Kertas buram bergaris itu dipenuhi goresan tinta pulpen hitam. Sketsa tata letak brosur, rancangan kampanye radio, dan deretan angka modal awal tersusun rapi.
Bau debu kertas dan aroma kayu lapuk perpustakaan pusat menguar di udara panas Jakarta. Kipas angin besi di langit-langit berputar pelan, gagal mengusir gerah siang itu.
Regan duduk sendirian di meja sudut yang sepi. Dia menggeser lembar demi lembar buku bersampul cokelat tersebut. Ujung jarinya menelusuri garis tegas buatan Nara.
Gadis itu tidak pernah setengah-setengah. Sketsa ini bukan sekadar angan kosong anak kuliahan. Ini cetak biru sebuah agensi periklanan. Nara menggambar struktur tim, target klien pertama untuk kawasan Mangga Dua, sampai rincian biaya sewa ruko sempit di pinggiran kota.
Di kehidupan sebelumnya, buku ini berakhir di tempat sampah.
Rahang Regan menegang. Tangan kirinya mencengkeram ujung meja tebal.
Tiga puluh tahun lalu, krisis moneter menelan toko elektronik Pak Wirawan. Nara terpaksa membakar habis ambisinya. Gadis itu bekerja sebagai staf administrasi rendahan di pabrik garmen, membanting tulang melunasi utang keluarga, lalu terjebak bersama pria benalu yang hanya memanfaatkannya.
Dulu, Regan sedang sibuk membangun imperium properti. Dia memalingkan wajah, meyakinkan dirinya sendiri bahwa takhta bisnis jauh lebih berharga dari sekadar janji masa muda. Kepengecutan itu membunuhnya pelan-pelan selama tiga dekade.
Dada Regan terasa padat. Oksigen di perpustakaan mendadak menipis.
Langkah kaki tergesa mendekat. Nara muncul dari balik rak buku kategori hukum perdata. Napas gadis itu terengah. Tumpukan diktat tebal di pelukannya nyaris jatuh menghantam lantai.
Mata Nara melebar melihat buku cokelatnya berada di tangan Regan.
"Ngapain lu buka-buka barang gue?!"
Nara melempar diktatnya ke atas meja. Suara debuman keras membuat beberapa mahasiswa di seberang menoleh marah. Nara tidak peduli. Dia mencondongkan tubuh, berusaha merebut buku catatannya.
Regan menarik tangannya menjauh. Wajahny…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
18. Cetak Biru
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments