matahari hitam terbit lagi.

Episodes
1 Kata Pengantar
2 Prolog
3 Jakarta, Delapan Dekade Kemudian
4 Terungkap Pahlawan Jaman Dulu
5 Brifing Semua Tim
6 Kegelisahan dan Keraguan
7 Terlambat
8 Warisan Yang Tak Terpadamkan
9 Rahasia Bumi
10 Retakan Yang tertutup, Dunia Yang Terbuka
11 Batas Dunia
12 Mesin Penjelajah Batas
13 FX Vault Tank 805
14 Gelombang Yang Tak Terlihat
15 Di Dasar Yang Tak Pernah Tidur
16 Dinding Yang Tak Pernah Retak
17 Kedalaman Yang Tak Bernama
18 Suara Dari Dalam Es
19 Dunia Di balik Gerbang
20 Benua Arcadia Terra
21 Di mata mereka kita asing
22 Penghakiman Di Balik Kubah
23 Langit Yang Tak Pernah Tersentuh
24 Raungan Tak Pernah Padam
25 Simbol Yang Tak Pernah Mati
26 Rahasia Di Balik Kubah
27 Analisis Di Tengah Kekacauan
28 Puncak Hyperboria Dan Janji Putri
29 Pamitan Yang Kasar
30 Bisikan di ruang gelap
31 Kostum Pahlawan dan Mimpi Kosmik
32 Ujian Di Lautan Es
33 Badai Es Dan Penari Kematian
34 Sambutan Dingin di Iceland City
35 Kepercayaan Yang Retak
36 Kekuatan Iqaluk dan Pajak Yang Membeku
37 Perjamuan Di Tengah Es dan Rencana Baru
38 Penumpang Gelap
39 Gema Pesta Es
40 Pergeseran Rencana dan Bahaya yang mengintai
41 Ujian Pendaftaran Dan Aksi Tipu Muslihat
42 Pendakian Ke Puncak Beku
43 Sabotase di Jantung Es
44 Debut Gladiator Paling Aneh
45 Kekacauan Yang terjadi
46 Profil Lengkap DIRA ANASTASYA
47 CHAPTER 1 : Rumah Yang Hancur
48 CHAPTER 2 : Hilangnya Rumah Kedua
49 CHAPTER 3 : Sebuah Harga Perban
50 CHAPTER 4 : Harapan Itu Selalu Ada
51 CHAPTER 5 : Genggaman Masa Lalu
52 CHAPTER 6 : Pelukan Terakhir
53 CHAPTER 7 : Tanah Merah Dan Payung Hitam
54 Profil Lengkap BAGAS DWI PUTRA
55 CHAPTER 1 : Jatuh Ke Dalam Biru Yang Membeku
56 CHAPTER 2 : Surat Palsu
57 CHAPTER 3 : Seni Menjual Neraka
58 CHAPTER 4 : Monster Besi
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Kata Pengantar
2
Prolog
3
Jakarta, Delapan Dekade Kemudian
4
Terungkap Pahlawan Jaman Dulu
5
Brifing Semua Tim
6
Kegelisahan dan Keraguan
7
Terlambat
8
Warisan Yang Tak Terpadamkan
9
Rahasia Bumi
10
Retakan Yang tertutup, Dunia Yang Terbuka
11
Batas Dunia
12
Mesin Penjelajah Batas
13
FX Vault Tank 805
14
Gelombang Yang Tak Terlihat
15
Di Dasar Yang Tak Pernah Tidur
16
Dinding Yang Tak Pernah Retak
17
Kedalaman Yang Tak Bernama
18
Suara Dari Dalam Es
19
Dunia Di balik Gerbang
20
Benua Arcadia Terra
21
Di mata mereka kita asing
22
Penghakiman Di Balik Kubah
23
Langit Yang Tak Pernah Tersentuh
24
Raungan Tak Pernah Padam
25
Simbol Yang Tak Pernah Mati
26
Rahasia Di Balik Kubah
27
Analisis Di Tengah Kekacauan
28
Puncak Hyperboria Dan Janji Putri
29
Pamitan Yang Kasar
30
Bisikan di ruang gelap
31
Kostum Pahlawan dan Mimpi Kosmik
32
Ujian Di Lautan Es
33
Badai Es Dan Penari Kematian
34
Sambutan Dingin di Iceland City
35
Kepercayaan Yang Retak
36
Kekuatan Iqaluk dan Pajak Yang Membeku
37
Perjamuan Di Tengah Es dan Rencana Baru
38
Penumpang Gelap
39
Gema Pesta Es
40
Pergeseran Rencana dan Bahaya yang mengintai
41
Ujian Pendaftaran Dan Aksi Tipu Muslihat
42
Pendakian Ke Puncak Beku
43
Sabotase di Jantung Es
44
Debut Gladiator Paling Aneh
45
Kekacauan Yang terjadi
46
Profil Lengkap DIRA ANASTASYA
47
CHAPTER 1 : Rumah Yang Hancur
48
CHAPTER 2 : Hilangnya Rumah Kedua
49
CHAPTER 3 : Sebuah Harga Perban
50
CHAPTER 4 : Harapan Itu Selalu Ada
51
CHAPTER 5 : Genggaman Masa Lalu
52
CHAPTER 6 : Pelukan Terakhir
53
CHAPTER 7 : Tanah Merah Dan Payung Hitam
54
Profil Lengkap BAGAS DWI PUTRA
55
CHAPTER 1 : Jatuh Ke Dalam Biru Yang Membeku
56
CHAPTER 2 : Surat Palsu
57
CHAPTER 3 : Seni Menjual Neraka
58
CHAPTER 4 : Monster Besi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!