Udara pasar grosir yang biasanya riuh oleh deru Metromini dan teriakan kuli panggul, mendadak terasa membeku. Wangi soto gerobakan berbaur dengan uap solar yang menyengat dari aspal basah, menambah pengap atmosfer pagi yang kusam.
Nara berdiri mematung di depan ruko, jemarinya mencengkeram tas ransel kanvasnya hingga buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Pak Wirawan terhuyung mundur. Wajah pria tua itu pias tanpa darah, kacamata tebalnya merosot ke ujung hidung yang basah oleh keringat dingin.
"Ini... ini maksudnya apa, Ra?" suara Pak Wirawan gemetar. Tangannya yang memegang alat solder tua bergetar hebat. "Utang kita ke Koh Abun kan udah lunas? Kwitansi stempel basah kemarin lu sendiri yang pegang, Ra!"
Nara melangkah maju, memeriksa kertas merah yang ditempel kasar di atas rantai besi. Tulisan mesin tik di atasnya kaku, berstempel firma hukum yang asing.
"Penyitaan sepihak atas nama hak tanggungan kompensasi," baca Nara lantang. Amarah membakar batinnya, namun ia menolak menjatuhkan air mata di depan publik pasar. "Ini ilegal, Pak! Mereka nggak berani sebut nama Koh Abun di sini. Ini bukan dari distributor."
"Tapi gemboknya baru, Ra," Pak Wirawan jatuh terduduk di atas undakan semen teras toko. Bahunya merosot tuntas. "Barang-barang baru di dalam... kulkas, televisi stok baru dari Regan... kalau mereka angkut, kita bayar pakai apa senin besok?"
Nara membalikkan badan cepat saat langkah sepatu pantofel mengkilap terdengar mendekat dari arah koridor ruko grosir. Bau parfum murah yang menyengat langsung memotong hawa payau pasar.
Dion Hartawan melangkah datang dengan kemeja garis-garis yang rapi, berjas denim tipis dengan senyum yang dipaksakan melebar. Di belakangnya, berdiri Binsar, preman botak pesuruh distributor yang kemarin sempat diredam oleh pager Koh Abun.
"Eh, Nara. Tumben toko jam segini belum buka?" Dion berhenti tiga langkah di depan Nara, matanya memindai rantai besi dengan gaya prihatin yang palsu. "Waduh, kok digembok? Lu ada masalah utang lagi?"
Nara…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
34. Tidak Membalas
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments