Brifing Semua Tim

“Duduk semua. Kita mulai.”

Suara Dira tenang, tapi tegas. Semua agen The Vault memenuhi ruang taktis utama, dinding-dinding kaca transparan memantulkan cahaya hologram dari layar utama yang kini menampilkan logo baru: simbol Vault bersilangan dengan pola matahari hitam.

Arka, AI berbentuk humanoid transparan, berdiri di samping layar.

Bagas berdiri di sebelah Dira. Mereka tidak duduk di kursi pemimpin.

Sengaja.

“Gue tahu ini pertama kalinya kita kumpul tanpa bayangan Vanguard di atas kita,” kata Bagas. “Tapi kita nggak sendiri. Kita keluarga. Seperti yang Taki—The Closer—selalu bilang: Vault bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling siap berdiri bareng.”

Dira melanjutkan, “Zwarte Sol bukan organisasi baru. Mereka lebih tua dari semua yang kita tahu. Lebih tua dari negara ini. Didirikan VOC buat nyerap kekuatan tanah ini—secara harfiah. Metafisik. Dan sekarang mereka bangkit.”

Arka menggeser layar. Muncul peta Indonesia dengan titik-titik merah.

“Ada enam lokasi yang aktif secara metafisik dalam tiga hari terakhir,” ujar Arka. Suaranya tak beremosi, tapi setiap kata seperti palu. “Aktivitas ini tidak terdeteksi sistem modern. Tapi ada resonansi dari energi yang pernah digunakan di zaman penjajahan.”

Rendi mengangkat tangan. “Maksudnya... kayak ilmu-ilmu kolonial zaman dulu?”

“Lebih buruk,” kata Bagas. “Ilmu hitam. Ditambah teknologi metafisik yang mereka simpan selama ratusan tahun.”

Noval maju. “Jadi kita dibagi ke mana aja?”

Dira menunjuk layar. “Noval dan Intan ke Muara Jambi. Rendi dan Rivani ke Toraja. Tim lainnya akan gue beri arahan khusus setelah ini. Semua lokasi kemungkinan besar terhubung ke jejak Para Penjaga Batas.”

“Para apa?” tanya salah satu agen baru di belakang.

“Lima pahlawan sebelum era kita. Sebelum Vanguard. Sebelum Taki,” jelas Bagas. “Mereka pernah segel Zwarte Sol. Tapi segelnya mulai retak.”

Suasana ruangan mendadak berubah.

Bukan karena kata-kata Bagas.

Tapi karena pintu belakang terbuka dengan suara klik lembut.

Semua menoleh.

Seorang wanita masuk. Hitam dari ujung rambut sampai sepatu. Jumpsuit taktis dengan motif batik samar di lengan dalam. Jalan dengan tenang, tapi mata tajamnya mengamati semua. Wajahnya familiar—tapi tak bisa langsung dikenali.

“Siapa—” Intan bangkit setengah badan.

Wanita itu angkat tangan. “Sebelum kalian refleks nembak, santai. Aku bukan musuh.”

Dia melemparkan sesuatu ke meja briefing. Sebuah pisau—keris modern yang dilipat.

Rivani memicingkan mata. “Itu... keris milik—”

“Yuni Arshavin,” jawab wanita itu sendiri. “Alias Black Sundari. Adik tiri Agent Liana. Kakak kalian... lagi di orbit Mars. Jadi... aku mewakili dia.”

Hening sesaat.

Yuni nyengir setengah. “Aku nggak punya hak jadi bagian resmi Vault. Tapi kalau Zwarte Sol mau bangkit di sini, kalian nggak akan hadapi mereka sendiri.”

Rendi masih bengong. “Tunggu... lo ini... yang waktu itu muncul di Batara Raya? Yang ngebantai geng pisau di pelabuhan cuma pake dua jarum dan daun kecubung?”

Yuni angkat alis. “Ah, kabar jalan cepat juga ya.”

Dira melangkah mendekat. “Kenapa sekarang?”

Yuni menatapnya. Matanya tak sekeras sebelumnya. “Karena aku pernah lari dari semua ini. Sekarang... udah nggak bisa lagi.”

Bagas mengangguk pelan. “Kalau gitu... selamat datang. Kita butuh semua yang mau berdiri bareng.”

Arka kembali bicara. “Aktivitas Zwarte Sol meningkat cepat. Estimasi bentrokan dalam lima hari.”

Dira memutar ke semua agen. “Mulai sekarang, kalian bukan cuma The Vault. Kalian garis pertahanan terakhir.”

Yuni melirik layar. “Dan kita baru main di babak pertama.”

Semua menoleh padanya.

Dia tersenyum tipis.

> “Kalau ini perang... kita harus jadi yang paling gelap sebelum kegelapan itu datang duluan.”

Seketika, lampu ruangan mati.

Arka bergetar. “Interferensi—”

Layar berubah. Simbol matahari hitam berkedip.

Lalu muncul satu kalimat dalam bahasa Belanda kuno, lalu berubah ke Indonesia modern.

> “Kami tidak kembali. Karena kami tidak pernah benar-benar pergi.”

Dira menggenggam kerah bajunya.

Yuni sudah menghunus keris.

Dan peta di layar menunjukkan satu titik baru menyala.

Lembah Bada, Sulawesi Tengah.

Bersambung....

Episodes
1 Kata Pengantar
2 Prolog
3 Jakarta, Delapan Dekade Kemudian
4 Terungkap Pahlawan Jaman Dulu
5 Brifing Semua Tim
6 Kegelisahan dan Keraguan
7 Terlambat
8 Warisan Yang Tak Terpadamkan
9 Rahasia Bumi
10 Retakan Yang tertutup, Dunia Yang Terbuka
11 Batas Dunia
12 Mesin Penjelajah Batas
13 FX Vault Tank 805
14 Gelombang Yang Tak Terlihat
15 Di Dasar Yang Tak Pernah Tidur
16 Dinding Yang Tak Pernah Retak
17 Kedalaman Yang Tak Bernama
18 Suara Dari Dalam Es
19 Dunia Di balik Gerbang
20 Benua Arcadia Terra
21 Di mata mereka kita asing
22 Penghakiman Di Balik Kubah
23 Langit Yang Tak Pernah Tersentuh
24 Raungan Tak Pernah Padam
25 Simbol Yang Tak Pernah Mati
26 Rahasia Di Balik Kubah
27 Analisis Di Tengah Kekacauan
28 Puncak Hyperboria Dan Janji Putri
29 Pamitan Yang Kasar
30 Bisikan di ruang gelap
31 Kostum Pahlawan dan Mimpi Kosmik
32 Ujian Di Lautan Es
33 Badai Es Dan Penari Kematian
34 Sambutan Dingin di Iceland City
35 Kepercayaan Yang Retak
36 Kekuatan Iqaluk dan Pajak Yang Membeku
37 Perjamuan Di Tengah Es dan Rencana Baru
38 Penumpang Gelap
39 Gema Pesta Es
40 Pergeseran Rencana dan Bahaya yang mengintai
41 Ujian Pendaftaran Dan Aksi Tipu Muslihat
42 Pendakian Ke Puncak Beku
43 Sabotase di Jantung Es
44 Debut Gladiator Paling Aneh
45 Kekacauan Yang terjadi
46 Profil Lengkap DIRA ANASTASYA
47 CHAPTER 1 : Rumah Yang Hancur
48 CHAPTER 2 : Hilangnya Rumah Kedua
49 CHAPTER 3 : Sebuah Harga Perban
50 CHAPTER 4 : Harapan Itu Selalu Ada
51 CHAPTER 5 : Genggaman Masa Lalu
52 CHAPTER 6 : Pelukan Terakhir
53 CHAPTER 7 : Tanah Merah Dan Payung Hitam
54 Profil Lengkap BAGAS DWI PUTRA
55 CHAPTER 1 : Jatuh Ke Dalam Biru Yang Membeku
56 CHAPTER 2 : Surat Palsu
57 CHAPTER 3 : Seni Menjual Neraka
58 CHAPTER 4 : Monster Besi
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Kata Pengantar
2
Prolog
3
Jakarta, Delapan Dekade Kemudian
4
Terungkap Pahlawan Jaman Dulu
5
Brifing Semua Tim
6
Kegelisahan dan Keraguan
7
Terlambat
8
Warisan Yang Tak Terpadamkan
9
Rahasia Bumi
10
Retakan Yang tertutup, Dunia Yang Terbuka
11
Batas Dunia
12
Mesin Penjelajah Batas
13
FX Vault Tank 805
14
Gelombang Yang Tak Terlihat
15
Di Dasar Yang Tak Pernah Tidur
16
Dinding Yang Tak Pernah Retak
17
Kedalaman Yang Tak Bernama
18
Suara Dari Dalam Es
19
Dunia Di balik Gerbang
20
Benua Arcadia Terra
21
Di mata mereka kita asing
22
Penghakiman Di Balik Kubah
23
Langit Yang Tak Pernah Tersentuh
24
Raungan Tak Pernah Padam
25
Simbol Yang Tak Pernah Mati
26
Rahasia Di Balik Kubah
27
Analisis Di Tengah Kekacauan
28
Puncak Hyperboria Dan Janji Putri
29
Pamitan Yang Kasar
30
Bisikan di ruang gelap
31
Kostum Pahlawan dan Mimpi Kosmik
32
Ujian Di Lautan Es
33
Badai Es Dan Penari Kematian
34
Sambutan Dingin di Iceland City
35
Kepercayaan Yang Retak
36
Kekuatan Iqaluk dan Pajak Yang Membeku
37
Perjamuan Di Tengah Es dan Rencana Baru
38
Penumpang Gelap
39
Gema Pesta Es
40
Pergeseran Rencana dan Bahaya yang mengintai
41
Ujian Pendaftaran Dan Aksi Tipu Muslihat
42
Pendakian Ke Puncak Beku
43
Sabotase di Jantung Es
44
Debut Gladiator Paling Aneh
45
Kekacauan Yang terjadi
46
Profil Lengkap DIRA ANASTASYA
47
CHAPTER 1 : Rumah Yang Hancur
48
CHAPTER 2 : Hilangnya Rumah Kedua
49
CHAPTER 3 : Sebuah Harga Perban
50
CHAPTER 4 : Harapan Itu Selalu Ada
51
CHAPTER 5 : Genggaman Masa Lalu
52
CHAPTER 6 : Pelukan Terakhir
53
CHAPTER 7 : Tanah Merah Dan Payung Hitam
54
Profil Lengkap BAGAS DWI PUTRA
55
CHAPTER 1 : Jatuh Ke Dalam Biru Yang Membeku
56
CHAPTER 2 : Surat Palsu
57
CHAPTER 3 : Seni Menjual Neraka
58
CHAPTER 4 : Monster Besi

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!