Jakarta, Tiga Hari Setelah Kasus Pertama.
Langit Jakarta tampak kelabu, seolah mencerminkan kecemasan yang menyelimuti kota. Jalanan protokol yang biasanya macet parah kini lengang. Hanya terlihat beberapa ambulans yang meraung-raung membelah kesunyian, membawa pasien dengan gejala sesak napas akut.
Wabah itu dinamai "Flu Biru" oleh media massa, merujuk pada gejala khas penderitanya: bibir yang membiru akibat kekurangan oksigen dalam waktu singkat.
Di dalam Menara Rasa Nusantara, suasana tidak kalah tegang.
Rian berdiri di depan layar raksasa di ruang "Crisis Center" yang baru saja ia bangun. Kenzo duduk di depan panel kendali, menampilkan peta penyebaran virus secara real-time. Titik-titik merah menyala bermunculan di peta Jakarta seperti cacar air yang ganas.
"Status terkini, Zo?" tanya Rian.
Kenzo mengetuk keyboard-nya dengan cepat. Wajahnya serius, tidak ada lagi cengiran santai seperti biasanya.
"Buruk, Bos. Tingkat penularan R0 mencapai angka 5. Artinya satu orang sakit menularkan ke lima orang lain. Rumah sakit rujukan sudah penuh 120%. Obat antivirus di pasaran langka, harganya digoreng penimbun sampai sepuluh kali lipat."
Maya masuk ke ruangan dengan langkah terburu-buru, membawa tumpukan dokumen. Ia memakai masker N95 ganda.
"Pak Rian, laporan dari lapangan. Panic buying terjadi di semua supermarket kita. Stok mie instan, beras, dan vitamin ludes. Orang-orang berkelahi memperebutkan susu kaleng. Polisi kewalahan menjaga ketertiban."
Rian mengangguk pelan. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Manusia, saat terdesak rasa takut mati, akan kembali ke insting purba: bertahan hidup dengan segala cara.
"Stok bahan baku kita gimana, May?"
"Aman untuk produksi makanan dua bulan ke depan. Tapi kalau situasi begini terus, rantai pasok dari petani akan putus karena banyak sopir truk yang takut jalan atau sakit."
Rian memejamkan mata. Ia memanggil Sistem.
[TOKO SISTEM - FUTURE TECH]
[ITEM: Nano-Health Drink Formula (Level 1)]
[Harga: 15.000 Poin Kebahagiaan]
[Efek: Minum…
Karyawanku Bahagia, Aku Menguasai Dunia
BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 57 Episodes
Comments