Diktat Hukum Perikatan setebal lima ratus halaman itu menghantam dinding tripleks dengan keras, memantul, lalu mendarat mengenaskan di atas lantai semen beralas karpet plastik bermotif pudar. Bunyi debuman itu meremukkan kesunyian malam di ruko Glodok. Napas Nara memburu cepat, memotong udara kamar yang terasa pengap tanpa pendingin ruangan.
Di bawah temaram lampu pijar kuning lima belas watt, kedua tangan Nara mengepal di sisi tubuh. Remasan jarinya membuat kuku-kukunya memutih. Tepat di atas kasur kapuknya, lembaran foto hitam putih dan salinan slip Bank Industri Negara berserakan.
Pak Wirawan mengetuk pintu kamar dengan panik dari balik lorong tangga kayu. "Ra? Kamu nggak apa-apa di dalam? Ada barang yang jatuh?"
Nara menelan ludah, mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan sebelum menyahut. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma buku Nara kesenggol dari meja."
"Ya sudah. Jangan kemalaman tidurnya, besok senin kamu harus pagi-pagi ke kampus, kan?" suara langkah kaki bungkuk ayahnya perlahan menjauh, menuruni anak tangga menuju lantai bawah toko elektronik.
Nara menjatuhkan tubuhnya di tepi kasur. Kepalanya berdenyut nyeri. Di dalam genggamannya, sisa amplop cokelat tipis yang sudah koyak itu terasa kasar. Amarahnya tidak murni karena dikhianati oleh Tomy Pradana. Rasa muak itu lahir karena ia menyadari betapa ringkih pertahanan dirinya. Jika amplop misterius ini tidak terselip di loker perpustakaan siang tadi, ia mungkin sudah menandatangani kontrak kerja sama percetakan palsu milik keluarga Pradana sore ini. Ia mungkin sudah membiarkan Tomy menggandeng tangannya melintasi koridor kampus.
Nara menatap langit-langit kamarnya yang bernoda rembesan air hujan. Pikirannya berputar beringas. Data kliring bank swasta, foto sudut parkiran Hotel Kartika, hingga detail pernikahan siri di pelosok Bogor. Jalur informasi sebrutal ini tidak mungkin dimiliki oleh mahasiswa biasa.
Hanya ada satu pria di Jakarta tahun sembilan puluh tiga ini yang sanggup menelanjangi borok keluarga Prada…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
32. Konfrontasi Langsung
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments