Herman melempar gulungan koran Pos Kota ke atas meja kayu kontrakan Regan. Napas pria tua itu memburu. Keringat membasahi kerah kemeja safarinya hingga menempel di kulit. Tangan Herman bergetar hebat saat menunjuk tajam tajuk rencana di halaman tiga.
"Lu baca ini, Re," desak Herman. Suaranya serak menahan kepanikan yang nyaris meledak. "Beritanya naik cetak subuh tadi. Mereka nulis mahasiswa berinisial R dari kampus kawasan Depok jadi tameng pencucian uang bos judi Glodok buat beli aset miliaran di Menteng. Semua ciri cirinya mengarah ke lu."
Regan tidak langsung menyentuh koran itu. Dia menuangkan air panas ke dalam gelas seng berisi bubuk kopi hitam. Tangannya stabil. Aliran airnya konstan tanpa ada setetes pun yang tumpah ke atas meja. Dia menyesap kopi itu lambat lambat.
Herman menarik kursi lipat dan duduk dengan kasar. Decit besi beradu dengan lantai semen terdengar nyaring.
"Gimana lu bisa setenang ini?" Herman mengusap wajahnya kasar. "Kalau aparat baca ini, kita bisa diseret ke kejaksaan. Pak Broto pasti jadikan berita ini alasan buat nekan notaris dan batalin akta jual beli gedung Menteng. Kita harus sewa pengacara, bikin bantahan resmi ke redaksi mereka siang ini juga."
Regan meletakkan gelas kopinya. Matanya yang dingin memindai barisan huruf di atas kertas buram tersebut. Tidak ada amarah di wajahnya. Hanya ada kalkulasi presisi layaknya mesin pembunuh yang sedang mengukur jarak tembak.
"Orang bodoh bergerak saat panik, Bang," ucap Regan datar. Suaranya membelah udara pengap ruangan itu, memaksa ritme napas Herman ikut melambat. "Bantahan publik cuma membuktikan kita merasa terancam. Biarkan mereka berteriak sampai tenggorokan mereka kering."
Herman menelan ludah. "Lu tahu siapa yang dalangin ini?"
"Dion Hartawan," jawab Regan tanpa ragu sebentar pun. "Dia melihat gue bawa uang tunai, dia melihat gue punya aset. Egonya hancur. Tapi dia tidak punya nyali buat berhadapan langsung. Jadi dia bayar wartawan lapar buat nulis opini fiktif tanpa bukti."
Regan…
Taipan Reborn: Mengubah Takdir Wanita Yang Kucintai
21. Tekanan Sosial
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments