Suasana kafe sore itu begitu tenang. Hanya terdengar denting sendok mengenai gelas dan obrolan kecil para pengunjung. Aroma kopi bercampur dengan wangi kue-kue manis memenuhi udara, menciptakan atmosfer nyaman yang biasanya membuat siapa saja betah berlama-lama. Namun bagi Ryan, duduk di sudut kafe bersama Hilda justru terasa menegangkan.
Ia menunduk pada secangkir kopi yang sejak tadi tidak tersentuh. Tatapannya kosong, pikirannya penuh beban. Sementara di seberangnya, Hilda duduk dengan wajah serius, jemarinya meremas tisu hingga kusut. Ada keberanian yang dipaksakan di balik matanya yang berkilat penuh tekad.
Hilda duduk menatap Ryan dengan kedua tangan saling meremas. Ini sudah entah keberapa kalinya ia mengatakan hal yang sama, tapi ia tidak peduli.
“Ryan…” suaranya lembut, namun penuh tekad. “Aku tahu kamu pasti bosan dengar aku ngomong ini lagi. Tapi aku nggak bisa bohong sama perasaanku. Aku masih suka sama kamu.”
Ryan mendesah panjang, lalu meletakkan cangkir kopinya dengan suara beradu yang cukup keras. Tatapannya tajam, tapi bukan marah, lebih pada lelah. “Hilda, berapa kali lagi kamu mau bicara hal yang sama? Bukankah aku sudah jawab berkali-kali?”
“Aku tahu.” Hilda mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. “Tapi aku juga tahu perasaan ini nggak bisa hilang begitu aja. Aku nggak bisa pura-pura biasa, Ryan. Kamu selalu dingin, iya… tapi entah kenapa aku malah makin nggak bisa lepas dari kamu.”
Ryan menghela napas berat. “Hilda, aku sudah bilang, jangan berharap apa pun. Aku bukan orang yang tepat. Kamu harus berhenti.”
“Tapi aku nggak bisa!” Hilda menyahut cepat, hampir memohon. “Kamu ngerti nggak sih, Ryan? Aku sudah pernah dekat dengan banyak pria, tapi nggak ada yang bisa bikin aku jatuh sedalam ini. Kamu yang pertama bikin aku ngerasa begini.”
Ryan menatapnya lama, dingin. “Dan aku juga sudah bilang: aku nggak bisa balas itu.”
Air mata jatuh di pipi Hilda. “Kenapa? Apa kamu benci aku? Atau, ada orang lain di hati kamu?”
“Bukan, Hilda.” Ryan menurunkan s…
The Price Of Affair
Bab: 90
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 137 Episodes
Comments
Uthie
Wadduuhhhh... ternyata karena sdh ada buntut tohh Ryan.. kasian amat Hilda 😁😁
kalau gak ada ibunya mahhh yaa gpp kali... selama Hilda bisa Nerima kamu apa adanya, Ryan...
2025-08-29
0
Mundri Astuti
weiiihhh Mak Lampir nambah satu, nambah daftar buat dihancurkan bareng Hansel sekali lagi
2025-08-28
0
Ds Phone
dia dah ada anak takut anak nya tak dapat kaseh sayang
2025-09-23
0