Regan duduk di kursi plastik ruko Menteng yang baru ia kuasai. Layar monitor tabung empat belas inci di depannya memancarkan cahaya hijau kusam, berkedip kedip memantulkan bayangan wajah mudanya. Bunyi melengking dari modem dial up berkecepatan 14.4 Kbps merobek ruang kerja pengap tanpa pendingin udara itu. Bau besi hangat dari mesin komputasi berbaur dengan uap solar jalanan Jakarta tahun sembilan puluh tiga.
Herman menyeka keringat di tengkuknya menggunakan handuk kecil. Pria makelar itu menatap deretan kabel tembaga yang berserakan di lantai tegel dengan dahi berkerut dalam.
"Gue nggak paham sama otak lu, Re," ucap Herman, melempar puntung rokoknya ke asbak kaleng. "Gedung Menteng ini bisa lu sewakan ke bank atau kantor garmen dengan untung jutaan sebulan. Kenapa lu malah bawa mesin rongsokan ini? Lu bikin CV Net Baru Indonesia cuma buat jualan kabel?"
Regan tidak mengalihkan pandangan dari baris kode kaku di layar. "Sepuluh tahun lagi, Bang, seluruh transaksi perbankan, dokumen negara, dan komunikasi bisnis di Jakarta berjalan di atas kabel tembaga ini."
Herman tertawa hambar. "Lu mimpi siang bolong. Orang kirim surat pakai Pos Indonesia, kalau buru buru ya pakai telex atau faks. Wartel Telkom laku keras di tiap tikungan gang. Siapa yang mau bayar mahal cuma buat baca tulisan di layar monitor? Dapat duit dari mana usaha kayak begini?"
"Dari langganan bulanan para korporasi yang butuh kecepatan data," balas Regan datar. "Saat pengusaha lain masih harus kirim kurir naik motor menerobos macetnya Thamrin cuma buat antar laporan keuangan, klien gue cuma butuh waktu satu menit lewat mesin ini."
Herman menggelengkan kepala, mengambil segelas air putih dingin yang sudah berembun. "Tapi biayanya gila, Re. Lu sewa jalur telepon khusus dari Telkom ini harganya menyedot sisa kas kita. Lu nggak takut modal kita habis sebelum dapat klien pertama?"
"Modal itu alat bertaruh, Bang, bukan pajangan laci," jawab Regan tanpa mengalihkan pandangan.
Langkah kaki tegas terdengar dari…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
25. Mimpi Siang Bolong
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments