Bab 4 : Cokelat Panas

Perjalanan di atas sepeda motor besar milik Aeros kembali berlangsung dalam keheningan. Sael mencengkeram pembatas besi di belakang jok, ia sengaja meletakkan tasnya di antara mereka agar tubuhnya tidak bersentuhan dengan punggung Aeros.

Ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya, ia lalu memejamkan matanya menikmati sejuknya angin itu.

Aeros mengendarai motornya dengan kecepatan rendah. Ia sesekali melirik dari kaca spion, melihat Sael yang mulai terlihat nyaman duduk di belakangnya.

Setengah jam kemudian, motor Aeros berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan elit. Dua rumah megah berdiri berdampingan tanpa pembatas yang tinggi, hanya dipisahkan oleh halaman rumput hijau dan deretan pohon. Dua bangunan yang menjadi saksi bisu masa kecil mereka.

Aeros menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Sael.

Sael segera turun, ia merapikan 𝘣𝘭𝘢𝘻𝘦𝘳-nya dan memberikan senyum terbaiknya.

"Terimakasih Kak Aeros, maaf sudah merepotkan," ucap Sael.

​Aeros melepaskan helmnya, menatap Sael dengan pandangan yang tenang. "Ganti baju, minum air hangat, lalu tidur. Jangan buka berkas pekerjaan lagi malam ini."

​"Iya." Sael memberikan anggukan kecil, lalu berbalik melangkah masuk ke halaman rumahnya.

​"Sael! Jangan lupa balas 𝘤𝘩𝘢𝘵-ku," seru Aeros tiba-tiba.

​Sael menghentikan langkah, lalu berbalik kembali menghampiri Aeros dengan kening berkerut. "Apa?" tanyanya, karena samar-samar mendengar perkataan pria itu di balik bising sisa mesin motor.

​"Kamu sibuk sekali, ya? Sampai tidak membalas 𝘤𝘩𝘢𝘵-𝘬𝘶 seharian," Aeros balik bertanya dengan nada datar yang menuntut.

​"Hah?" Sael buru-buru mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan. Benar saja, berderet pesan belum dibaca menumpuk di sana. "Maaf, Kak. Akhir-akhir ini banyak nomor tak dikenal yang menghubungiku, jadi aku abaikan semua. Yang mana nomor Kakak?" Sael menyerahkan ponselnya yang menyala ke tangan Aeros.

​Aeros menerima ponsel itu. Matanya menyipit saat sekilas melihat deretan pesan dari nomor asing yang menurutnya sangat mengganggu—kebanyakan dari pria-pria yang mencoba merayu atau sekadar mengajak kenalan.

​Ibu jari Aeros bergerak cepat. Tanpa meminta izin, ia langsung memblokir dan menghapus semua nomor tidak jelas itu dari ponsel Sael.

​"Aku memang enggak pernah balas chat orang yang enggak aku kenal, sih," gumam Sael, tidak menyadari apa yang sedang dilakukan pria di depannya.

​Aeros hanya mengangguk pelan, sementara tangannya menuntaskan pembersihan nomor-nomor mengganggu tersebut. Setelah selesai, ia mengetikkan sesuatu di sana. "Nih... nomorku." Aeros mengembalikan ponsel itu.

​Sael menerimanya, lalu menahan senyum saat melihat kontak Aeros yang kini sudah disimpan dengan nama 'AEROS' menggunakan huruf kapital semua.

​"Kenapa kamu tidak ganti nomor saja?" tanya Aeros, menatapnya lurus.

​"Ada niat buat ganti, cuma malas saja, Kak. Sejauh ini enggak begitu mengganggu, kok," jawab Sael seadanya.

​Aeros mengangguk paham. "Ya sudah, masuklah."

​"Aku masuk dulu ya, Kak." Sael melambaikan tangan lalu benar-benar berjalan masuk ke dalam rumah.

​Aeros tetap diam di atas motornya, menatap punggung Sael sampai pintu utama rumah itu tertutup rapat. Setelah itu, ia segera melajukan motornya kembali ke area kantor Sael untuk mengambil mobil gadis itu dan mengantarkannya pulang ke garasi sebelah.

Begitu melangkah melewati 𝘧𝘰𝘺𝘦𝘳, suasana hangat langsung menyambut Sael. Aroma masakan sup ayam buatan Mamanya menguar di udara. Di ruang tengah, Papanya sedang duduk membaca tablet.

"Sael? Sudah pulang, Nak? Sini, Mama baru saja buat sup hangat," panggil Mamanya dengan senyum merekah dari arah dapur.

Rasa lelah Sael mendadak menguap. Ia melangkah cepat dan langsung memeluk Mamanya erat, tak lupa memberikan pelukan hangat yang sama pada Papanya.

Papa Sael mengusap rambut putrinya dengan sayang. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Sael. Papa dan Mama tidak mengirimmu ke luar negeri selama tujuh tahun supaya kamu pulang dan menyiksa dirimu sendiri dengan pekerjaan."

"Iya Papa," jawab Sael mengangguk patuh.

Tak lama kemudian, pintu ruang tengah terbuka. Kael masuk dengan kemeja yang sedikit berantakan—ia baru saja pulang kerja dari kantor ayahnya.

Saat matanya menangkap sosok Sael yang sedang bersandar di bahu ayahnya, raut lelah di wajah Kael seketika hilang.

"Aduh, manjanya adikku satu ini," goda Kael dengan nada bercanda yang khas, lalu mengacak rambut Sael gemas.

"Sael," panggil Kael kemudian, suaranya melembut. "Kak Aeros tadi meneleponku waktu di jalan. Dia bilang dia yang mengurus dan mengantarkan mobilmu ke garasi kita."

​Sael tertegun sejenak, lalu mengangguk kecil. "Ya, dia membantuku tadi."

​Kael menatap kembarannya dalam-dalam, menyadari ada yang berbeda dari gelagat Sael. "Tadi... kambuh lagi, ya?" tanyanya pelan.

​Mendengar itu, kedua orang tua mereka langsung menoleh dengan raut cemas.

​"Iya... tapi cuma sebentar, kok." Mata Sael bergerak gelisah, berusaha menghindari tatapan mengintrogasi dari keluarganya.

​"Sekarang gimana? Nggak sesak, kan?" tanya Mamanya, langsung memeriksa dahi Sael.

​"Nggak, Ma. Aman, kok. Udah baik-baik saja," jawab Sael cepat agar mamanya tidak panik.

​"Ya sudah, kalian berdua mandi dulu sana. Setelah itu kita lanjut makan malam," ucap Mamanya menengahi.

Setelah makan malam selesai, suasana rumah berangsur tenang. Papa dan Mama bersiap beranjak ke kamar mereka di lantai atas. Sebelum melangkah menjauh, sang Mama sempat menengok ke arah ruang baca.

​"Sael, nanti sebelum tidur jangan lupa minum obatnya, ya! Jangan begadang malam ini!" pesan Mamanya mengingatkan.

"Iya Ma!" sahut Sael setengah berteriak dari dalam ruang baca.

Di ruang baca favorit si kembar, Kael sedang menuangkan dua gelas cokelat panas—minuman yang selalu mereka bagi sejak kecil.

Sael memejamkan mata, dengan gelas cokelat panas di tangannya.

"Tadi di kantor cukup berat?" tanya Kael suaranya rendah dan santai.

Sael menyesap cokelat panasnya, "Hanya klien yang keras kepala dan tumpukan dokumen yang tidak habis-habis. Kamu sendiri? Pekerjaan di kantor Papa pasti membosankan."

"Membosankan sih, tapi aman," Kael terkekeh, menyandarkan kepalanya di bahu Sael. "Berbeda denganmu yang selalu mencari masalah di ruang sidang. "

​Sael mendengus, menaruh gelasnya di atas meja. "Kalimatmu itu agak rancu, Kael. Kamu lagi memujiku atau mengejekku, sih?" Sael berbalik, menggerakkan tangannya berpura-pura ingin mencekik leher kembarannya.

​Kael terbahak dan menggeser duduknya untuk menghindar. "Bukan begitu maksudku! Aku cuma mau bilang, enggak ada satu pun pengacara yang bisa mengalahkan kembaranku ini di ruang sidang."

​Mendengar pembelaan cepat itu, Sael akhirnya tersenyum manis. Ia kembali bersandar, menjatuhkan kepalanya di bahu Kael. "Pijat bahuku, dong. Bahuku tegang banget dari kemarin karena terlalu banyak duduk."

​"Siap, Bos!" Kael langsung berpindah posisi ke belakang Sael dan mulai memijat bahu saudarinya dengan telaten.

​"Terima kasih ya, Kael," ujar Sael lirih setelah keheningan beberapa saat.

​"Untuk apa? Cokelat panas ini?" Kael terkekeh pelan di belakangnya.

​"Untuk banyak hal. Karena aku, kamu selama delapan tahun ini rela bolak-balik ke luar negeri cuma buat menemani aku di sana. Menuruti semua keinginanku yang egois. Pasti capek, ya, punya saudara sekacau aku?" suara Sael bergetar sedikit di akhir kalimat.

​Kael menghentikan pijatannya sejenak. Ia tersenyum hangat, lalu dengan iseng mengacak-acak rambut Sael hingga berantakan. "Ya jelas capek. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau kamu sakit aku juga ikut sakit, kalau kamu senang aku juga ikut senang."

​"Apaan, sih, kok jadi puitis begini," Sael mencubit kaki Kael pelan untuk menyembunyikan rasa harunya.

​"Memang harus begitu, kan? Kita kan kembar," jawab Kael santai, kembali melanjutkan pijatannya.

​Sael hanya bisa tertawa kecil, mendengar jawaban Kael.

Terpopuler

Comments

Tami Andriani

Tami Andriani

manisss

2026-08-04

0

Fazira

Fazira

👍👍

2026-06-27

2

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 : Pertemuan Kembali
2 BAB 2 : Bayang Bayang
3 Bab 3 : Secangkir Chamomile
4 Bab 4 : Cokelat Panas
5 Bab 5 : Balkon
6 Bab 6 : Rival Kantor
7 Bab 7 : Skakmat di Kantin
8 Bab 8 : Balas Budi Level Maksimal
9 Bab 9 : Dibalik Dinding Es
10 Bab 10 : Rendang yang Kehilangan Rasa
11 Bab 11 : Siasat dibalik Pintu Kamar
12 Bab 12 : Pertahanan yang Hampir Goyah
13 Bab 13 : Gara-Gara Kata Kerbau
14 Bab 14 : Maaf yang Tidak Terduga
15 Bab 15 : Tamu Tak Diundang di Lobi Kantor
16 Bab 16 : Ralat ditengah
17 Bab 17 : Dua Orang di Rumah Sepi
18 Bab 18 : Dekap Hangat
19 Bab 19 : Demam di Hari Minggu
20 Bab 20 : Aroma Kari
21 Bab 21 : Awas Ada Kael!
22 Bab 22 : Di Balik Asap Tipis Restoran BBQ
23 Bab 23 : Ehem, Permisi Paket!
24 Bab 24 : Dibalik Lensa sang Makcomblang
25 Bab 25 : Komisi Sepotong Croissant Cokelat
26 Bab 26 : Mode Akuntan Kulkas
27 Bab 27 : Lebih dari Sekadar Adik
28 Bab 28 : Satu Jawaban di Ujung Minggu
29 Bab 29 : Kapal yang Akhirnya Berlayar
30 Bab 30 : Gombalan Larut Malam
31 Bab 31 : Titip Pacar Saya
32 Bab 32 : Ketika Kulkas Kehilangan Kendali
33 Bab 33 : Taktik Saus Krim
34 Bab 34 : Perang Dingin
35 Bab 35 : Ketukan Pena di Meja Rapat
36 Bab 36 : Plot Twist
37 Bab 37 : Mundur Teratur
38 Bab 38 : Lampu Temaram
39 Bab 39 : Kencan Sage Green
40 Bab 40 : Genggaman di Balik Selimut
41 Bab 41: Interupsi Kacamata Hitam di Tengah Malam
42 Bab 42 : Sisi Lain Sael
43 Bab 43: Isi Kepala sang Barista
44 Bab 44: Di Balik Pintu Kamar yang Terkunci 18+
45 Bab 45 : Diatas Ranjang 18+
46 Bab 46 : Interogasi di Meja Makan
47 Bab 47 : Tamu Tak Diundang di Meja Bar
48 ​Bab 48: Posesif yang Seksi
49 Bab 49: Antara Sandiwara dan Hak Istimewa
50 Bab 50: Ketukan di Pintu Balkon
51 Bab 51: Batasan Malicious Interference
52 Bab 52: Goresan di Punggung Tangan
53 Bab 53: Bayang-Bayang yang Lenyap
54 Bab 54: Riak Ombak dan Sinar Baru
55 Bab 55: Rahasia di Balik Layar
56 Bab 56: Dekat
57 Bab 57: Ritme yang Bertumbuh
58 Bab 58: Dua Keluarga, Satu Masa Depan
59 Bab 59: Liburan singkat
60 Bab 60: Rasa Yang Sempurna
61 Bab 61: Undangan Pernikahan
62 Bab 62 : Lembaran Baru
63 Bab 63 : Resepsi Pernikahan
64 Bab 64: Di Balik Pintu Kamar 18+
65 Bab 65: Sinar Pagi yang Terlambat
66 Bab 66: Rumah untuk Kita
67 Bab 67: Air Mata di Ambang Pintu
68 Bab 68: Malam Pertama di Bawah Atap yang Sama
69 Bab 69 : Rumah Baru Kita
70 Bab 70 : Perjalanan Bulan Madu
71 Bab 71 : Hari Pertama Di Tokyo
72 Bab 72 : Shinjuku
73 Bab 73 : Sael Ngambek
74 Bab 74 : Aeros digoda?
75 Bab 75 : Berburu Action Figure
76 Bab 76 : Sael Capek?
77 Bab 77 : Muncul Sang Pengganggu
78 Bab 78 : Curahan Hati Aeros
79 Bab 79 : Sael Pingsan
80 Bab 80 : Aeros Jadi Lebih Protektif
81 Bab 81 : Korban Drama Pendek
82 Bab 82 : Unboxing Barang dari Jepang
83 Bab 83 : Maraton Drama Pendek
84 Bab 84 : Curhatan Kael
85 Bab 85 : Kembali Berangkat Kerja
86 Bab 86 : Apa Rencana Bella?
87 Bab 87 : Diem-dieman
88 Bab 88 : Mulai Baikan?
89 Bab 89 : Siapa Sael sebenarnya?
90 Bab 90 : Mantan Sael?
91 Bab 91 : Aeros Cemburu?
92 Bab 92 : Deep talk Pasangan Suami istri
93 Bab 93 : Drama Buatan Bella
94 Bab 94 : Sael Hamil
95 Bab 95 : Selorohan Masa Depan Aeros
96 Bab 96 : Godaan Rekan Kerja
97 Bab 97 : Menahan Diri
98 Bab 98 : Aeros Si Mesum
99 Bab 99 : Melepaskan Gairahnya 21+
100 Bab 100 : Kedatangan Tamu
101 Bab 101 : Bertemu Mantan
102 Bab 102 : Kehebohan yang diciptakan Bella
103 Bab 103 : Aeros Cemburu
104 Bab 104 : Tingkah Ajaib Aeros
105 Bab 105 : Pertanyaan Frontal Aeros
106 Bab 106 : Hubungan Kael dan Citra
107 Bab 107 : Merangsang Kontraksi 21+
108 Bab 108 : Lahiran
109 Bab 109 : Dedek Bayi Pulang ke Rumah
110 Bab 110 : Arkananta Adiraja
111 Bab 111 : Di Bawah Guyuran Air 21+
112 Bab 112 : TAMAT
Episodes

