Ballroom Hotel Mulia terasa dingin bagi Dimas, meskipun AC ruangan sudah disetel di suhu normal.
Ia berdiri di dekat meja prasmanan, memegang gelas cocktail dengan tangan gemetar menahan marah. Matanya tak lepas dari sosok Rian yang kini dikelilingi teman-teman angkatan lain.
Mereka yang dulu bahkan tidak ingat nama Rian, kini berebut menyapa.
"Eh Yan, gila lo makin ganteng aja!"
"Yan, bisnis apaan sih sekarang? Bagi info dong!"
"Yan, inget gue nggak? Temen sekelompok pas semester 3?"
Rian menanggapi mereka dengan senyum tipis dan anggukan sopan. Tidak banyak bicara. Justru Maya, yang berdiri di sampingnya, yang sibuk membagikan kartu nama perusahaan.
"Belagu banget tuh orang," desis Dimas kepada Siska di sampingnya. "Pasti itu duit panas. Judi online, atau... pesugihan. Nggak mungkin jualan nasi bisa beli Alphard dalam setahun."
Siska diam saja. Matanya menatap Rian dengan pandangan nanar. Dulu, ia sering memarahi Rian karena motor bututnya sering mogok saat pacaran. Sekarang? Rian terlihat seperti pangeran yang tak terjangkau.
Dimas yang panas hati akhirnya tidak tahan. Ia berjalan menerobos kerumunan yang mengelilingi Rian, menarik perhatian semua orang.
"Woy! Minggir-minggir!" seru Dimas lantang.
Ia berdiri berhadapan dengan Rian. Suasana ballroom mendadak hening. Musik jazz background terasa mencekam.
"Hebat ya lo sekarang, Yan," kata Dimas dengan nada sinis yang dibuat-buat. "Gue denger lo jualan Nasi Rames? Wah, hebat. Gue kira lo bisnis tambang atau saham. Ternyata cuma tukang masak?"
Beberapa teman Dimas terkikik pelan, mencoba mendukung pentolannya.
"Emang cukup ya untung jualan nasi 10 ribuan buat sewa Alphard sama bayar sekretaris cantik ini?" lanjut Dimas, matanya melirik nakal ke arah Maya. "Atau jangan-jangan... sekretarisnya juga 'sewaan'?"
Maya hendak maju untuk membalas, tapi Rian mengangkat tangan kanannya. Memberi isyarat: Biar aku yang urus.
Rian menatap Dimas tenang. Tanpa emosi.
"Dimas," suara Rian datar namun bergema di ruangan sunyi itu. "Bi…
Karyawanku Bahagia, Aku Menguasai Dunia
BAB 16: Rasa Penyesalan dan Kartu Nama Konglomerat
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 57 Episodes
Comments