BAB 2: Petunjuk di Balik Cermin

“Kev…” Risa memulai, suaranya serak. Ia menunduk, meremas liontin kunci di lehernya. “Semalam… gue lihat Ibu.”

Hening menyelimuti dapur tua itu, lebih pekat dari kabut pagi yang merayap di luar jendela. Kevin Pratama, yang tadinya bersandar santai di kusen pintu, menegakkan tubuhnya perlahan. Mata tajamnya menatap Risa dengan campuran kebingungan dan kekhawatiran yang samar. Tahi lalat di bawah mata kirinya tampak seperti titik gelap yang menonjol di wajahnya yang mendadak serius.

“Lihat Ibu? Maksud lo… dalam mimpi?” tanya Kevin, suaranya berusaha terdengar datar, padahal ada kerutan tipis di dahinya. Ia melangkah mendekati Risa, duduk di kursi seberang meja, menyingkirkan mangkuk bubur yang masih mengepul asapnya.

Risa mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca. “Bukan mimpi, Kev. Gue… gue yakin banget itu nyata.” Jeda. “Gue nggak tidur waktu itu.”

Kevin menghela napas, pandangannya beralih ke sekeliling dapur. Dinding-dindingnya menguning, perabotannya usang, dan aroma lembap bercampur debu tua terasa menusuk hidung. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang… supranatural. Otak logisnya berputar mencari penjelasan. “Ris, lo baru pindah, kan? Stres, kurang tidur, mungkin halusinasi ringan?”

“Nggak!” Risa menggeleng keras, air matanya kini mulai menetes. Ia membanting telapak tangannya ke meja, membuat Kevin sedikit terlonjak. “Ini bukan halusinasi! Gue ngerasain dingin yang nusuk tulang, Kev. Gue ngerasain ada yang berdiri di belakang gue, napas dingin di tengkuk gue. Dan waktu gue lihat cermin… ada Ibu di sana.”

Kevin menatap Risa, melihat ketakutan yang begitu nyata di mata gadis itu. Ia tahu Risa tidak akan mengarang cerita sekonyol ini. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggu Risa, dan itu bukan sekadar stres. Logika Kevin mulai goyah, digantikan oleh naluri untuk melindungi temannya.

“Oke… oke. Tenang dulu, Ris. Coba lo ceritain pelan-pelan. Detailnya. Apa yang lo lihat? Ibu ngapain?” Kevin meraih tangan Risa yang dingin, menggenggamnya erat. Kehangatan dari tangannya sedikit menenangkan Risa.

Risa menarik napas dalam-dalam, berusaha menata kembali ingatannya yang bercampur aduk antara ketakutan dan keheranan. “Gue… gue kebangun karena ngerasa ada yang manggil. Suara Ibu, tapi pelan banget. Gue keluar kamar, terus… gue ngerasa ditarik ke ruang tamu. Lo tahu cermin gede di sana, kan?”

Kevin mengangguk. Cermin kolosal dengan ukiran rumit yang mendominasi ruang tamu itu memang mencolok dan sedikit… menyeramkan. Ia sempat mengira cermin itu terlalu besar untuk ukuran rumah ini.

“Gue berdiri di depannya. Dingin banget, Kev. Tiba-tiba… di pantulan cermin, bukan gue yang berdiri di sana. Tapi Ibu. Rambutnya panjang, hitam. Bajunya… baju yang sering dia pake di foto-foto lama. Dia senyum, tapi senyumnya… sedih. Terus, dia ngangkat tangan. Jari telunjuknya nunjuk ke satu arah. Ke… pintu tersembunyi.”

Kevin mengerutkan kening. “Pintu tersembunyi? Di mana?”

“Itu masalahnya! Gue nggak tahu! Setelah itu, pantulan Ibu langsung hilang. Cuma ada gue lagi di cermin. Tapi pas gue balik badan… dinginnya masih ada, dan gue ngerasa dia masih di sana, di belakang gue.” Risa bergidik, bulu kuduknya merinding lagi membayangkan kejadian semalam. “Dan sekarang, gue yakin banget, Kev. Ibu mau kasih tahu sesuatu. Sesuatu yang tersembunyi di balik pintu itu.”