Updated 112 Episodes

1
BAB 1 : Pertemuan Kembali
2
BAB 2 : Bayang Bayang
3
Bab 3 : Secangkir Chamomile
4
Bab 4 : Cokelat Panas
5
Bab 5 : Balkon
6
Bab 6 : Rival Kantor
7
Bab 7 : Skakmat di Kantin
8
Bab 8 : Balas Budi Level Maksimal
9
Bab 9 : Dibalik Dinding Es
10
Bab 10 : Rendang yang Kehilangan Rasa
11
Bab 11 : Siasat dibalik Pintu Kamar
12
Bab 12 : Pertahanan yang Hampir Goyah
13
Bab 13 : Gara-Gara Kata Kerbau
14
Bab 14 : Maaf yang Tidak Terduga
15
Bab 15 : Tamu Tak Diundang di Lobi Kantor
16
Bab 16 : Ralat ditengah
17
Bab 17 : Dua Orang di Rumah Sepi
18
Bab 18 : Dekap Hangat
19
Bab 19 : Demam di Hari Minggu
20
Bab 20 : Aroma Kari
21
Bab 21 : Awas Ada Kael!
22
Bab 22 : Di Balik Asap Tipis Restoran BBQ
23
Bab 23 : Ehem, Permisi Paket!
24
Bab 24 : Dibalik Lensa sang Makcomblang
25
Bab 25 : Komisi Sepotong Croissant Cokelat
26
Bab 26 : Mode Akuntan Kulkas
27
Bab 27 : Lebih dari Sekadar Adik
28
Bab 28 : Satu Jawaban di Ujung Minggu
29
Bab 29 : Kapal yang Akhirnya Berlayar
30
Bab 30 : Gombalan Larut Malam
31
Bab 31 : Titip Pacar Saya
32
Bab 32 : Ketika Kulkas Kehilangan Kendali
33
Bab 33 : Taktik Saus Krim
34
Bab 34 : Perang Dingin
35
Bab 35 : Ketukan Pena di Meja Rapat
36
Bab 36 : Plot Twist
37
Bab 37 : Mundur Teratur
38
Bab 38 : Lampu Temaram
39
Bab 39 : Kencan Sage Green
40
Bab 40 : Genggaman di Balik Selimut
41
Bab 41: Interupsi Kacamata Hitam di Tengah Malam
42
Bab 42 : Sisi Lain Sael
43
Bab 43: Isi Kepala sang Barista
44
Bab 44: Di Balik Pintu Kamar yang Terkunci 18+
45
Bab 45 : Diatas Ranjang 18+
46
Bab 46 : Interogasi di Meja Makan
47
Bab 47 : Tamu Tak Diundang di Meja Bar
48
​Bab 48: Posesif yang Seksi
49
Bab 49: Antara Sandiwara dan Hak Istimewa
50
Bab 50: Ketukan di Pintu Balkon
51
Bab 51: Batasan Malicious Interference
52
Bab 52: Goresan di Punggung Tangan
53
Bab 53: Bayang-Bayang yang Lenyap
54
Bab 54: Riak Ombak dan Sinar Baru
55
Bab 55: Rahasia di Balik Layar
56
Bab 56: Dekat
57
Bab 57: Ritme yang Bertumbuh
58
Bab 58: Dua Keluarga, Satu Masa Depan
59
Bab 59: Liburan singkat
60
Bab 60: Rasa Yang Sempurna
61
Bab 61: Undangan Pernikahan
62
Bab 62 : Lembaran Baru
63
Bab 63 : Resepsi Pernikahan
64
Bab 64: Di Balik Pintu Kamar 18+
65
Bab 65: Sinar Pagi yang Terlambat
66
Bab 66: Rumah untuk Kita
67
Bab 67: Air Mata di Ambang Pintu
68
Bab 68: Malam Pertama di Bawah Atap yang Sama
69
Bab 69 : Rumah Baru Kita
70
Bab 70 : Perjalanan Bulan Madu
71
Bab 71 : Hari Pertama Di Tokyo
72
Bab 72 : Shinjuku
73
Bab 73 : Sael Ngambek
74
Bab 74 : Aeros digoda?
75
Bab 75 : Berburu Action Figure
76
Bab 76 : Sael Capek?
77
Bab 77 : Muncul Sang Pengganggu
78
Bab 78 : Curahan Hati Aeros
79
Bab 79 : Sael Pingsan
80
Bab 80 : Aeros Jadi Lebih Protektif
81
Bab 81 : Korban Drama Pendek
82
Bab 82 : Unboxing Barang dari Jepang
83
Bab 83 : Maraton Drama Pendek
84
Bab 84 : Curhatan Kael
85
Bab 85 : Kembali Berangkat Kerja
86
Bab 86 : Apa Rencana Bella?
87
Bab 87 : Diem-dieman
88
Bab 88 : Mulai Baikan?
89
Bab 89 : Siapa Sael sebenarnya?
90
Bab 90 : Mantan Sael?
91
Bab 91 : Aeros Cemburu?
92
Bab 92 : Deep talk Pasangan Suami istri
93
Bab 93 : Drama Buatan Bella
94
Bab 94 : Sael Hamil
95
Bab 95 : Selorohan Masa Depan Aeros
96
Bab 96 : Godaan Rekan Kerja
97
Bab 97 : Menahan Diri
98
Bab 98 : Aeros Si Mesum
99
Bab 99 : Melepaskan Gairahnya 21+
100
Bab 100 : Kedatangan Tamu
101
Bab 101 : Bertemu Mantan
102
Bab 102 : Kehebohan yang diciptakan Bella
103
Bab 103 : Aeros Cemburu
104
Bab 104 : Tingkah Ajaib Aeros
105
Bab 105 : Pertanyaan Frontal Aeros
106
Bab 106 : Hubungan Kael dan Citra
107
Bab 107 : Merangsang Kontraksi 21+
108
Bab 108 : Lahiran
109
Bab 109 : Dedek Bayi Pulang ke Rumah
110
Bab 110 : Arkananta Adiraja
111
Bab 111 : Di Bawah Guyuran Air 21+
112
Bab 112 : TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!