BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus

Jalan Merpati No. 88 ternyata adalah sebuah ruko tua berlantai tiga yang cat temboknya sudah mengelupas parah. Rolling door-nya terbuka setengah, menampilkan bagian dalam yang kosong melompong, hanya ada satu meja plastik dan dua kursi lipat.

Rudi berdiri di depan ruko itu dengan napas ngos-ngosan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Keraguan kembali menyelimuti hatinya.

"Ini kantor? Lebih mirip markas ormas atau gudang penadah barang curian," batinnya curiga.

Namun, rasa lapar yang menusuk lambung memaksanya melangkah masuk. Di dalam, duduk seorang pemuda berkaos oblong hitam polos sedang sibuk menyapu lantai. Pemuda itu terlihat sangat muda, mungkin baru lulus kuliah, sama sekali tidak terlihat seperti "Bapak Rian" yang dibayangkan Rudi.

"Permisi..." suara Rudi parau. "Saya cari Pak Rian. Soal lowongan di tiang listrik."

Pemuda itu berhenti menyapu, lalu menoleh. Ia menatap Rudi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tatapan pemuda itu aneh. Matanya seolah bersinar samar sesaat, seakan sedang memindai seluruh isi jiwa Rudi.

Di mata Rian, sebuah layar transparan muncul melayang di samping kepala pria paruh baya yang lusuh itu.

[MATA DEWA AKTIF]

Nama: Rudi Hartono (38 th)

Keahlian: Manajemen Logistik (B+), Fisik (A-), Mengemudi (B).

Status Mental: Putus Asa, Depresi Ringan.

Kondisi Fisik: Kelaparan Tingkat II (Belum makan 20 jam).

Tingkat Kejujuran: 92/100 (Sangat Tinggi).

Potensi Loyalitas: 98/100 (Sangat Tinggi).

Rian tersenyum tipis. Jackpot. Orang jujur yang sedang butuh pertolongan. Target sempurna untuk sistemnya.

"Saya Rian," jawab pemuda itu santai. Ia meletakkan sapunya. "Bapak pelamar kerja?"

Rudi mengangguk kaku. Ia merogoh tas kresek hitam yang dibawanya. "Ini... saya bawa fotokopi KTP dan ijazah SMA, Pak. Maaf saya nggak bawa map, tadi..."

"Simpan aja, Pak. Saya nggak butuh kertas itu," potong Rian. Ia menarik satu kursi lipat. "Duduk dulu."

Rudi bingung, tapi menurut. Ia duduk dengan gelisah. Apakah ini tes mental?

Rian justru berjalan ke meja, mengambil sebuah bungkusan kertas cokelat yang masih hangat. Aroma kuah gulai dan ayam bakar langsung menyeruak ke udara, menusuk hidung Rudi tanpa ampun.

"Bapak sudah makan?" tanya Rian tiba-tiba.

Pertanyaan itu sederhana, tapi bagi Rudi rasanya seperti ditelanjangi. Ia ingin berbohong demi menjaga harga diri, tapi cacing di perutnya berteriak duluan. Kruyuukkk... Bunyinya sangat keras di ruangan yang sunyi itu.

Wajah Rudi memerah padam karena malu. Ia menunduk dalam-dalam.

Rian tidak tertawa. Ia justru menyodorkan bungkusan Nasi Padang itu ke hadapan Rudi, lengkap dengan sebotol air mineral dingin.

"Makan dulu, Pak. Kita nggak bisa ngomongin bisnis kalau perut kosong," kata Rian pelan namun tegas. "Anggap aja ini tes tahap pertama. Menghabiskan makanan."

Rudi menatap nasi bungkus itu. Pertahanannya runtuh. Tangan gemetarnya membuka karet gelang pembungkus. Begitu suapan pertama nasi bercampur kuah gulai itu masuk ke mulutnya, air mata Rudi jatuh tanpa bisa ditahan.

Ia makan dengan lahap, sangat lahap, sambil sesekali menyeka air mata dengan lengan bajunya yang kotor. Rian hanya diam memperhatikan, membiarkan bapak itu menuntaskan rasa laparnya.

Sepuluh menit kemudian, bungkusan itu tandas tak bersisa. Rudi meminum air mineral itu sampai habis setengah botol, lalu menghela napas panjang. Itu adalah makanan terlezat yang pernah ia makan setahun terakhir.

"Terima kasih, Pak," suara Rudi kini lebih bertenaga, meski matanya sembab. "Maaf saya lancang. Jadi... apa pekerjaannya? Saya siap kerja apa saja. Jadi kuli angkut, supir serabutan, atau jaga malam juga boleh."

Rian mengetuk-ngetuk meja pelan.

"Saya butuh Kepala Gudang. Seseorang yang bisa mengatur stok barang masuk dan keluar, sekaligus memastikan keamanan aset saya," kata Rian. "Gaji pokok 10 juta per bulan. Uang makan dan transport 100 ribu per hari. Asuransi kesehatan istri dan anak ditanggung full."

Rudi melongo. Mulutnya terbuka lebar. "Se-sepuluh juta?"

Di pabrik lamanya, gajinya hanya UMR, itu pun sering dipotong. Angka 10 juta terdengar seperti dongeng.

"Pak Rian... jangan bercanda. Kantor Bapak saja..." Rudi menatap sekeliling ruangan yang kosong melompong itu dengan ragu. "Maaf, belum ada isinya."

"Isinya akan datang besok, kalau Bapak setuju kerja sama saya," Rian menatap tajam mata Rudi. "Saya cuma punya satu syarat: Jujur. Sekali Bapak nyolong satu permen pun dari gudang saya, Bapak keluar. Sanggup?"

"Sanggup! Demi Allah saya sanggup, Pak!" jawab Rudi spontan. Instingnya mengatakan pemuda ini tidak sedang main-main.

"Bagus. Bapak diterima."

Rian merogoh laci meja—satu-satunya laci yang ada di sana—dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat. Ia melemparnya ke hadapan Rudi.

Buk! Bunyi jatuhnya terdengar berat.

"Ini gaji bulan pertama, dibayar di muka. Plus bonus tanda tangan kontrak 5 juta. Total 15 juta."

Tangan Rudi gemetar hebat saat menyentuh amplop itu. Tebal. Nyata.

"Pak... ini... Bapak nggak takut saya bawa kabur uang ini?" tanya Rudi dengan suara bergetar. Logikanya masih menolak percaya. Orang asing baru kenal 15 menit langsung dikasih 15 juta?

Rian tersenyum tipis, matanya melirik helm kusam yang diletakkan Rudi di atas meja, lalu beralih ke sepatu Rudi yang berdebu tebal.

"Bapak datang bawa helm, tapi jalan kaki sampai keringatan begitu. Pasti motornya sedang 'sekolah' di leasing atau digadaikan, kan?" tebak Rian santai.

Rudi tersentak kaget. "Ko-kok Bapak tahu?"

"Saya pernah miskin, Pak. Saya tahu rasanya," jawab Rian tanpa beban. "Dan bapak berkali-kali melirik jam dinding, gelisah. Pasti ada orang rumah yang sedang menunggu bapak bawa pulang sesuatu."

Rian mencondongkan tubuhnya sedikit.

"Jadi, pakai uang itu. Ambil balik motor Bapak. Beli makanan enak buat orang rumah. Jangan pulang dengan tangan kosong."

Rian kembali bersandar. "Kalau Bapak bawa kabur uang itu, berarti harga diri Bapak cuma seharga 15 juta. Saya yang rugi dikit, Bapak yang rugi seumur hidup karena kehilangan kesempatan kerja di sini."

Rudi terdiam. Matanya memanas. Ucapan bos mudanya ini tajam tapi tepat sasaran. Ia berdiri tegak, lalu membungkuk hormat 90 derajat.

"Terima kasih, Pak! Demi Allah... saya akan kerja mati-matian buat Bapak!"

