BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur

Pukul tujuh pagi, matahari Jakarta sudah mulai menyengat. Namun, bagi Rudi, pagi ini terasa sejuk dan indah.

Ia memarkirkan motor matic-nya yang baru ditebus dari leasing tepat di depan ruko. Kali ini, ia mengenakan kemeja terbaiknya—yang sudah disetrika licin oleh istrinya semalam—dan sepatu pantofel yang sudah disemir mengkilap.

"Selamat pagi, Bos!" sapa Rudi penuh semangat saat melihat Rian sedang duduk di kursi lipat sambil mencoret-coret buku tulis.

Rian menoleh. Ia tersenyum melihat perubahan aura karyawannya itu. Tidak ada lagi wajah kusam penuh beban. Bar energi di atas kepala Rudi berwarna hijau terang.

[Loyalitas: 100/100 (Fanatik)]

[Status: Siap Mati Demi Bos.]

"Pagi, Pak Rudi. Semangat banget," kekeh Rian. "Udah sarapan?"

"Sudah, Bos! Istri saya masak besar hari ini. Oh ya, ini saya bawakan bekal buat Bos. Katanya tanda terima kasih dari istri." Rudi meletakkan rantang susun di meja.

Rian tertegun sejenak. Sudah lama sekali ia tidak menerima bekal masakan rumahan. Ia menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Pak. Nanti saya makan."

"Jadi, apa perintah hari ini, Bos?" tanya Rudi sigap. "Kita mau jualan apa? Emas? Elektronik? Atau properti?"

Dengan modal 100 Miliar (yang Rudi asumsikan Rian punya banyak uang karena gajinya saja 15 juta), Rudi membayangkan bisnis kelas kakap.

Rian menggeleng. "Nggak. Kita mau jual Nasi Rames."

Rudi melongo. "Hah? Nasi... Rames?"

"Iya. Nasi rames, ayam goreng, sayur lodeh, orek tempe. Makanan rakyat," jawab Rian santai. "Tapi bukan sembarang nasi rames."

Rian menutup buku tulisnya. Ia baru saja selesai merancang menu berdasarkan item yang akan ia beli di Sistem.

"Pak Rudi, tugas Bapak hari ini adalah belanja. Saya sudah transfer 50 juta ke rekening Bapak."

Mata Rudi membelalak. "Li-lima puluh juta?!"

"Beli meja kursi kayu yang bagus tapi kelihatan homey. Beli peralatan dapur standar restoran stainless steel. Kulkas dua pintu, freezer, sama piring-gelas. Sisanya buat stok beras dan bahan pokok seminggu. Cari yang kualitas grade A."

"Siap, Bos! Tapi... koki-nya siapa? Bos bisa masak?"

Rian tersenyum misterius. "Koki-nya sedang kita jemput siang ini. Sekarang, Bapak belanja dulu. Saya tunggu di sini jam 1 siang."

Sepeninggal Rudi, Rian kembali sendirian. Ia memanggil Sistem.

"Buka Toko."

[Toko Sistem Terbuka]

[Saldo Poin: 660 Poin]

(Poin bertambah sedikit dari passive income kebahagiaan Rudi semalam)

Rian menekan ikon Resep Bumbu Penyedap Alami (Level 1).

[Harga: 500 Poin. Beli?]

"Beli."

[Konfirmasi. Pengetahuan sedang ditransfer...]

ZING!

Kepala Rian terasa pening sesaat, seperti disengat listrik statis. Detik berikutnya, ribuan informasi membanjiri otaknya. Komposisi rempah, takaran lengkuas, rasio bawang merah dan putih, hingga teknik fermentasi kedelai untuk kecap manis alami.

Ini bukan MSG. Ini adalah teknik pengolahan rempah kuno yang sudah dilupakan zaman, yang mampu memicu hormon dopamin (rasa bahagia) bagi yang memakannya.

"Gila..." Rian memijat kepalanya. "Gue mendadak jadi Masterchef."

Sekarang ia punya resepnya. Ia butuh tangan yang bisa mengeksekusinya.

Siang harinya, Rian mengajak Rudi—yang sudah selesai belanja dan menumpuk barang di ruko—untuk pergi ke sebuah kawasan padat penduduk di Jakarta Selatan.

Mereka berhenti di pinggir jalan yang ramai, di depan sebuah lahan kosong bekas gusuran. Di sana, di bawah terik matahari, berdiri sebuah tenda biru lusuh.

