Aroma tajam kloroform menusuk hidung Risa, memaksa setiap sel dalam tubuhnya untuk menyerah. Jeritan yang tertahan di tenggorokan lenyap, digantikan oleh dengungan memekakkan di telinga. Bayangan hitam yang menjulang di atasnya, dengan dua titik merah menyala yang terasa seperti lubang neraka, kini berputar-putar, semakin kabur, semakin jauh. Kesadarannya ditarik paksa, seolah ada tangan tak kasat mata yang menjambak otaknya ke dalam jurang kegelapan tanpa dasar. Namun, ada satu hal yang menolak untuk pergi—wajah pucat ibunya, transparan seperti kabut, mata kosong yang menyimpan duka tak terhingga, dan bisikan terakhirnya yang seolah berusaha menembus tirai kegelapan, “Jangan… Jangan ke sana…”
Lalu, hening. Gelap. Dingin. Risa tidak tahu berapa lama ia terperangkap dalam ketiadaan. Waktu kehilangan maknanya. Ia hanya melayang, kadang seperti jatuh, kadang seperti ditarik. Otaknya berjuang keras, mencoba meraih kembali sepotong memori, sepotong cahaya. Ia merasa ada sesuatu yang berbisik, memanggil namanya, tapi suaranya terlalu jauh, terlalu samar, seperti bergema dari dunia lain.
Perlahan, sangat perlahan, indranya mulai kembali. Pertama, rasa dingin yang menusuk tulang, diikuti oleh bau tanah lembap bercampur lumut dan karat. Lalu, suara. Suara tetesan air yang jatuh secara ritmis, menciptakan melodi aneh di tengah keheningan yang menyesakkan. Kemudian, sentuhan. Permukaan kasar dan dingin di bawah tubuhnya, seolah ia terbaring di atas batu yang telah lama ditinggalkan. Dan akhirnya, penglihatan.
Kelopak matanya terasa sangat berat, seperti digantungi beban timah. Risa mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha membiasakan diri dengan kegelapan pekat yang menyelimutinya. Hanya ada satu sumber cahaya, sangat redup, berasal dari celah kecil di atas kepalanya, memancarkan seberkas benang perak yang nyaris tidak terlihat. Cukup untuk memberinya gambaran samar tentang di mana ia berada. Dinding-dinding batu yang menjulang tinggi, lumut tebal yang tumbuh di celah-celahnya…
TERKUTUK! Rumah Tua Ini Simpan Rahasia Kematian Ibuku Yang Sebenarnya!
BAB 16: Terjebak di Kegelapan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 50 Episodes
Comments