Kevin terdiam. Logikanya masih memberontak, tapi ada bagian dalam dirinya yang mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Risa tidak mungkin berbohong separah ini. Dan tatapan mata ketakutan itu… itu nyata. Dia melihatnya.

“Pintu tersembunyi…” Kevin menggumam. “Oke, kalau memang itu bukan mimpi atau halusinasi, dan Ibu lo beneran nunjuk sesuatu… berarti ada yang harus kita cari.” Dia melepaskan genggaman tangannya, menyentuh dagunya, berpikir keras. “Di mana kira-kira pintu tersembunyi itu bisa ada di rumah sebesar ini? Biasanya, rumah tua kayak gini punya banyak rahasia. Ruang bawah tanah, loteng, mungkin kamar tersembunyi.”

“Tapi Ibu nunjuk ke arah dinding ruang tamu, Kev. Bukan loteng atau bawah tanah,” Risa menyela, suaranya lebih tegas sekarang, semangat untuk mencari kebenaran mulai menggeser ketakutan. “Di dekat perapian tua itu.”

Kevin mengangguk. “Baik. Setelah lo sarapan, kita cek. Gue bantu. Kita mulai dari ruang tamu.” Ia menatap Risa lagi, kali ini dengan tekad yang sama kuatnya. “Tapi satu hal, Ris. Kalau kita nggak nemuin apa-apa… lo harus janji buat istirahat. Jangan terlalu mikirin ini sampai lo sakit.”

“Gue janji.” Risa tersenyum tipis, kehangatan menjalari hatinya sekali lagi. Kehadiran Kevin memang selalu bisa menenangkan badai dalam dirinya. “Makasih ya, Kev. Lo… lo percaya sama gue?”

Kevin membalas senyumnya, senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. “Gue percaya sama lo, Ris. Gue nggak percaya hantu, tapi gue percaya kalau lo lagi butuh bantuan. Dan gue akan ada buat lo.”

*

Setelah menghabiskan bubur ayam dengan tergesa-gesa, Risa dan Kevin menuju ruang tamu. Suasana pagi yang cerah sedikit mengurangi kesan seram rumah itu, namun keberadaan cermin besar di dinding masih memancarkan aura misterius. Cermin berbingkai kayu ukir gelap itu memantulkan siluet mereka, tampak seperti dua orang yang terlalu kecil di tengah kemegahan yang usang.

“Jadi, Ibu lo nunjuk ke arah sini?” Kevin mengusap dinding di dekat perapian batu bata yang sudah tak terpakai. Debu tebal menempel di setiap celah, dan aroma arang tua masih samar tercium. “Nggak ada yang aneh. Dindingnya solid.”

Risa mendekat, meraba dinding yang sama. Dingin, keras, dan tak ada celah. “Tapi gue yakin, Kev. Dia nunjuk ke sini. Kayak… di baliknya ada sesuatu.”

Kevin mengeluarkan senter dari tasnya. “Kita coba cari secara manual. Ketuk-ketuk dindingnya. Dengar kalau ada suara yang beda.”

Mereka mulai menelusuri dinding ruang tamu dari ujung ke ujung. Kevin mengetuk dengan buku-buku jarinya, telinganya fokus mendengarkan setiap perubahan gema. Risa melakukan hal yang sama, matanya menyapu setiap ukiran, setiap celah, setiap kemungkinan. Rumah ini seolah bernapas, mengeluarkan suara-suara kecil dari kayu yang berderit, angin yang bersiul di antara jendela yang tak tertutup rapat, dan suara jauh dedaunan di taman yang rimbun.

Setiap kali Kevin menyentuh sesuatu yang tampak mencurigakan, seperti panel kayu yang sedikit longgar atau bagian dinding yang permukaannya terasa sedikit berbeda, jantung Risa akan berdebar kencang. Namun, setiap kali mereka menyimpulkan itu hanyalah bagian dari kerapuhan bangunan tua, kekecewaan akan kembali menyeruak.

“Gue rasa nggak ada apa-apa di sini, Ris,” kata Kevin setelah hampir setengah jam, suaranya terdengar pasrah. Keringat membasahi pelipisnya. “Mungkin… mungkin lo salah lihat arahnya? Atau itu memang cuma mimpi buruk?”

Risa menggeleng keras. “Nggak! Gue yakin ini bukan mimpi! Ibu… Ibu nggak akan datang cuma buat nunjuk-nunjuk kosong!” Ia kembali menatap cermin besar itu, seolah meminta jawaban. Pantulan dirinya sendiri terlihat lelah dan putus asa.

Tiba-tiba, mata Risa menangkap sesuatu. Bukan pada dinding, bukan pada perapian, melainkan pada bingkai cermin itu sendiri. Di bagian bawah bingkai, di balik ukiran rumit yang nyaris tak terlihat, ada sebuah celah kecil. Celah itu nyaris tak kasat mata, seolah sengaja dibuat menyatu dengan motif ukiran kayu.

“Kev! Lihat ini!” Risa berlutut, menunjuk celah itu dengan jari gemetar. “Di sini! Di bingkai cerminnya!”

Kevin mendekat, senternya langsung menyorot. Memang ada celah, sangat sempit, mungkin hanya cukup untuk memasukkan selembar kartu nama. Tapi yang lebih menarik, di balik celah itu, tampak seperti sepotong kain lusuh atau kertas yang terlipat.

“Wow…” Kevin berbisik, rasa skeptisnya mulai terkikis oleh rasa penasaran yang mendalam. “Ini… ini bukan kebetulan.”

Dengan hati-hati, Kevin mencoba mengorek isi celah itu dengan ujung kunci mobilnya. Perlahan, selembar kertas yang sudah menguning dan lusuh berhasil ditarik keluar. Kertas itu terlipat rapi menjadi empat bagian, dan ada tulisan tangan yang samar di permukaannya.

Risa meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Bau apek dan debu tua langsung menyeruak. Tulisan tangan itu… ia mengenali goresan pena yang anggun namun sedikit miring itu. Itu tulisan tangan ibunya. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tertahan.

Kevin mendekat, membaca tulisan itu dari bahu Risa. Isinya singkat, hanya beberapa baris, ditulis dengan tinta yang sudah memudar.

*“Untuk putriku, Risa.

Jika suatu hari kamu menemukan ini, berarti rahasia itu sudah siap diungkap.

Jangan percaya siapa pun. Cari ‘Kunci’ itu.

Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku.

Dia… Dia ada di balik semua ini.”*

Kalimat terakhir itu seperti pukulan telak yang menghantam Risa. Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku? Dia… Dia ada di balik semua ini? Siapa ‘Dia’? Dan apa maksudnya ‘Kunci’?

Rasa dingin yang sama seperti semalam kembali merayapi tulang-tulang Risa, tapi kali ini bukan karena kehadiran gaib. Ini adalah rasa dingin dari sebuah kebenaran yang mengerikan, sebuah pengkhianatan yang tersembunyi. Ibunya… ibunya sendiri? Tapi bagaimana? Dan siapa yang tidak mencintai ibunya?

“Ini… ini maksudnya apa, Kev?” Risa mendongak, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. Kertas lusuh di tangannya terasa berat, seolah menyimpan beban seluruh rahasia rumah ini.

Kevin membaca ulang tulisan itu, wajahnya tegang. “Ibuku tidak pernah benar-benar mencintaiku… dia… dia ada di balik semua ini. Ris, ‘Ibuku’… itu kan nenek lo? Nenek dari pihak Ibu lo?”

Risa mengangguk, lidahnya terasa kelu. Neneknya… yang meninggal beberapa tahun sebelum ibunya. Sosok yang selalu ia kenang sebagai wanita tua yang ramah dan penuh kasih sayang. Mungkinkah ada sisi lain yang tidak ia ketahui?

“Dan ‘Kunci’ itu… apa maksudnya?” Kevin menunjuk liontin kunci di leher Risa. “Bukan kunci ini, kan?”

Risa refleks meremas liontinnya. Ini adalah kunci yang selalu ia pakai sejak kecil, hadiah dari ibunya. “Gue nggak tahu.”

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari arah gerbang. Suara mesin yang familiar, diikuti suara ban berkerikil di halaman depan. Risa dan Kevin saling pandang, mata mereka melebar.

“Bibi Lastri,” bisik Risa, kertas itu masih tergenggam erat di tangannya. Wajah ramah Bibi Lastri yang selalu tersenyum melintas di benaknya, disusul dengan pertanyaan mengerikan: Jika ibunya sendiri adalah pelakunya, lalu siapa yang terlibat? Dan kenapa Bibi Lastri harus menjadi walinya?

Kevin dengan cepat menyambar kertas itu dari tangan Risa. “Sembunyiin! Jangan sampai dia tahu kita nemuin ini!”

Mereka bergegas menuju kamar Risa, detak jantung mereka berpacu lebih cepat dari derap langkah Bibi Lastri yang mulai terdengar masuk ke dalam rumah. Kertas lusuh itu kini menjadi beban rahasia yang teramat berat, sebuah petunjuk yang baru saja membuka kotak pandora penuh kebusukan dan bahaya.

Di balik dinding-dinding tua ini, di antara bayangan dan debu, sebuah kebenaran mengerikan sedang menunggu untuk diungkap. Dan Risa… Risa baru saja melangkah masuk ke dalam sarang laba-laba yang akan menjeratnya lebih dalam lagi.

Episodes
1 BAB 1: Rumah Tua, Ingatan Kabur
2 BAB 2: Petunjuk di Balik Cermin
3 BAB 3: Bisikan dari Balik Dinding
4 BAB 4: Arsip Bisu Berbisik
5 BAB 5: Terjebak di Kegelapan Misterius
6 BAB 6: Terjebak di Perpustakaan Terkutuk
7 BAB 7: Petunjuk Hilang, Nyawa Terancam
8 BAB 8: Kilatan Hitam di Balik Senyum
9 BAB 9: Petunjuk Terlarang
10 BAB 10: Dinding Bicara, Rahasia Mengintai
11 BAB 11: Terperangkap Sendiri
12 BAB 12: Luka Baru, Luka Lama
13 BAB 13: Jejak Darah di Ambang Pintu
14 BAB 14: Terjebak di Sarang Penipu
15 BAB 15: Terjebak di Sarang Iblis
16 BAB 16: Terjebak di Kegelapan
17 BAB 17: Jerat Sumur Tua
18 BAB 18: Linggis Berdarah
19 BAB 19: Ancaman dan Bekas Luka
20 BAB 20: Terjebak di Sarang Monster
21 BAB 21: Lorong Gelap, Jejak Ibuku
22 BAB 22: Senyum Iblis dan Pisau Berkilat
23 BAB 23: Jatuh ke Jurang Rahasia
24 BAB 24: Terjebak di Neraka Kegelapan
25 BAB 25: Terjebak di Kegelapan Loteng!
26 BAB 26: Terjebak di Sarang Kematian
27 BAB 27: Terjebak Dua Bayangan
28 BAB 28: Terjebak di Cermin Kematian
29 BAB 29: Terjebak di Sarang Misteri
30 BAB 30: Kekuatan Kunci Terlarang
31 BAB 31: Dinding Retak, Rahasia Terkuak
32 BAB 32: Wajah di Balik Cermin
33 BAB 33: Jeritan Dalam Kekosongan
34 BAB 34: Terjebak dalam Kegelapan
35 BAB 35: Kunci dan Bayangan Ibu
36 BAB 36: Terjebak di Neraka Cermin
37 BAB 37: Pilihan Mustahil
38 BAB 38: Darah & Pengkhianatan
39 BAB 39: Darah dan Janji Terlarang
40 BAB 40: Terjebak di Pusaran Kegelapan
41 BAB 41: Terjebak di Sarang Penipu
42 BAB 42: Kebenaran di Balik Cermin
43 BAB 43: Terbangunnya Kegelapan Abadi
44 BAB 44: Kekuatan Terlarang
45 BAB 45: Cermin Memanggil, Rahasia Terkuak
46 BAB 46: Darah & Dendam Terukir
47 BAB 47: Sang Dalang Terungkap!
48 BAB 48: Makam Tua dan Dalang Lain
49 BAB 49: Petunjuk Terakhir
50 BAB 50: Darah & Tanah Tua
Episodes

Updated 50 Episodes

1
BAB 1: Rumah Tua, Ingatan Kabur
2
BAB 2: Petunjuk di Balik Cermin
3
BAB 3: Bisikan dari Balik Dinding
4
BAB 4: Arsip Bisu Berbisik
5
BAB 5: Terjebak di Kegelapan Misterius
6
BAB 6: Terjebak di Perpustakaan Terkutuk
7
BAB 7: Petunjuk Hilang, Nyawa Terancam
8
BAB 8: Kilatan Hitam di Balik Senyum
9
BAB 9: Petunjuk Terlarang
10
BAB 10: Dinding Bicara, Rahasia Mengintai
11
BAB 11: Terperangkap Sendiri
12
BAB 12: Luka Baru, Luka Lama
13
BAB 13: Jejak Darah di Ambang Pintu
14
BAB 14: Terjebak di Sarang Penipu
15
BAB 15: Terjebak di Sarang Iblis
16
BAB 16: Terjebak di Kegelapan
17
BAB 17: Jerat Sumur Tua
18
BAB 18: Linggis Berdarah
19
BAB 19: Ancaman dan Bekas Luka
20
BAB 20: Terjebak di Sarang Monster
21
BAB 21: Lorong Gelap, Jejak Ibuku
22
BAB 22: Senyum Iblis dan Pisau Berkilat
23
BAB 23: Jatuh ke Jurang Rahasia
24
BAB 24: Terjebak di Neraka Kegelapan
25
BAB 25: Terjebak di Kegelapan Loteng!
26
BAB 26: Terjebak di Sarang Kematian
27
BAB 27: Terjebak Dua Bayangan
28
BAB 28: Terjebak di Cermin Kematian
29
BAB 29: Terjebak di Sarang Misteri
30
BAB 30: Kekuatan Kunci Terlarang
31
BAB 31: Dinding Retak, Rahasia Terkuak
32
BAB 32: Wajah di Balik Cermin
33
BAB 33: Jeritan Dalam Kekosongan
34
BAB 34: Terjebak dalam Kegelapan
35
BAB 35: Kunci dan Bayangan Ibu
36
BAB 36: Terjebak di Neraka Cermin
37
BAB 37: Pilihan Mustahil
38
BAB 38: Darah & Pengkhianatan
39
BAB 39: Darah dan Janji Terlarang
40
BAB 40: Terjebak di Pusaran Kegelapan
41
BAB 41: Terjebak di Sarang Penipu
42
BAB 42: Kebenaran di Balik Cermin
43
BAB 43: Terbangunnya Kegelapan Abadi
44
BAB 44: Kekuatan Terlarang
45
BAB 45: Cermin Memanggil, Rahasia Terkuak
46
BAB 46: Darah & Dendam Terukir
47
BAB 47: Sang Dalang Terungkap!
48
BAB 48: Makam Tua dan Dalang Lain
49
BAB 49: Petunjuk Terakhir
50
BAB 50: Darah & Tanah Tua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!