Rambut hitamnya sedikit basah terkena gerimis. Ujung hak sepatu kulit merahnya kotor oleh cipratan lumpur gang Bendungan Hilir. Gaun selutut warna marun yang membalut tubuhnya terlihat kontras dengan dinding kontrakan Regan yang mengelupas. Postur tubuhnya tegak. Dia berdiri menguasai keadaan di bawah lampu jalan yang remang.
Regan berhenti dua langkah dari pintu kayunya. Tangannya memegang erat map cokelat berisi akta tanah Sudirman dan dokumen gedung Menteng.
"Nggak gampang cari tempat ini," sapa Vera pelan. Suaranya sehalus sutra, mengalun membelah suara rintik hujan. "Ketua himpunan bahkan nggak tahu alamat pasti kamu."
Regan menatapnya datar. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. "Kalau lo udah repot-repot nyewa orang buat lacak KTP gue, pasti ada urusan darurat."
Vera tertawa kecil. Tawa yang sengaja dilatih untuk memikat lawan bicara. Dia melangkah maju. Udara sempit di teras itu seketika penuh dengan aroma bunga mawar dan intrik.
"Satu semester, Regan." Vera berhenti tepat di depan Regan. Jarak mereka hanya dua jengkal. "Rektorat skors aku satu semester. Beasiswa ke Singapura dicabut. Dan ayahku sekarang panik ngurusin orang pajak di kantor."
Regan tidak mundur seinci pun. Dia menatap lurus mata cokelat terang gadis itu. "Bagus. Kampus jadi lebih tenang."
Mata Vera menyipit. Senyum di bibir merahnya tetap terpasang, tapi kilat matanya menajam. Perisai gadis manis di kampus itu gugur sepenuhnya. "Kamu ngaku?"
"Gue cuma penonton." Regan merogoh saku celananya, mengeluarkan anak kunci. "Kalau bapak lo main bersih, surat kaleng mana pun nggak bakal bikin dia panik."
"Jangan main-main sama aku, Regan." Suara Vera turun satu oktaf. "Dion mungkin gampang kamu bodohi pakai uang lima juta. Tapi aku tahu siapa yang main di belakang layar. Dokumen pajak itu, nggak ada orang luar yang bisa dapat akses sedalam itu. Kecuali ada yang sengaja meretas data internal ayahku."
Hujan turun makin deras. Suara air menghantam atap seng meredam kebisingan dari jalan…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
17. Salah Satu Pion
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments