BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal

Rudi sudah menghilang di balik gang sempit samping ruko sesuai arahan Rian. Aman.

Sekarang, tinggal Rian sendirian di dalam ruko kosong itu. Suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah pintu depan yang terbuka setengah. Bukan satu orang, tapi tiga.

[PERINGATAN!]

[Mendeteksi 3 Entitas dengan Niat Bermusuhan.]

Rian menarik napas panjang. Tubuhnya sebenarnya masih lemas. Makan nasi Padang tadi memang mengenyangkan, tapi efek kurang tidur dan stres berhari-hari membuat refleksnya tumpul.

"Sistem, tampilkan toko," bisik Rian.

Layar biru muncul seketika.

Saldo Poin: 850 Poin

Mata Rian terkunci pada satu item di Tier 1.

Vitamin Stamina (Level 1) - 200 Poin

Efek: Memulihkan kelelahan fisik secara instan, menjernihkan pikiran, dan meningkatkan refleks ke kondisi prima selama 24 jam.

"Beli," perintah Rian dalam hati.

[Transaksi Berhasil. -200 Poin.]

[Sisa Saldo: 650 Poin.]

Sebuah sensasi hangat mendadak menjalar dari dada ke seluruh tubuh Rian. Rasa kantuk hilang seketika. Otot-ototnya yang pegal terasa ringan. Pandangannya yang tadi agak buram karena lelah kini menjadi tajam setajam silet. Rasanya seperti baru bangun tidur setelah istirahat total selama seminggu.

Tepat saat efek itu bekerja, rolling door didorong kasar ke atas.

BRAAAK!

Tiga orang pria berwajah garang masuk. Bau alkohol dan rokok murahan langsung memenuhi ruangan. Yang di tengah, pria bertato naga di leher, meludah ke lantai bersih yang baru saja disapu Rian.

"Woy! Siapa yang nyuruh lo buka usaha di sini?" bentak si Tato Naga.

Rian berdiri santai di balik meja kerjanya, menatap mereka datar. "Saya pemilik ruko ini. Ada masalah?"

"Masalah?" Si Tato Naga tertawa mengejek, diikuti dua kacungnya. "Lo orang baru ya? Di sini ada aturannya, Bos. Kalau mau buka usaha, harus setor 'Uang Keamanan' sama kita. Biar ruko lo nggak... kebakaran tiba-tiba."

Ancaman klasik. Preman pasar.

"Berapa?" tanya Rian singkat.

"Buat perkenalan, lima juta aja per bulan," jawab preman itu sambil memainkan pisau lipat kecil di tangannya.

Rian tersenyum sinis. Di rekeningnya ada 100 Miliar. Lima juta itu cuma remah-remah baginya. Dia bisa saja melempar uang itu ke muka mereka sekarang juga. Tapi Rian tahu satu hal tentang lintah darat: Sekali kamu memberi darah, mereka akan menghisap sampai kamu mati.

"Gimana kalau saya nggak mau bayar?" tantang Rian.

Wajah si preman berubah merah padam. "Nyari mati lo, Bocah!"

Si Tato Naga maju, tangannya melayang hendak menampar wajah Rian. Gerakan itu seharusnya cepat. Tapi bagi Rian yang sedang dalam pengaruh Vitamin Stamina, gerakan itu terlihat... lambat. Sangat jelas.

Rian tidak menghindar. Ia justru menangkap pergelangan tangan preman itu di udara.

GREP!

Cengkeraman Rian kuat dan presisi.

"Hah?" Si preman kaget. Ia mencoba menarik tangannya, tapi terkunci mati.

"Dengar baik-baik," desis Rian, matanya menatap tajam ke mata preman itu. "Ruko ini bukan tempat sampah buat orang kayak kalian."

KRAK!

Rian memelintir pergelangan tangan itu sedikit. Bukan mematahkan, tapi cukup untuk membuat si preman menjerit kesakitan dan menjatuhkan pisaunya.

"ARGHHH! LEPASIN! SERANG DIA, GOBLOK!" teriak si Tato Naga pada dua temannya.

Dua kacung lainnya maju mengeroyok. Rian dengan tenang melepaskan si bos preman, lalu menendang meja plastik di depannya ke arah dua penyerang itu.

BUKK! Meja itu menghantam perut salah satu kacung hingga ia terjungkal.

Kacung satu lagi mencoba memukul, tapi Rian menunduk cepat dan menyapu kakinya. Preman itu jatuh gedebuk mencium lantai.

Dalam sepuluh detik, ketiga preman itu sudah tersungkur. Bukan karena Rian jago bela diri kungfu, tapi karena kondisi fisiknya sedang 100% prima melawan tiga pemabuk yang koordinasi tubuhnya kacau.

Rian merapikan kerah kaosnya yang sedikit berantakan. Ia mengambil pisau lipat yang jatuh tadi, lalu menancapkannya ke meja kayu di samping kepala si bos preman.

JLEB!

Si Tato Naga pucat pasi, keringat dingin mengucur deras.

"Ambil pisau busukmu ini dan pergi," kata Rian dingin. "Kalau kalian berani injak ruko ini lagi, yang patah bukan meja, tapi kaki kalian."

