Kertas ketikan mesin tik itu terbingkai di balik kaca lemari pengumuman fakultas. Tinta hitamnya mencetak nama Vera sebagai peraih beasiswa penuh ke National University of Singapore.
Nara berdiri mematung. Jari-jarinya mencengkeram erat tali tas ransel kanvas sampai buku jarinya memutih. Di sekelilingnya, bisik-bisik mahasiswa mulai terdengar bising.
"Udah ketahuan sih, Vera kan anak penyumbang terbesar gedung baru," celetuk seorang mahasiswa berkacamata tebal di sebelah Nara.
"Tapi nilai ujian Nara kan sempurna? Nilai Vera bahkan nggak masuk lima besar semester lalu," sahut yang lain, berbisik pelan.
Nara tidak mengeluarkan air mata. Rahangnya mengeras. Dia berbalik, melangkah tegap menuju ruang administrasi. Langkahnya cepat, penuh amarah yang ditahan.
Regan mengamati dari balik pilar beton koridor yang berbau cat murah. Rokok di jarinya sengaja tidak dia nyalakan. Dia tahu persis apa yang akan terjadi di dalam ruangan itu.
Nara akan ditolak mentah-mentah dengan alasan teknis yang dibuat-buat. Kepala bagian administrasi, Pak Siregar, sudah menerima amplop cokelat tebal dari utusan keluarga Santoso dua hari lalu.
Di kehidupan masa lalu, Nara pulang dengan bahu merosot, mengurung diri di kamar, lalu mulai kehilangan cahayanya. Kali ini tidak akan sama.
Regan mengikuti dengan jarak aman. Dia melihat Nara sudah berdiri di depan meja Pak Siregar.
"Pak, saya mau tanya soal transparansi nilai seleksi beasiswa Singapura," kata Nara. Suaranya bergetar, tapi lantang.
Pak Siregar, pria tambun dengan kemeja safari abu-abu yang kancing perutnya hampir lepas, tidak mendongak dari korannya. Dia menyesap kopi hitam dari gelas seng.
"Keputusan panitia sudah final, Nara. Jangan bikin keributan," jawab Pak Siregar malas.
"Saya tidak bikin keributan, Pak. Saya cuma minta lembar penilaian saya dibuka. Berdasarkan bobot tes tertulis dan wawancara, nilai saya seharusnya mutlak," kejar Nara.
Pak Siregar melipat korannya dengan kasar. Derit kursi plastiknya terdengar nyaring di ruangan…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
11. Kebocoran Data
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments