"Syah! Kamu ingin meracuni saya, ya? Masakan apa ini? Asinnya minta ampun. Itu garam satu bungkus kamu tuang semua di wajan, iya? Apakah kamu memang baru pertama kali masak? Harusnya kamu cicipi dulu masakannya sebelum kamu hidangkan." Hassan benar-benar dibuat geram pagi itu.
Aisyah terkesiap, dia pun heran karena tidak biasanya masak terlalu asin. Dulu dia selalu memasak untuknya dan juga untuk ibu dan kakaknya, tapi rasanya selalu pas di lidah. Jujur Aisyah memang belum memakan masakannya sama sekali. Dan gadis itu baru sadar, kalau sewaktu memasak dia lupa mengoreksi rasa karena terlalu memikirkan ucapan Hana dan Reta.
"Astaga! Maaf, Mas, aku lupa mencicipi. Dan aku tadi tidak fokus juga," ucap Aisyah.
"Kamu itu mikir apa sih?" Hassan bertambah geram.
Aisyah akhirnya menceritakan mengenai cibiran kedua gadis yang dia temui sewaktu hendak ke pasar.
Hassan pun berdecak dan menggelengkan kepala, dia tak habis pikir dengan Aisyah. "Kamu itu sudah aku bilang kan, tidak perlu mendengarkan omongan orang yang tidak penting, stel saja mata buta dan kuping tuli. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, yang ada kamu akan sama seperti ibu kamu, stress!" ketus Hassan.
"Tapi aku tidak bisa dengar omongan yang bikin hatiku sakit, Mas," ujar Aisyah.
"Tapi kamu sendiri yang rugi, atau kamu mau pindah rumah?" Kalau perlu aku belikan kamu rumah di kota, di sana kehidupannya masing-masing dan tidak mengenal satu sama lain, beda dengan hidup di desa, apa-apa serba diomong," usul Hassan.
"Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini, karna ini rumah tinggalan almarhum ayahku. Mana mungkin aku pindah, apalagi menjualnya," tolak Aisyah.
"Aku tidak menyuruh kamu untuk menjual rumah ini. Kalau kamu memang masih ingin tetap tinggal di sini, jangan banyak mengeluh! Tapi kalau kamu sudah tidak tahan tinggal di sini, ayo kita pindah," ucap Hassan tegas.
Aisyah terdiam, dia benar-benar bingung. Di satu sisi dia tidak ingin beralih dari rumahnya sendiri, namun di sisi lain dia juga merasa lelah dengan…
Dunia Aisyah
Berkecil Hati
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 98 Episodes
Comments