Nara berdiri di depan kontrakan Regan dengan tatapan yang tidak memberi ruang untuk kabur.
Rambut hitamnya lepek menempel di pipi. Kemeja flanel merah kebesaran yang ia kenakan basah kuyup, membiarkan tetesan air meluncur turun ke lantai semen teras. Napas gadis itu memburu kasar. Hujan badai Jakarta di punggungnya seakan menjadi saksi amarah yang sedang ia tahan mati matian.
Regan memegang gagang pintu. Ia menatap tetesan air hujan di bahu Nara. Insting pelindungnya langsung menyala, memotong semua kalkulasi dingin di kepalanya.
"Masuk," ucap Regan datar. Tangannya terulur menarik pergelangan tangan Nara yang dingin, membawanya masuk ke dalam kamar sempit berbau obat nyamuk bakar dan udara lembap.
Nara menghempaskan tangan Regan seketika. Ia tidak mempedulikan lantai yang kotor oleh jejak sepatunya. Gadis itu menolak mundur. Dagu keras kepalanya terangkat menantang pria di depannya.
"Gue butuh jawaban sekarang, Re," potong Nara tajam. Suaranya bergetar menahan luapan emosi. "Bukan teh hangat. Bukan basa basi menenangkan."
Regan menutup pintu kayu itu rapat rapat. Suara gemuruh hujan meredam kebisingan luar, mengurung mereka berdua di ruang sempit beralas tikar pandan. Jarak mereka kurang dari satu meter. Regan bisa mencium aroma hujan bercampur wangi sabun melati dari tubuh Nara.
Nara menunjuk lurus ke wajah Regan. "Bapak gue jualan di Glodok pakai nama baik puluhan tahun. Sekarang tetangga ruko nuduh barang baru di toko kita hasil cuci uang bandar judi." Mata Nara berkaca kaca, namun pantang menjatuhkan air mata. "Semua gara gara artikel murahan di koran pagi ini. Dan lu diam saja di sini."
Regan melangkah ke sudut ruangan. Ia mengambil sebuah handuk kecil bersih dari atas kursi rotan usang, lalu melemparkannya pelan ke arah Nara. Nara menangkap handuk itu dengan refleks kasar.
"Keringkan rambut lu," perintah Regan pelan. Nada suaranya stabil, tidak menaikkan oktaf sama sekali. "Lu bisa interogasi gue sambil duduk. Jangan sampai lu tumbang besok pagi."
Nara menggi…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
22. Butuh Jawaban
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments