(POV Bu Ningsih)
Setahun yang lalu...
Siang itu panasnya bukan main. Debu proyek beterbangan menempel di kulit, membuat siapa saja merasa lengket dan gerah. Di warung tenda kecilku, para kuli bangunan sedang berebut gorengan sambil mengeluh soal mandor yang galak.
Tapi mataku tertuju pada satu pemuda di pojokan luar tenda.
Dia kurus, kulitnya terbakar matahari, dan baju kaosnya sudah bolong di bagian ketiak. Dia cuma duduk di atas ember cat bekas, menatap nanar ke arah panci ayam gorengku. Dia tidak masuk, tidak memesan. Dia cuma menelan ludah berkali-kali.
Aku tahu tatapan itu. Itu tatapan orang yang dompetnya kosong tapi perutnya melilit.
"Le... sini Le," panggilku.
Pemuda itu kaget. Dia ragu-ragu mendekat. "Saya nggak beli, Bu. Cuma numpang neduh."
Hati ibu mana yang nggak perih dengarnya? Wajahnya mengingatkanku pada anak lelakiku yang sudah meninggal saat bayi.
"Siapa yang nyuruh beli? Ini ada nasi sisa kemarin, masih bagus cuma agak pera dikit. Sayurnya juga sisa kuah gulai. Mau nggak? Daripada Ibu buang mubazir," bohongku.
Padahal itu nasi baru matang. Kuahnya pun kuah kental yang dagingnya masih banyak.
Mata pemuda itu berbinar. "Boleh, Bu? Tapi saya nggak bisa bayar..."
"Uwis, makan aja. Anggap aja Ibu lagi sedekah biar laris."
Pemuda itu makan lahap sekali. Cepat sekali habisnya. Setelah selesai, dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Makasih ya, Bu. Nama saya Rian. Suatu hari nanti... kalau saya sukses, saya nggak bakal lupa sama Ibu. Saya janji."
Aku cuma tertawa kecil waktu itu. "Iya, Amin Le. Yang penting kamu sehat dulu."
Aku tidak pernah berharap dia membalasnya. Berapa banyak sih kuli bangunan yang bisa jadi sukses di Jakarta ini? Hari itu berlalu begitu saja. Rian pindah proyek, dan aku lupa wajahnya.
Satu Hari yang Lalu (Sebelum Penggusuran)...
Nasib memang roda yang berputar, tapi rodaku sepertinya macet di bawah.
"Uhuk! Uhuk!"
Suara batuk Bapak terdengar kering dari kamar belakang. Sudah seminggu Bapak nggak bisa bangun dari kasur. Kakinya yan…
Karyawanku Bahagia, Aku Menguasai Dunia
BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 57 Episodes
Comments