Malam semakin larut di pinggiran Jakarta Timur. Suara dangdut koplo yang diputar dengan volume maksimal memekakkan telinga, bercampur dengan teriak pedagang obat kuat dan tangisan balita.
Pasar Malam "Rakyat" itu penuh sesak. Debu beterbangan, bau keringat dan sampah busuk menyengat hidung.
Rian turun dari taksi online di gerbang pasar malam. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralisir bau menyengat itu. Sebelum melangkah masuk, ia mengecek notifikasi sistem yang sempat ia abaikan tadi sore karena terlalu sibuk mengurus dapur Bu Ningsih.
[Log Sistem: 4 Jam yang Lalu]
[Target: Bu Ningsih]
[Status: Menangis Bahagia & Harapan Baru]
[Poin Diperoleh: +900 Poin]
[Total Saldo Saat Ini: 1.660 Poin]
Rian tersenyum tipis. "Poin terbesar sejauh ini. Penderitaan Bu Ningsih memang dalam, jadi rasa syukurnya juga sedalam lautan."
Tapi senyum Rian langsung lenyap saat ia mengingat tujuannya ke sini. Ia menerobos kerumunan manusia, menuju ke sudut paling ramai di pasar malam itu. Sebuah tenda terbuka yang dikelilingi pagar kawat ayam setinggi dua meter.
Di atas spanduk tertulis provokatif:
"MANUSIA BATU! Pukul Sepuasnya! 50 Ribu / 3 Menit! Kalau KO Dapat 1 Juta!"
Darah Rian mendidih. Ia mendesak maju ke barisan depan penonton.
Di tengah ring tanah yang becek itu, berdiri seorang pria tua berusia 50-an. Tubuhnya masih kekar sisa-sisa latihan militer masa lalu, tapi kulitnya penuh lebam ungu dan biru. Ia hanya mengenakan celana kolor lusuh dan pelindung kepala yang sudah sobek.
Itu Pak Teguh.
Mantan Satpam terbaik yang pernah Rian kenal. Sosok yang dulu tegak berwibawa, kini berdiri dengan tangan terikat di belakang punggung, menjadi sansak hidup.
BUKK!
Seorang pemuda berandalan meninju perut Pak Teguh dengan sarung tinju. Pak Teguh terbatuk, ludahnya bercampur darah, tapi kakinya tidak goyah. Ia tidak melawan. Ia hanya menerima.
"Ayo Pak Tua! Jatuh dong! Gue mau sejuta nih!" teriak pemuda itu sambil melayangkan hook kanan ke rahang.
PLAK! Kepala Pak Teguh tersentak ke samping. Ta…
Karyawanku Bahagia, Aku Menguasai Dunia
BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 57 Episodes
Comments