Dion menaruh gelas kaca tebal berisi es teh manis di atas meja warung kopi depan kampus. Bunyi benturan gelas dengan kayu meja terdengar agak keras.
Di bawah terik siang Jakarta yang membakar kulit, Dion sengaja melonggarkan dasi poliester kusamnya yang berwarna biru dongker. Sorot matanya tidak selepas kemarin. Ada keraguan yang mengendap di sana.
"Dua puluh juta, Re," kata Dion, suaranya sengaja diturunkan setengah oktav. "Gue baru dapet info dari anak anak administrasi. Sukardi, juragan tekstil Tanah Abang yang terkenal pelit itu, baru aja ngasih komisi dua puluh juta buat info A1 dari lo."
Regan tetap tenang, tidak menghentikan gerakannya membalik halaman diktat kuliah Hukum Dagang. "Itu biaya jasa konsultasi resmi."
"Konsultasi apaan?" Dion condong ke depan, sikunya bertumpu pada meja yang lengket oleh sisa tumpahan sirup.
"Sukardi itu orang lama. Dia nggak bakal buang duit puluhan juta buat anak kuliahan kalau nggak ada sesuatu yang gede. Kemarin lo dapet duit dari proyek seminar gue, terus tiba tiba lo beli rawa di Sudirman. Sekarang lo dapet duit lagi dari Sukardi."
Regan menutup diktatnya perlahan, menimbulkan kepulan debu tipis di bawah lampu neon warung yang berdengung.
Pria lima puluh delapan tahun di dalam tubuh remaja ini mengamati setiap perubahan mikro pada ekspresi Dion. Sifat serakah dan penuh rasa curiga ini yang di masa depan membuat Dion tega menusuknya dari belakang. Pola itu tidak pernah berubah.
"Dia cuma nanya soal tanah di Pluit, Yon," jawab Regan flat.
"Terus lo jawab apa sampai dia mau bayar semahal itu?" kejar Dion, matanya menyipit penuh selidik. "Bokap gue denger di grup bisnisnya, Sukardi langsung lepas aset Pluit ke pemerintah tanpa nawar lagi. Orang-orang bilang dia bego karena buru-buru."
Regan menyesap teh botolnya yang sudah tawar karena esnya mencair. Dia perlu menjaga persona ini dengan hati-hati. Terlalu jenius akan membuat musuh waspada sebelum waktunya. Dia harus terlihat seperti anak muda yang kebetulan beruntung mendapa…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
14. Belum Punya Taring
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments