Cahaya biru dari monitor tabung cembung 14 inci itu memantul tepat di retakan kacamata kiriku. Di layar yang berkedip-kedip itu, barisan kode hijau dan putih menari-nari, seolah mengejek duniaku yang kelabu. HTML, CSS, sedikit Python dasar—bahasa-bahasa asing ini adalah satu-satunya hal yang masuk akal bagiku dalam empat tahun terakhir.
Di sekelilingku, "Warnet Barokah" bergemuruh seperti pasar hewan. Teriakan bocah-bocah ingusan yang memaki karena kalah main Point Blank saling bersahutan dengan suara keyboard yang dipukul kasar oleh bapak-bapak yang sedang judi online. Asap rokok kretek mengepul tebal, menciptakan kabut sesak yang bercampur dengan aroma mie instan kadaluarsa dan keringat manusia.
Tapi aku tidak peduli.
Namaku Dira Anastasya, sekarang aku umur empat belas tahun, dan tempat duduk nomor 13 di pojok warnet pengap ini adalah satu-satunya "rumah" yang kumiliki.
"Woy, Dir. Udah jam sepuluh. Paket malam udah abis," suara serak Bang Udin, penjaga warnet, memecah konsentrasiku.
Aku tidak menoleh. Jari-jariku yang kurus dan penuh bekas oli masih lincah menari di atas keyboard yang huruf-hurufnya sudah pudar. Aku sedang mencoba menembus firewall sederhana sebuah situs dinas pendidikan daerah—bukan untuk merusak, hanya untuk melihat apakah aku bisa.
"Bentar lagi, Bang. Nanggung, lagi compile data," sahutku datar. Mataku tak lepas dari barisan angka biner yang bagiku lebih indah dari puisi mana pun.
Di bilik sebelahku, suara dengkuran keras terdengar. Bagas tertidur dengan posisi kepala tertelungkup di meja, air liurnya membasahi mousepad bergambar anime. Dia tumbuh bongsor dalam empat tahun ini. Bahunya lebar, perutnya sedikit buncit karena kebanyakan makan nasi uduk murah, tapi dia kuat. Jika aku adalah otak dari operasi bertahan hidup kami di jalanan Jakarta, Bagas adalah otot dan tamengnya.
Aku menendang kaki kursi Bagas pelan. "Bangun, Gendut. Kita harus cari makan."
Bagas tersentak, refleks mengusap wajahnya yang berminyak. "Hah? Udah pagi? Gila, Dir... mi…
The Vault Files : Dossier Karakter Semesta The Closer
CHAPTER 4 : Harapan Itu Selalu Ada
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 58 Episodes
Comments