[Ting!]

Suara notifikasi sistem berbunyi di kepala Rian.

[Target: Rudi Hartono]

[Status: Terguncang Bahagia & Rasa Syukur Mendalam]

[Poin Diperoleh: +850 Poin]

Rian nyaris tersedak ludahnya sendiri. Delapan ratus lima puluh?!

Padahal harga Resep Bumbu Alami di toko hanya 500 poin. Modal 15 juta rupiah menghasilkan poin sebanyak ini? Ini bukan untung, ini perampokan bandar!

"Oke Pak Rudi, silakan pulang. Besok datang jam 8 pagi," kata Rian menahan senyum gembiranya.

Rudi mengangguk antusias, mendekap amplop itu seperti nyawanya sendiri, lalu berbalik pergi. Namun, baru dua langkah ia mencapai pintu, suara Rian menghentikannya.

"Tunggu sebentar, Pak Rudi."

Rudi menoleh, jantungnya berdegup kencang lagi. "Ya, Pak?"

Rian menatap pintu ruko yang terbuka, lalu menatap langit-langit kosong di atas kepala Rudi. Wajah Rian tiba-tiba berubah serius, alisnya berkerut seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar Rudi.

"Pak Rudi..." Rian berkata pelan, suaranya mendadak dingin. "Bapak tadi ke sini... merasa ada yang mengikuti Bapak tidak?"

"Hah?" Wajah Rudi pucat pasi. "Mengikuti? Nggak ada, Pak. Memangnya kenapa?"

Rian terdiam lama, matanya memicing ke arah jalanan di luar ruko yang sepi.

"Lupakan. Cepat pulang. Jangan lewat jalan besar. Lewat jalan tikus saja," perintah Rian dengan nada mendesak yang membuat bulu kuduk Rudi meremang.

Rudi tidak berani bertanya lagi. Ia langsung lari terbirit-birit keluar dari ruko, memeluk uangnya erat-erat, meninggalkan Rian yang kini menatap layar hologram merah berkedip di depannya.

[PERINGATAN!]

[Mendeteksi Niat Jahat dalam radius 50 meter!]

[Seseorang sedang mengawasi Host dengan senjata tajam.]

Terpopuler

Comments

isnaini naini

isnaini naini

andai ada sistem sprti ini thor ...psti damai dunia ini...😄

2026-01-11

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2 BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3 BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4 BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5 BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6 BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7 BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8 BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9 BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10 BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11 BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12 BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13 BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14 BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15 BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16 BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17 BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18 BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19 BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20 BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21 BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22 BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23 BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24 BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25 BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26 BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27 BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28 BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29 BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30 BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31 BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32 BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33 BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34 BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35 BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36 BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37 BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38 BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39 BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40 BAB 40: Target di Tengah Samudera
41 BAB 41: Serangan Dua Front
42 BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43 BAB 43: Tamu Tak Diundang
44 BAB 44: Jebakan
45 BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46 BAB 46: Jejak Sang Macan
47 BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48 BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49 BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50 BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51 BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52 BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53 BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54 BAB 54: Akademi Masa Depan
55 BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56 BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57 BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia
Episodes

Updated 57 Episodes

1
BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2
BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3
BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4
BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5
BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6
BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7
BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8
BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9
BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10
BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11
BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12
BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13
BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14
BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15
BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16
BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17
BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18
BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19
BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20
BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21
BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22
BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23
BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24
BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25
BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26
BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27
BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28
BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29
BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30
BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31
BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32
BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33
BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34
BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35
BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36
BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37
BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38
BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39
BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40
BAB 40: Target di Tengah Samudera
41
BAB 41: Serangan Dua Front
42
BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43
BAB 43: Tamu Tak Diundang
44
BAB 44: Jebakan
45
BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46
BAB 46: Jejak Sang Macan
47
BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48
BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49
BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50
BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51
BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52
BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53
BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54
BAB 54: Akademi Masa Depan
55
BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56
BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57
BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!