"Warung Nasi Bu Ningsih," eja Rudi membaca spanduk yang sudah robek itu. "Bos mau makan siang di sini?"

"Bukan cuma makan, Pak. Kita mau 'bajak' pemiliknya," jawab Rian.

Rian tahu tempat ini. Dulu saat ia jadi kuli bangunan di proyek dekat sini, Bu Ningsih sering memberinya nasi sisa—yang masih sangat layak makan—secara gratis. "Makan, Le. Biar kuat kerjanya," begitu kata ibu itu dulu.

Tapi pemandangan di depan mereka sedang tidak baik-baik saja.

Tiga orang berseragam cokelat (Satpol PP) sedang beradu mulut dengan seorang wanita paruh baya bertubuh gemuk yang memakai daster lusuh.

"Bu! Sudah dibilang jangan jualan di trotoar ini! Ini jalur hijau!" bentak petugas itu.

"Pak, tolong Pak... Saya cuma jualan jam makan siang aja. Suami saya sakit di rumah, butuh obat," Bu Ningsih memohon sambil memeluk tiang tendanya. Wajahnya basah oleh keringat dan air mata.

"Alah, alasan klasik! Angkut gerobaknya!" perintah komandan regu.

"JANGAN PAK! JANGAN!" Bu Ningsih histeris saat dua petugas mulai menyeret gerobak kayunya yang berisi panci-panci sayur.

Panci berisi sayur asem tumpah ke aspal. Kuahnya menggenang bercampur debu jalanan.

Bu Ningsih jatuh terduduk, menangisi dagangannya yang hancur. Orang-orang yang lewat hanya menonton sambil merekam pakai HP, tidak ada yang berani menolong.

Rudi di samping Rian sudah mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. "Bos, itu keterlaluan. Boleh saya hajar?"

Rian menahan bahu Rudi. Matanya menatap tajam, tapi bukan kemarahan buta.

"Jangan pakai otot, Pak Rudi. Kita pakai cara orang kaya," kata Rian dingin.

Rian melangkah maju menembus kerumunan.

"BERHENTI!" teriak Rian lantang.

Petugas Satpol PP itu menoleh. "Siapa kamu? Mau jadi pahlawan kesiangan?"

Rian tidak menjawab petugas itu. Ia berjalan langsung ke arah Bu Ningsih, membantunya berdiri, lalu menepuk debu di bahu wanita itu.

"Bu Ningsih, ingat saya?" tanya Rian lembut.

Bu Ningsih menyipitkan mata yang buram karena air mata. "Siapa ya... Mas yang dulu sering makan nasi sisa itu?"

Rian tersenyum. "Betul, Bu. Dulu Ibu kasih saya makan saat saya nggak punya uang. Sekarang giliran saya."

Rian berbalik menghadap petugas Satpol PP itu. Ia mengeluarkan dompetnya, menarik sepuluh lembar uang merah (satu juta rupiah).

"Gerobak ini harganya berapa kalau bikin baru? Lima juta? Sepuluh juta?" tanya Rian.

"Eh... bukan soal harga, Mas! Ini soal aturan!" petugas itu mulai ragu melihat penampilan Rian yang bersih (dan Rudi yang berbadan tegap di belakangnya).

"Gerobak ini nggak usah diangkut. Biar saya yang beli isinya, sama gerobak-gerobaknya, sama tenda-tendanya sekalian buat kalian buang ke tempat sampah," kata Rian lantang. "Kalian mau menegakkan aturan kan? Silakan bersihkan trotoar ini. Tapi Ibu ini ikut saya."

Rian menoleh ke Bu Ningsih yang masih syok.

"Bu, tinggalkan gerobak ini. Sayur yang tumpah itu biarin aja," kata Rian. "Ibu mau nggak kerja sama saya? Masak di dapur ber-AC, gaji 10 juta per bulan, dan suami Ibu saya jamin pengobatannya."

Suasana hening seketika. Para penonton yang merekam menahan napas. Bu Ningsih menatap Rian seperti melihat malaikat.

"M... Mas serius?"

"Sangat serius. Ayo, Pak Rudi, bantu Ibu bawa barang pribadinya. Kita tinggalkan tempat ini."

Siang itu, di atas trotoar panas Jakarta, Rian tidak hanya mendapatkan seorang koki. Ia mendapatkan 'Ibu' bagi perusahaan barunya

Terpopuler

Comments

eza

eza

satpolpp emang bikin kita pengen maki"

2026-02-01

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2 BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3 BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4 BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5 BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6 BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7 BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8 BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9 BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10 BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11 BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12 BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13 BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14 BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15 BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16 BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17 BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18 BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19 BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20 BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21 BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22 BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23 BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24 BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25 BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26 BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27 BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28 BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29 BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30 BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31 BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32 BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33 BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34 BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35 BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36 BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37 BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38 BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39 BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40 BAB 40: Target di Tengah Samudera
41 BAB 41: Serangan Dua Front
42 BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43 BAB 43: Tamu Tak Diundang
44 BAB 44: Jebakan
45 BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46 BAB 46: Jejak Sang Macan
47 BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48 BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49 BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50 BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51 BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52 BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53 BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54 BAB 54: Akademi Masa Depan
55 BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56 BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57 BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia
Episodes

Updated 57 Episodes

1
BAB 1: Saldo Terakhir dan Suara di Kepala
2
BAB 2: Lelaki yang Kehilangan Harga Diri
3
BAB 3: Wawancara Nasi Bungkus
4
BAB 4: Tamu Tak Diundang dan Satu Pukulan Mahal
5
BAB 5: Aroma Nostalgia dan Gerobak yang Digusur
6
BAB 6: Semangkuk Nasi Sisa dan Doa yang Terjawab
7
BAB 7: Dapur Sultan dan Bumbu Rahasia
8
BAB 8: Tinju, Darah, dan Harga Diri
9
BAB 9: Luka Lama dan Salep Ajaib
10
BAB 10: Aroma Surga dan Tamu dari Neraka
11
BAB 11: Koper Usang dan Kunci Penthouse
12
BAB 12: SPG Terbuang dan Laptop Spek Dewa
13
BAB 13: Harga Sebuah Kejujuran
14
BAB 14: Food Vlogger Menangis dan Bos Salah Kostum
15
BAB 15: Topeng Emas dan Raja yang Diam
16
BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
17
BAB 17: Sisi Gelap Sistem dan Teh Beracun
18
BAB 18: Operasi Senyap dan Pasukan Bayangan
19
BAB 19: Ketakutan di Ruang Gelap dan Mesin Pencetak Uang
20
BAB 20: Lima Menit yang Mengguncang Server
21
BAB 21: Lorong Gelap dan Jenderal Cyber
22
BAB 22: Pesta Martabak dan Panggilan Sang Naga
23
BAB 23: Kolam Ikan Sang Naga dan Koper
24
BAB 24: Segel Merah dan Dosa Sang Pejabat
25
BAB 25: Api, Air Mata, dan Pasukan Hitam
26
BAB 26: Grafik Merah Darah dan Runtuhnya Menara Gading
27
BAB 27: Jebakan Putih dan Sulap Sang Dewa
28
BAB 28: Kudeta Senyap dan Runtuhnya Menara Gading
29
BAB 29: Tahta Baru dan Algoritma Tuhan
30
BAB 30: Kabut Biru dan Protokol Darurat
31
BAB 31: Di Antara Hidup dan Mati
32
BAB 32: Konvoi Hijau dan Mafia Bertopeng
33
BAB 33: Kunjungan ke Sel Nomor 13
34
BAB 34: Di Bawah Bayangan Arsitek
35
BAB 35: Cahaya di Ujung Lorong Gelap
36
BAB 36: Jaring Sang Penakluk
37
BAB 37: Badai di Pegunungan Alpen
38
BAB 38: Mata Dewa di Orbit Sideral
39
BAB 39: Garis Pemisah Kekuasaan
40
BAB 40: Target di Tengah Samudera
41
BAB 41: Serangan Dua Front
42
BAB 42: Jejak di Kedalaman Kelam
43
BAB 43: Tamu Tak Diundang
44
BAB 44: Jebakan
45
BAB 45: Sepuluh Menit Penentuan
46
BAB 46: Jejak Sang Macan
47
BAB 47: Persenjataan Para Hantu
48
BAB 48: Menembus Kegelapan Abadi
49
BAB 49: Kota di Dasar Neraka
50
BAB 50: Bayangan dari Masa Lalu
51
BAB 51: Api yang Membakar Takdir
52
BAB 52: Puing-Puing di Samudera
53
BAB 53: Bukan Sekadar Gedung
54
BAB 54: Akademi Masa Depan
55
BAB 55: Mata Dewa Versi Kedua
56
BAB 56: Menembus Neraka Hijau
57
BAB 57: Hutan yang Memakan Manusia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!