Ketiga preman itu bangkit tertatih-tatih, saling memapah, lalu lari terbirit-birit keluar ruko sambil memaki-maki sumpah serapah.

"Awas lo! Tunggu pembalasan Bang Jarot!" teriak mereka dari kejauhan.

Rian menghela napas panjang. Adrenalinnya perlahan turun

[Misi Sampingan Terbuka: Amankan Wilayah Bisnis]

[Deskripsi: Bisnis yang sukses butuh keamanan mutlak. Rekrut Kepala Keamanan yang kompeten.]

[Reward: Resep Rahasia Level 1.]

Rian menatap pintu ruko yang kosong. Ia sadar, menang berkelahi satu kali bukan solusi. Preman itu pasti akan kembali membawa massa lebih banyak. Rian butuh seseorang. Bukan preman bayaran, tapi profesional yang punya prinsip.

Pikiran Rian melayang ke memori setahun lalu. Saat itu, ia pernah bekerja sebagai tukang parkir liar di sebuah bank swasta sebelum diusir.

Ada satu satpam tua di sana. Namanya Pak Teguh.

Rian ingat betul, saat Rian dituduh mencuri helm nasabah dan hampir dipukuli massa, Pak Teguh-lah yang pasang badan membelanya. "Anak ini jujur, saya jaminannya!" teriak Pak Teguh waktu itu.

Tapi kabar terakhir yang Rian dengar, Pak Teguh dipecat dari bank itu karena menolak kongkalikong dengan manajer cabang yang korup. Kabarnya sekarang hidupnya luntang-lantung jadi jaga malam di komplek kumuh.

"Orang jujur selalu tersingkir..." gumam Rian sambil mengepalkan tangan. "Sama kayak gue."

Senyum tipis muncul di wajah Rian.

"Oke Sistem. Gue tahu siapa orang yang tepat buat jaga tempat ini. Besok gue bakal cari Pak Teguh."

Rian menutup rolling door rapat-rapat. Tapi sebelum ia istirahat, ia teringat Rudi.

Apa yang terjadi pada karyawan pertamanya itu?

POV Rudi

Di sebuah kontrakan sempit, suasana yang biasanya suram kini berubah total.

Rudi baru saja pulang membawa kantong belanjaan besar. Di dalamnya ada beras premium, dua kaleng susu formula mahal, daging ayam, dan sekotak martabak manis.

Istrinya, Sari, menatap tumpukan uang tunai di atas meja dengan tangan menutup mulut, tak percaya. Motor matic Rudi sudah terparkir rapi di depan rumah—ia langsung melunasi tunggakan di kantor leasing sebelum pulang tadi.

"Mas... ini... ini uang halal kan?" tanya Sari gemetar. "Kamu nggak ngerampok kan?"

Rudi tersenyum lebar, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ia memeluk istri dan anaknya erat-erat.

"Halal, Bu. Halal banget. Mas ketemu orang baik. Masalah kita selesai, Bu."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam setahun, keluarga kecil itu tidur dengan perut kenyang dan hati yang tenang. Tidak ada lagi ketakutan akan hari esok.

Di kejauhan, di dalam ruko kosongnya, Rian yang sedang berbaring di atas meja lipat tiba-tiba tersentak.

[Ting! Ting! Ting!]

[Aliran Rasa Syukur Konstan Terdeteksi!]

[Sumber: Keluarga Rudi.]

[Pasif Income Poin Diaktifkan: +10 Poin/Jam selama mereka bahagia.]

Rian menatap langit-langit ruko sambil tersenyum lebar.

"Tidur dibayar poin... Nikmat mana lagi yang kau dustakan?"

Episodes
1 BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2 BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3 BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4 BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5 BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6 BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7 BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8 BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9 BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10 BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11 BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12 BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13 BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14 BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15 BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16 BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17 BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18 BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19 BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20 BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21 BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22 BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23 BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24 BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25 BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26 BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27 BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28 BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29 BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30 BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31 BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32 BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33 BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34 BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35 BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36 BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37 BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38 BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39 BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40 BAB 40: Target di Tengah Samudera
41 BAB 41: Serangan Dua Front
42 BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43 BAB 43: Tamu Tak Diundang
44 BAB 44: Jebakan
45 BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46 BAB 46: Jejak Sang Macan
47 BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48 BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49 BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50 BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51 BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52 BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53 BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54 BAB 54: Akademi Masa Depan
55 BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56 BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57 BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia
Episodes

Updated 57 Episodes

1
BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2
BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3
BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4
BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5
BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6
BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7
BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8
BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9
BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10
BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11
BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12
BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13
BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14
BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15
BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16
BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17
BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18
BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19
BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20
BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21
BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22
BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23
BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24
BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25
BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26
BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27
BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28
BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29
BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30
BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31
BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32
BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33
BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34
BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35
BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36
BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37
BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38
BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39
BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40
BAB 40: Target di Tengah Samudera
41
BAB 41: Serangan Dua Front
42
BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43
BAB 43: Tamu Tak Diundang
44
BAB 44: Jebakan
45
BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46
BAB 46: Jejak Sang Macan
47
BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48
BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49
BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50
BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51
BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52
BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53
BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54
BAB 54: Akademi Masa Depan
55
BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56
BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57
BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!