"Sudah ayo," Tini menarik tangan Aisyah kemudian membawanya masuk ke dalam mobil maticnya.
Tini mengendarai sepeda motornya perlahan. Sementara Aisyah sedang bergulat dalam pikirannya sendiri. Tanpa sengaja, Tini melirik ke arah Aisyah melalui spion motornya. Gadis itu seolah ikut merasakan apa yang tengah dirasakan sahabatnya itu.
"Kamu kenapa sih, kok sedih gitu?" heran Tini sambil terus mengendarai sepeda motornya.
"Aku bener-bener stress sama keadaan, Tin," lirih Aisyah tanpa menatap ke arah Tini.
"Syah, dibikin happy aja dong. Jangan sedih terus-terusan, kasihan ibu kamu nanti gak sembuh-sembuh." Tini mencoba semampunya menghibur Aisyah.
"Iya, Tin ... em, apa kamu mau membantuku?" ujar Aisyah ragu.
"Apa itu, Syah?" Tini mengerutkan keningnya.
"Aku beneran bete banget, apa kamu mau nemenin aku minum nanti malam?" tutur Aisyah.
"Kamu serius, Syah?" Tini mencoba memastikan.
"Serius lah, masa dua rius," seloroh Aisyah.
"Tapi, kasihan bayi kamu," kata Tini.
"Aku gak peduli, Tin. Lagian aku gak bakal ada saat bayi ini lahir, aku gak akan pernah bisa lihat apalagi ngerawat dia," kata Aisyah meninggikan nada bicaranya. Namun dia menahan air matanya yang hampir tumpah.
Tini menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan. "Oke, Syah, aku paham apa yang kamu rasain sekarang. Ya udah nanti malem aku ambil libur gak kerja, aku temenin deh kamu minum, tapi jangan di tempat kerjaku."
Aisyah tersenyum lega. "Ya enggaklah, aku juga males di tempat kamu, aku gak mau ketemu sama orang-orang yang kenal sama aku juga."
"Oke, sekarang kita makan dulu, ya? Biar ada tenaga. Kalau kamu gak mau aku juga gak akan nemenin kamu nanti malem," ancam Tini dengan nada santai.
Aisyah pun berdecak dan menggelengkan kepalanya. Tini terus mengendarai sepeda motornya hingga tiba di alun-alun. Mereka berdua turun dan berjalan beriringan ke tengah lapangan, kemudian duduk di salah satu tempat yang tersedia.
Seketika netra Aisyah mengarah kepada seorang pria tua penjual rujak buah. 'Ruja…
Dunia Aisyah
Sebuah Drama
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 98 Episodes
Comments